Home » » Pendidikan Islam dan Kesetaraan Gender

Pendidikan Islam dan Kesetaraan Gender

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun


PENDIDIKAN ISLAM DAN KESETARAAN GENDER, KEDUDUKAN DAN PERAN WANITA MUSLIM DALAM PENDIDIKAN, LEMBAGA PENDIDIKAN KHUSUS WANITA

A.  Pendidikan Islam dan Kesetaraan Gender


Undang-undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan Pendidikan sebagai “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara”.

Konferensi Internasional Pendidikan Islam pertama yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz, Jeddah tahun 1977 menyimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah sesuatu yang terkandung dalam istilah ta’lim, tarbiyah dan ta’dib. Senada dengan kesimpulan tersebut, Azyumardi Azra menyatakan bahwa ketiga istilah tersebut mengandung makna yang amat dalam menyangkut manusia, masyarakat dan lingkungannya, yang dalam hubungan dengan Tuhanny saling berkaitan satu sama lain.

Kesetaraan gender berarti, kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan terhadap laki-laki dan perempuan.

Pada level Internasional, jelas sudah bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dan keduanya memiliki fungsi, hak dan tanggung jawab yang sama.

B.  Kedudukan dan Peran Wanita Muslim dalam Pendidikan
Islam mengecam keras tentang perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan. Salah satu esensi dari ajaran Islam adalah konsep kesejajaran antara laki-laki dan perempuan. Pembenaran dengan mengangkat harkat kaum perempuan telah ditunjukkan oleh rasulullah Muhammad saw., dan bahwa emansipasi sudah tertulis sedemikian rupa dalam Al-Qur’an secara proporsional dan seimbang yang diwahyukan kepada beliau.

Dalam hal pendidikan, sebagaimana diajarkan dalam Islam bahwa menuntut  ilmu itu merupakan kewajiban pribadi bagi setiap musim dan muslimah. Semasa perjuangan Nabi Muhammad saw. mengembangkan ajaran Islam selain dibantu para sahabat, sahabiyat juga turut berperan penting dan memberikan manfaat yang banyak, yang menunjukkan kesejajaran perjuangan di medan pertempuran ataupun dalam pendidikan seperti Siti Khodijah Al-Kubro yang berkorban harta dan jiwanya demi perjuangan Rasulullah, Aisyah dengan kecerdasannya.            


C.  Lembaga Pendidikan Khusus Wanita

Ada beberapa lembaga pendidikan yang diperuntukkan khusus, diantaranya:
  1. Diniyah School Putri; Lembaga pendidikan yang didirikan pada 1 November 1923 oleh Rahmah el-Yunusiah yang dikenal sebagai perempuan di awal abad ke-20 yang secara tegas menyuarakan perlunya kemajuan untuk perempuan.
  2. Sopo Tresno; Lembaga pendidikan yang didirikan oleh Nyai Dahlan pada tahun 1914 dengan tujuan utama ingin memberikan pemahaman ilmu agama dan keterampilan.
  3. Persistri (Persatuan Islam Putri) dan NU (Muslimat NU); Lembaga pendidikan Persistri mengarahkan kegiatannya pada pemberian bimbingan keagamaan bagi anggotanya dan mengadakan sejumlah kegiatan sosial. Pola yang sama juga terlihat pada Lembaga Pendidikan NU yang didirikan pada tahun 1926.
  4. Majelis Ta’lim dengan Radio Attahiriyah; didirikan oleh Suyani Thahir pada tahun 1967 dengan kepemilikan media modern yaitu radio Attahiriyah yang dijadikan sebagai media penyebaran ilmu.
  5. Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT); Tuty Alawiyah bersama tokoh yang lain mendirikan BKMT pada 1 Januari 1981 sebagai sebuah wadah konsultasi dan pembinaan.
  6. Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Persatuan Istri Pegawai Republik Indonesia/ Dharma Wanita; PKK merupakan proyek Menteri Dalam Negeri sedangkan Dharma Wanita dipegang langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden selaku pembina dengan segala harapan perempuan yang berada di dalamnya mendapatkan pembinaan dan pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
  7.  Pesantren, Madrasah, Sekolah Kejuruan dan Keterampilan Khusus Putri. Lahirnya lembaga-lembaga khusus perempuan ini merupakan implikasi dari sebuah konsensus internasional “Human Right” atau beberapa kebijakan pemerintah baik itu sebuah instruksi atau UU atau bahkan yang pernah tercatat dalam GBHN dan pembukaan UUD 1945 tentang persamaan hak dan kedudukan setiap manusia atau warga negara.
Terima Kasih, Semoga bermanfaat.