Home » » Hakikat Metode Resitasi

Hakikat Metode Resitasi

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Metode dalam sebuah proses belajar mengajar salah satu hal yang sangat penting digunakan oleh guru untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Dalam dunia pembelajaran cukup banyak ragam metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan sesuai dengan materi pelajaran. Arti kata bahwa metode dalam pendidikan merupakan suatu bentuk yang melatar belakangi suatu cara yang digunakan dalam menyampaikan materi dalam proses pendidikan.
Definisi metode sebagaimana dikatakan oleh Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar adalah “suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.  Metode disini hanya sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan sehingga metode mengandung implikasi bahwasanya proses penggunaannya harus sistematis dan kondisional. Maka hakekatnya penggunaan metode dalam proses belajar mengajar adalah pelaksanaan sikap hati-hati dalam pekerjaan mendidik dan mengajar. Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan metode dan penggunaan metode mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar. 

Guru-guru yang telah berpengalaman umumnya sependapat, bahwa masalah ini sangat penting bagi guru menyangkut kelancaran tugasnya. Karena itu pelajarilah secara teliti metode-metode mengajar sampai mempunyai keyakinan, kesanggupan dan pengalaman-pengalaman praktis serta mampu menggunakannya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan khusus yang berada dalam daerah perhatian anak.

Dari gambaran di atas, penulis dalam sub bab ini akan membahas tentang hakikat dari metode resitasi dalam pembelajaran Alquran Hadis. Metode Resitasi sebagaimana pendapat Sudirman adalah cara  penyajian bahan  pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar (Sudirman, 1991:141).  Sedangkan Imansyah Alipandie mengatakan metode resitasi adalah cara untuk mengajar yang dilakukan dengan jalan memberi tugas khusus kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa dirumah, diperpustakaan, dilaboratorium, dan hasilnya dipertanggungjawabkan. (Imansyah Alipandie, 1984:91).

Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode resitasi adalah pemberian tugas kepada siswa di luar jadwal sekolah atau di luar jadwal pelajaran yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan. Intinya metode resitasi merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.
Dalam Alquran juga dijelaskan tentang metode resitasi, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qiyamah 17-18:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ . فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ
Artinya:  Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)  membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu… (QS. Al-Qiyamah: 17-18).
Ayat ini menurut Tafsir Maraghi; Makna Qara’nahu: dimaksudkan adalah Jibril membacakannya kepadamu. Fattabi’ qur’anah : maksudnya maka dengarkanlah bacaan dan ulang-ulangilah agar ia mantap dalam dirimu. Ayat tersebut merupakan bentuk pembelajaran Alquran ketika malaikat Jibril memberikan wahyu (Alquran) kepada Nabi Muhammad Saw dengan membacakannya, maka Nabi Muhammad Saw diperintahkan untuk mengulanginya, sehingga Nabi hafal dan bacaan tersebut dapat membekas dalam dirinya. (Ahmad Musthofa al-Maraghi, Jilid 29, 1989: 244)
Dengan demikian pemberian tugas (resitasi) merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut.  Salah satu strategi belajar Alquran Hadis yang baik adalah memperbesar atau memperluas frekuensi pengulangan materi/bahan ajar dengan memperbanyak latihan soal-soal sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat melatih diri mendayagunakan pikiran.

Dalam hal ini dapat penulis mencontohkan resitasi tentang tajwid atau hadits. Si guru memberikan tugas rumah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar tajwid atau hadits-hadits. Soal tersebut dikerjakan di rumah yang sangat berguna bagi anak sebagai bahan untuk mengingat, dan secara otomatis siswa akan terhafal tersediri tugas-tugas tersebut.  Tegasnya, pemberian tugas kepada siswa untuk diselesaikan di rumah dan diperpustakaan sangat cocok, karena dengan tugas ini akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi pelajaran yang baru didapat di sekolah atau sekaligus mencoba pengetahuan yang telah dimilikinya, serta membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran. Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian tentang materi pelajaran.

Di sisi lain dalam suatu kelas, tentunya tingkat kemampuan siswa cukup heterogen, sebagian dapat langsung mengeri pelajaran hanya satu kali penjelasan oleh guru, sebagian dapat mengerti bila diulangi dua atau tiga kali materinya dan sebagian lagi baru dapat mengerti setelah diulangi di rumah atau bahkan tidak dapat mengerti sama sekali.

Umumnya seorang guru mengatur kecepatan mengajarnya sesuai dengan keadaan rata-rata siswa dengan beberapa penyesuaian terhadap yang kurang mampu ataupun yang dianggap pandai. Walaupun demikian kemungkinan sebagian besar siswa cara belajarnya belum sesuai benar, bagi mereka masa belajar di kelas merupakan ajang untuk memulai materi. Pemberian tugas-tugas untuk diselesaikan di rumah, diperpustakaan maupun di tempat lain akan memberikan kesempatan untuk belajar aktif yang sesuai dengan irama kecepatan belajarnya. Hal ini merupakan pengalaman belajar yang sejati bagi individu yang bersangkutan.

Memberikan tugas-tugas kepada siswa berarti memberi kesempatan untuk mempraktekkan dan menguji keterampilan yang baru saja mereka dapatkan dari guru disekolah, serta menghafal dan lebih memperdalam materi pelajaran (Syaiful Sagala; 2011: 217).  Peranan penugasan kepada siswa sangat penting dalam pengajaran, hal ini dijelaskan oleh Pasaribu bahwa metode tugas merupakan suatu aspek dari metode-metode mengajar. Karena tugas-tugas meninjau pelajaran baru, untuk menghafal pelajaran yang sudah diajarkan, untuk latihan-latihan, dengan tugas untuk mengumpulkkan bahan, untuk memecahkan suatu masalah dan seterusnya.(L.L Pasaribu; 1986:108) 
Selanjutnya, metode resitasi ini dianggap efektif menurut Alipandie bila hal-hal berikut ini dapat dilaksanakan yaitu: merumuskan tujuan khusus yang hendak dicapai, tugas yang diberikan harus jelas, waktu yang disediakan untuk menyelasaikan tugas harus cukup (Imansyah Alipandie; 1984:83).  Sudirman mengatakan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pendekatan pelaksanaan metode resitasi yaitu:
Pertama, tugas yang diberikan harus jelas; kedua, tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus jelas; ketiga, Tugas yang diberikan terlebih dahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu memahami tugas itu berupaya untuk menyelesaikannya; keempat, guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas; dan kelima, memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau kurang bergairah mengerjakan tugas. (Sudirman, 1991:145)
Dari uraian di atas, hakikat dari metode resitasi merupakan langkah untuk melatih siswa-siswa dalam mendalami kembali materi yang disajikan oleh guru di luar jam pelajaran sekolah. Selain itu juga dapat memberikan respons terhadap materi atau pelajaran disekolah. Dalam memberikan penugasan guru harus memperhatikan segala aspek sebagaimana telah dipapar oleh pakar untuk menanggulangi sikap negatif dari siswa-siswa. Tegasnya, guru dalam setiap pemberian tugas diharapkan agar mengecek tugas yang diberikan, sudah dikerjakan atau belum, kemudian dievaluasikan untuk memotivasi siswa dan untuk mengetahui hasil kerja siswa. 

Dengan demikian dapat bertanggung jawab terhadap tugasnya, selai itu siswa dapat lebih termotivasi untuk mempelajari materi yang akan disampaikan, khususnya pada materi hadits atau tajwid, sehingga ketika menerima pelajaran sudah siap, dan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Sekian Semoga Bermanfaat...!!!

Referensi:
  • Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung; Alfabeta, 2011),  hal.  217.
  • Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terj. Abubakar, jilid 29, (Semarang: Toha Putra, 1989), hal. 244.
  • Saiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 53
  • Sudirman, dkk,. Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hal. 141
  • Imansyah Alipandie,  Didaktik Metodik Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), hal. 91
  • L.L Pasaribu, Didaktik Metodik, (Bandung: Tarsito, 1986), hal. 108
  • Imansyah Alipandie,  Didaktik… hal. 93.
  • Sudirman, dkk., Ilmu Pendidikan…, hal. 145.