Home » » BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL, BAHASA AGAMA ISLAM, GERAKAN ILLETERASI DAN TRANSLITERASI

BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA INTERNASIONAL, BAHASA AGAMA ISLAM, GERAKAN ILLETERASI DAN TRANSLITERASI

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Review Materi Mata Kuliah Pendidikan Islam


A.  Bahasa Arab sebagai Bahasa Pengantar Internasional
            Secara politis-internasional, bahasa Arab kini sudah diakui sebagai bahasa internasional dan digunakan juga sebagai salah satu bahasa diplomasi resmi di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Beberapa negara non-Arab di dunia seperti Malaysia, bahkan mengakui bahasa Arab di negaranya dan memberikan apresiasi berupa adanya tulisan-tulisan berbahasa Arab di tempat-tempat umum.
            Dalam hal perkembangan situasi ekonomi global, bahasa Arab mengambil tempat dan peran yang sangat penting. Itu ditunjukkan dengan semakin pentingnya kawasan Timur Tengah yang notabene mayoritas masyarakatnya berbahasa Arab sebagai pusat sumber daya energi dan mineral dunia. Berbagai kalangan di dunia yang berkepentingan dan ingin membuka jalur komunikasi dengan negara-negara Timur Tengah, harus berpikir dan mengambil sikap bahwa mereka sangat membutuhkan penguasaan bahasa Arab sebagai pintu masuk komunikasi antar budaya yang kemudian membuka jalan bagi hubungan ekonomi, politik, dan sebagainua; sebagai contoh, Duta Besar Jerman dan Duta Besar Belanda yang sekarang bertugas di Indonesia ternyata mampu berbicara dalam bahasa Arab dengan lancar sekali.

             Berbagai negara termasuk Indonesia menyadari pentingnya kawasan Timur Tengah sebagai mitra, menyadari bahwa banyak pula harapan akan masuknya investasi negara-negara Arab ke negara mereka. Di Indonesia bahkan sudah ada beberapa perwakilan perusahaan dan lembaga keuangan asing yang membuka kantor di Indonesia. Dalam hal ini, proses komunikasi, diplomasi dan negosiasi bilateral tentulah membutuhkan bahasa Arab sebagai medianya yang paling utama.
            Dalam perkembangannya, bahasa Arab telah ditetapkan sebagai Bahasa resmi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 21 Desember 1982 dan telah disepakati bahwa bahasa Arab sebagai bahasa pengantar resmi yang keenam bagi organisasi tersebut yang diberlakukan sejak bulan Januari 1983.
            Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa Arab sebagai bahasa Internasional di Indonesia, yaitu:
1.      Peluang kerja berbasis kemampuan berbahasa Arab
Di Indonesia sudah mulai berdatangan berbagai institusi dan perusahaan Timur Tengah yang membuka cabang dan berinvestasi. Hal itu dengan sendirinya akan membuka kesempatan kerja bagi tenaga ahli yang menguasai bahasa Arab.
2.      Peran pemerintah RI dalam pengembangan pengajaran bahasa Arab (dan bahasa asing lainnya)
Pemerintah RI kini berkomitmen mendorong pengembangan pengajaran dan pembelajaran bahasa asing di lembaga pendidikan yang ada. Itu antara lain ditunjukkan dengan diizinkannya masyarakat Indonesia untuk belajar di sekolah-sekolah asing yang ada di Indonesia. Pemerintah juga mendorong agar para pelajar/ mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa asing yang memadai, seperti cara mensyaratkan standar kemampuan tertentu bagi lulusan sekolah yang akan memasuki dunia kerja.

B.  Bahasa Arab sebagai Bahasa Pengantar Agama Islam
            Bahasa Arab sebagai bahasa resmi Agama Islam sejak zaman Nabi Muhammaad SAW. sampai sekarang. Nabi telah mengambil kebijakan dan pernyataan tentang keharusan penggunaan bahasa Arab bagi umat Islam sebagai mana sabdanya yang diriwayatkan oleh Thabrani yang artinya: Dari Ibnu Abbas ra. berkata ia bahwa Rasul saw. telah berkata; “Saya mencintai Bahasa Arab karena tiga hal: karena saya sendiri orang Arab, Al-Qur’an berbahasa Arab dan bahasanya ahli surga adalah bahasa Arab”.

C. Gerakan Leterasi dan Transletirisasi Bahasa Arab
            Pada masa kekuasaan Bani Umaiyah, terjadilah perubahan sosial yang sangat dramatis dalam tubuh masyarakat Islam. Orang-orang Arab (pendatang) mulai berasimilasi dan bersosialisasi dengan pribumi karena kelompok sosial ini semakin hari semakin bercampur. Pada saat yang bersamaan, penduduk asli (pribumi) pun kemdian merasa butuh dan berkepentingan untuk mempelajarai bahasa Arab.
            Alasan mereka setidaknya untuk dapat saling mengerti dan memahami dalam komunikasi dengan orang-orang Arab yang bahasanya masih asing bagi mereka. Maka, terbentuklah persatuan dua kelompok yang masing-masing memiliki perbedaan bahasa, budaya dan kelas sosial. Semua mengalami masa-masa terjadinya sosialisasi bahasa Arab.
            Pada saat itu, berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa Arab yang fasih Arab (standar) menunjukkan ketinggian martabat sosial dan kelas tersendiri di masyarakat. Oleh karenanya, kalangan pejabat dan penguasa pada saat itu berkepentingan mendidik keturunan mereka dengan bahasa yang memungkinkan mereka mudah meraih kursi kekuasaan. Mereka pun mengirim anak-anak dan generasi-generasi mereka ke wilayah yang dihuni masyarakat Badui di Hijaz untuk mempelajarai dan mendalami bahasa Arab yang masih bersih.
            Pada masa Daulah Umaiyah inilah proses “Arabisasi” berjalan lancar melalui penyebaran Islam. Pada masa ini pula ditata rapi administrasi professional dan dengan sendirinya bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara Islam. Orang-orang pribumi yang ingin bekerja di pemerintahan disyaratkan untuk fasih berbahasa Arab, dan ini merupakan langkah positif yang cukup massif.
            Berbeda dengan zaman Bani Abbasiyah, justru orang Arab Badui-lah yang diundang hadir ke istana untuk mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak dan keluarga para khalifah. Hal itu didasarkan pada kehendak para khalifah untuk memberikan hidup bahagia dan fasilitas istana bagi putra-putri mereka.
            Kecemerlangan bahasa Arab di zaman Khilafah Abbasiyah terjadi pada abad ke empat. Hal itu selain disebabkan terbitnya buku-buku bahasa Arab, juga karena masa itu hampir tidak ada lagi orang yang mempelajari bahasa Arab dengan mengunjungi guru-guru bahasa Arab Badui. Bahasa Arab sudah cukup dipelajari dari buku-buku yang setiap saat bertambah dan dipublikasikan.