Home » » MUHKAM DAN MUTASYABIH

MUHKAM DAN MUTASYABIH

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun


MUHKAM DAN MUTASYABIH
Oleh: Muntadhar

A.    Pendahuluan
     Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang menjadi landasan dasar hukum dan tuntunan hidup bagi orang muslim. Adakalanya orang muslim mendapati suatu masalah, maka mereka akan lari mencari jawabannya didalam Al-Qur’an. Perlu kita ketahui, bahwa ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an adakalanya berbentuk lafadz, ungkapan, dan uslub yang berbeda tetapi artinya tetap satu, sudah jelas maksudnya sehingga tidak menimbulkan kekeliruan bagi orang yang membacanya. Disamping ayat yang sudah jelas tersebut, ada lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum dan samar-samar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya sehingga ayat yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengembalikan kepada makna yang jelas dan tegas.
Dari kedua pernyataan diatas dapat kita simpulkan, bahwa pada kelompok ayat yang pertama, yang maksudnya sudah jelas itulah yang disebut dengan Muhkam. Sedangkan pada kelompok ayat yang kedua yang masih samar-samar maksudnya inilah yang disebut dengan Mutasyabih. Kedua macam ayat inilah yang akan dibahas pada makalah ini serta pandangan para ulama-ulama terhadap ayat muhkam dan mutasyabih.

B.     Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Muhkam secara lughawi berasal dari kata hakama. Kata hukm berarti memutuskan antara dua hal atau lebih perkara, maka hakim adalah orang yang mencegah yang zalim dan memisahkan dua pihak yang sedang bertikai. Muhkam adalah sesuatu yang dikokohkan, jelas, fasih dan membedakan antara yang hak dan batil.[1]
الٓر ۚ كِتَٰبٌ أُحْكِمَتْ ءَايَٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ 
Artinya: Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu, (Q.S.11,  Hud: 1)

Sedangkan mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Syubhah  ialah keadaan di mana satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan di antara keduanya secara konkrit atau abstrak.[2]
  وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَٰبِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ﴿ﺍﻠﺑﻘﺮﺓ: ۲٥ 
Artinya: … dan mereka diberi yang serupa dengannya… (Q.S.2,  Al-Baqarah: 25)

Menurut istilah, para ulama berbeda-beda dalam memberikan pengertian muhkam dan mutasyabih, yakni sebagai berikut:
1.      Amir Aziz dinyatakan sebagai pendapat Ahlu Sunnah, Muhkam atau muhkamat adalah ayat yang bisa dilihat pesannya dengan gamblang atau dengan melalui takwil, karena ayat yang perlu ditakwil itu mengandung pengertian lebih dari satu kemungkinan. Adapun mutasyabih adalah ayat-ayat yang pengertian pastinya hanya diketahui oleh Allah. Misalnya saat datangnya hari kiamat dan makna huruf tahajji; yakni huruf-huruf yang terdapat pada awal surah seperti Qaf, Alif Lam Mim dan lain-lain.[3]
2.      Imam Ath-Thibi dalam Abdul Djalal mengatakan, lafal muhkam ialah lafal yang jelas maknanya, sehingga tidak mengakibatkan kemusykilan/kesulitan arti. Sebab, lafal muhkam itu diambil dari lafal ihkam (Ma’khuudzul Ihkaami) yang berarti baik/bagus. Sedangkan lafal yang mutasyabih ialah sebaliknya, yakni yang sulit dipahami, sehingga mengakibatkan kemuskilan/kesukaran.[4]
3.      Muhkam ialah ayat-ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun melalui takwil. Mutasyabih ialah ayat-ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya, seperti datang hari kiamat, keluarnya dajjal, huruf-huruf yang terputus-putus di awal-awal surat (fawatih al-suwar) pendapat ini dibangsakan kepada ahli sunah sebagai pendapat yang terpilih di kalangan mereka.[5]

Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa muhkam adalah ayat-ayat yang bermakna jelas. Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang masih diperselisihkan tentang penafsirannya dan penafsiran ayat yang sesungguhnya hanya Allah Yang Tahu. Berikut beberapa contoh ayat yang muhkam dan mutasyabih:
Ayat yang Muhkam:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  …﴿ﺍﻠﻤﺎﺌﺪﺓ: ٣﴾
Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, … (Q.S. 5,  Al-Maidah: 3)

…. وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ﴿ﺍﻠﺑﻘﺮﺓ: ۲۷۵﴾ 
Artinya:. …. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….. (Q.S.2,  Al-Baqarah: 275)

Sedangkan Ayat yang Mutasyabih, diantaranya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيْهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴿ﺍﻠﻔﺘﺢ: ۱۰﴾  
Artinya: ... tangan Allah di atas tangan mereka… (Q.S. 48,  Al-Fath: 10)
ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ ﴿ﻂﻪ : ٥﴾     
Artinya: (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy (Q.S. 20,  Thaha: 5)
وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ لَهُ ٱلْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (ﺍﻠﻘﺼﺺ: ٨٨﴾
Artinya: …segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya…(Q.S.28. Al-Qashash: 88)

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat mukam dalam Al-Qur’an dengan ayat-ayat nasikh, tentang halal, haram, hudud, janji, kewajiban dan ancaman. Sementara ayat mustasyabih para ulama mencontohkannya dengan ayat-ayat mansukh, dan asma Allah dan sifat-sifatNya.[6]

C.    Sebab-sebab adanya Ayat Muhkam dan Mutasyabih
Ada beberapa sebab mengapa ada istilah ayat-ayat muhkamt dan mutasyabihat yaitu: Secara tegas dapat dikatakan bahwa sebab adanya ayat muhkamah dan mutasyabihan itu karena Allah menjadikanya demikian itu, Allah membedakan dan memisahkan ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih, dan menjadikan ayat muhkam sebagai bandingan ayat yang mutasyabihat. Sebagaimana firman Allah SWT:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ﴿ﺍﻞﻋﻤﺮﺍﻦ: ۷﴾
Artinya: Dia-lah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat… (QS.3,  Ali Imran: 7)
Menurut kebanyakan ulama, sebab adanya ayat-ayat muhkamat itu sudah jelas, yakni sebagaimana sudah ditegaskan dalam surah Ali Imran ayat 7 di atas. Sedang sebab adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an ialah karena ada kesamaran maksud syara’ dalam ayat-ayatNya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan dengan arti yang lain, disebabkan karena bisa ditakwilkan dengan bermacam-macam dan petunjuk pun tidak tegas, karena sebagian besar merupakan hal-hal yang pengetahuannya hanya dimonopoli oleh Allah SWT saja.[7]

D.    Pandangan Ulama tentang ayat Muhkam dan Mutasyabih
Sebagaimana terjadi perbedaan pendapat tentang defenisi muhkam dan mutasyabih dalam maknanya secara terminologi, perbedaan pendapat juga terjadi dalam masalah ayat yang mutasyabih. Sumber perbedaan pendapat itu berpangkal pada masalah waqaf dalam  ayat berikut: 
 هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ﴿ﺍﻞﻋﻤﺮﺍﻦ: ۷﴾
Apakah kedudukan lafazh وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ ini berkedudukan sebagai mubtada’ yang  khabarnya adalah يَقُولُونَ dengan wawu ditentukan sebagai sebagai huruf isti’naf  (permulaan) dan waqaf dilakukan pada lafazhإِلا اللَّهُ   وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ    ataukah ia ma’thuf. Sedang lafazh  يَقُولُونَ menjadi hal dan waqafnya pada lafazh  وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ .maDalam hal ini ada terdapat dua pendapat, yakni:
Pendapat pertama, mengatakan “isti’naf (permulaan)”. Pendapat ini didukung oleh sejumlah tokoh seperti Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, sejumlah sahabat tabi’in dan lainnya. Mereka beralasan antara lain dengan keterangan yang diberikan oleh Al-Hakim dalam mustadrak-Nya, bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca; “wa ma ya’lamu ta’wilahu illa Allah, wa ar-rasikhuna fil ‘ilmi yaquluna amanna bihi.” Qira’at Ibnu Mas’ud juga dengan ayat itu sendiri menyatakan celaan terhadap orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dan menyifatinya sebagai orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan dan berusaha menimbulkan fitnah.[8]
Pendapat kedua, mengatakan bahwa “wawu” sebagai huruf ‘athaf. Ini dipilih oleh segolongan ulama lain yang dipelopori oleh Mujahid. Diriwayatkan dari Mujahid, katanya, “Saya telah membacakan mushaf kepada Ibnu Abbas mulai dari Al-Fatihah sampai tamat. Saya pelajari sampai paham setiap ayatnya dan saya tanyakan kepadanya tentang tafsirannya.” Pendapat ini dipilih oleh Nawawi dalam syarah muslim ia menegaskan inilah pendapat yang paling shahih, karena tidak mungkin Allah menyeru hamba-hambaNya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya.[9]
Merujuk pada makna takwil, maka akan jelaslah bahwa antara kedua pendapat di atas tidak terdapat pertentangan, karena lafazh “takwil” digunakan untuk menunjukkan tiga makna:
1.    Memalingkan sebuah lafazh dari makna yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada suatu dalil yang menghendakinya. Inilah pengertian takwil yang dimaksudkan oleh mayoritas ulama muta’akhirin.
2. Takwil dengan makna tafsir (menerangkan, menjelaskan), yaitu pembicaraan untuk menafsirkan lafazh-lafazh agar maknanya dapat dipahami.
3.    Takwil adalah pembicaraan tentang substansi (hakekat) suatu lafazh. Maka, takwil tentang zat dan sifat-sifat Allah ialah tentang hakekat zatNya itu sendiri yang kudus dan hakekat sifat-sifatNya. Dan takwil tentang hari kemudian yang diberitakan Allah adalah substansi yang ada pada hari kemudian itu sendiri.[10]

Golongan yang berpendapat bahwa waqaf dilakukan pada lafazh “Wama ya’lamu ta’wilahu illallah” dan menjadikan “War-rasikhuna fil “ilmi” sebagai isti’naf mengatakan, bahwa takwil dalam ayat ini ialah takwil dengan pengertian yang ketiga, yakni hakekat yang dimaksud dari sesuatu perkataan. Karena itu hakekat zat Allah, esensi-Nya, makna nama dan sifat-Nya serta hakekat hari kemudian tidak ada yang mengetahui selain Allah. Sebaliknya, golongan yang mengatakan waqaf pada lafazh ”War-rasikhuna fil ‘ilmi” dengan menjadikan “wawu”sebagai huruf athaf, bukan isti’naf. Memaknai kata takwil tersebut dengan makna yang kedua yakni tafsir. Sebagaimana dikemukakan Mujahid (seorang ahli tafsir terkemuka). Mengenai Mujahid ini Ats-Tsauri berkata, Jika dikatakan ia mengetahui, ia mengetahui yang mutasyabih, maksudnya ialah bahwa ia mengetahui tafsirannya.
Menelusuri pendapat-pendapat ini jelaslah bahwa pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut. Dan masalahnya hanya berkisar pada arti takwil. Menyikapi perbedaan pandangan para ulama terhadap ayat muhkam dan mutasyabih, maka dalam makalah ini dikelompokkan menjadi 2 golongan mazhab.
1.      Mazhab Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Karena mereka menyerahkan urusan mengetahui hakikat maksud ayat-ayat ini kepada Allah, mereka disebut pula mazhab Mufawwidah atau Tafwid  (menyerahkan kepada Allah). Ketika Imam Malik ditanya tentang makna istiwa`, dia berkata::
ﺍﻻﺴﺘﻮﺍﺀ ﻤﻌﻠﻮﻢ ﻮﺍﻠﻜﻴﻒ ﻤﺠﻬﻮﻝ ﻮﺍﻠﺘﺴﺎﺆﻝ ﻋﻨﻪ ﺒﺪﻋﺔ ﻮﺃﻈﻨﻚ ﺮﺠﻝ ﺴﻮﺀ ﺃﺨﺭﺠﻮﻩ ﻋﻨﻰ.
Artinya: Istiwa’ itu ma’lum, caranya tidak diketahui (majhul), menanyakan hal itu bid’ah (mengada-ada), saya duga engkau ini orang jahat. Keluarkanlah dia ini dari majelisku.[11]
Maksudnya, makna lahir dari kata istiwa (duduk/bertahta) jelas diketahui oleh setiap orang. Akan tetapi, pengertian yang demikian secara pasti bukan dimaksudkan oleh ayat. Sebab, pengertian yang demikian membawa kepada asyabih (penyerupaan Tuhan dengan sesuatu) yang mustahil bagi Allah. karena itu, bagaimana cara istiwa’ di sini Allah tidak di ketahui. Selanjutnya, mempertanyakannya untuk mengetahui maksud yang sebenarnya menurut syari’at dipandang bid’ah (mengada-ada).
Jadi, ulama salaf dalam hal ini menyatakan mensucikan Allah dari kenyataan-kenyataan yang mustahil ini dan mengimani apa yang diterangkan Al-Qur’an, serta menyerahkan urusan hakikatnya kepada Allah sendiri.

2.      Mazhab Khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang laik dengan zat Allah, karena itu mereka disebut pula Muawwilah atau Mazhab Takwil. Mereka memaknai istiwa` dengan ketinggian yang maknawi, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. Kedatangan Allah diartikan dengan kedatangan perintahNya, Allah berada di atas hamba-Nya dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada di suatu tempat, “janbillah” Allah memaknakan dengan hak Allah, mereka juga memaknakan wajah dengan Dzat, “ain” memaknakan dengan inayat, “tangan” dengan kekuasaan, dan “diri” dengan siksa.[12] Demikian sistem penafsiran ayat-ayat mutasyabihat yang ditempuh oleh ulama Khalaf.
Mereka juga berkata:
ﻻﻴﺮﺍﺪ ﻤﻦﻫﺬﻩ ﺍﻷﻠﻔﺎﻇ ﺇﻻ ﻻﺯﻤﻫﺎ
Artinya: Tiada dikehendaki dari lafal-lafal ini, melainkan kelazimannya.[13]
Alasan ulama bermazhab khalaf berani menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat, menurut mereka, suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak bermakna. Selama mungkin mentakwil kalam Allah dengan makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya. Kelompok ini, selain didukung oleh argumen akal (aqli), mereka juga mengemukakan dalil naqli berupa atsar sahabat.
Disamping dua mazhab di atas, ternyata Ar-Raghib Al-Ashfahani mengambil jalan tengah dalam menghadapi masalah ini. Beliau membaginya dari segi kemungkinan mengetahui maknanya kepada tiga bagian:
a.       Bagian yang tak ada jalan mengetahui, seperti waktu terjadi kiamat, keluarnya binatang dari bumi dan lain sebagainya.
b.      Bagian manusia menemukan sebab-sebab mengetahuinya, seperti lafadz-lafadz yang ganjil dari hokum-hukum yang sulit/rumit di fahami.
c.       Bagian yang terletak antara dua urusan itu yang hanya di ketahui oleh sebagian ulama’  yang tinggi ilmunya saja. Inilah yang di isyaratkan oleh nabi dengan sabdanya kepada ibnu abbas” Allahumma faqqihhum fiddini waallamahutta’wila Artinya: wahai tuhanku jadikanlah dia seorang yang fikih dalam agama dan ajarkanlah takwil kepadanya.[14]
Pendapat Al-Ashfahani ini merupakan pendapat seimbang, tidak ifrath (berlebih-lebihan) dan tidak tafrith (meremehkan). Dzat Allah dan hakikat-hakikat sifatNya tidak ada yang mengetahuinya selain dari Allah sendiri.
Adapun penulis makalah ini sendiri lebih sepakat dengan mazhab kedua, mazhab khalaf.  Karena pendapat mazhab khalaf lebih dapat memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang, dengan syarat penakwilan harus di lakukan oleh orang-orang yang benar-benar tahu isi Al-Qur’an, atau dalam bahasa Al-Qur’an adalah ar-rasikhuna fil ‘ilmi.
Sejalan dengan ini, para ulama menyebutkan bahwa mazhab salaf dikatakan lebih aman karena tidak dikhawatirkan jatuh ke dalam penafsiran dan penakwilan yang menurut Tuhan salah. Mazhab khalaf dikatakan lebih selamat karena dapat mempertahankan pendapatnya dengan argumen aqli.
Dalam menafsirkan atau mentakwilkan suatu ayat tentunya manusia punya kelemahan-kelemahan dalam menemukan hakikat-hakikat itu, maka ketidakmampuan manusia tersebut semberi mengucapkan:
قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ ﴿ﺍﻠﺑﻘﺮﺓ: ۳۲  
Artinya: Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S.2,  Al-Baqarah: 32)

E.     Hikmah Turunnya Ayat Muhkam dan Mutasyabih
Ada pepatah yang mengatakan, ambillah hikmah dari manapun keluar. Begitu pun dalam masalah Muhkam  dan Mutasyabih. Dalam makalah ini hikmah diturunkannya ayat muhkam dan mutasyabih ada tiga;
1.      Andai kata seluruh ayat Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat Muhkamat, niscaya akan sirnalah ujian keimanan dan amal lantaran pengertian ayat yang jelas.
2.      Seandainya seluruh ayat Al-Qur’an Mutasyabihat, niscaya akan lenyaplah kedudukannya sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia orang yang benar keimanannya yakin bahwa Al-Qur’an seluruhnya dari sis Allah, segala yang datang dari sisi Allah pasti hak dan tidak mungkin bercampur dengan kebatilan. Firman Allah dalam surat fussilat ayat 42 yang berbunyi:
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖتَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
Artinya: Tidak akan datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Q.S. 41, Fussilat: 42)
3.      Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat Muhkamat dan ayat-ayat Mutasyabihat, menjadi motivasi bagi umat Islam untuk teus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga mereka akan terhindar dari taqlid, bersedia membaca Al-Qur’an dengan khusyu’ sambil merenung dan berfikir.[15]
Adanya Muhkam  dan Mutasyabih sebenarnya merupakan ke-mahabijaksanaan-Nya Allah, bahwa Al-Qur’an ditujukan kepada semua kalangan, karena bagi orang yang mengetahui berbagai tabiat manusia, di antara mereka ada yang senang terhadap bentuk lahiriyah dan telah merasa cukup dengan bentuk literal suatu nash. Ada yang memberikan perhatian kepada spritualitas suatu nash, dan tidak merasa cukup dengan bentuk lahiriyahnya saja, sehingga ada orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan ada orang yang melakukan pentakwilan, ada manusia intelek dan manusia spiritual.
Dengan demikian, salah satu hikmah ayat muhkam adalah memberi rahmat pada manusia, khususnya orang yang bahasa Arabnya lemah, memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya juga memudahkan mereka menghayati makna maksudnya agar mudah melaksanakan ajaran-ajarannya. Sedangkan hikmah dari ayat-ayat mutasyabihat salah satunya adalah menambah pahala usaha umat manusia, dengan bertambah sukarnya memahami ayat-ayat mutasyabihat sebab semakin sukar pekerjaan seseorang maka akan semakin besar jugalah pahalanya.
Kalau hikmah ini kita kaitkan dengan dunia pendidikan, setidaknya Allah telah mengajarkan ”ajaran” Muhkam dan Mutasyabih kepada manusia agar kita mengakui adanya perbedaan karakter pada setiap individu, sehingga kita harus menghargainya. Kalau kita sebagai guru, sudah sepatutnya meneladani-Nya untuk kita aplikasikan dalam menyampaikan pelajaran yang dapat diterima oleh peserta didik yang berbeda-beda dalam kecerdasan dan karakter.

F.     Kesimpulan
Adapun yang dapat penulis simpulkan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Muhkam adalah ayat yang sudah jelas maksudnya ketika kita membacanya, sehingga tidak menimbulkan keraguan dan memerlukan pentakwilan. Sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang perlu ditakwilkan, dan setelah ditakwilkan baru kita dapat memahami tentang maksud ayat-ayat itu.
2.      Pendapat ulama tentang adanya ayat muhkam dan mutasyibah antara lain: menurut madzhab ulama salaf adalah orang-orang yang mempercayai dan meyakini serta menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Sedangkan madzhab khalaf adalah ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang lain dengan dzat Allah dan mereka pula disebut madzhab takwil.
3.      Kita dapat mengatakan bahwa semua ayat al-Qur’an itu Muhkam. Jika maksud Muhkam adalah kuat dan kokoh. Tetapi kita dapat pula mengatakan bahwa semua ayat itu adalah Mutasyabih, jika maksud Mutasyabih itu adalah kesamaan ayat-ayatnya dalam hal Balaghah dan I’jaznya.




DAFTAR PUSTAKA


Abdul Djalal H.A, Ulumul Qur'an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2000
Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i. Ulumul Qur’an I. Bandung: Pustaka setia, 2000.
Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Qur'an, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 2003.
Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, terj. Mifdhol Abdurrahman, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005.
Tgk. Muhammad Hasbi  Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ilmu pokok dalam menafsirkan al-Qur’an, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002.




[1]Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 2003), h. 70.
[2]Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, terj. Mifdhol Abdurrahman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), h. 298.
[3]Kamaluddin Marzuki, Ulum Al-Qur'an, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 114.
[4]Abdul Djalal H.A, Ulumul Qur'an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000),  h. 241-242 .
[5]Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i. Ulumul Qur’an I. ( Bandung: Pustaka setia, 2000), h. 201-203.
[6]Al-Qaththan, Pengantar Studi..., h. 266.
[7]Djalal, Ulumul…, h. 243-244.
[8]Al-Qaththan, Pengantar Studi..., h. 267.
[9]Ibid., h. 268.
[10]Ibid.,
[11]Tgk. Muhammad Hasbi  Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ilmu pokok dalam menafsirkan al-Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002), h. 174.
[12]Ibid.,
[13]Ibid. hal. 175
[14]Ibid. hal. 171-172. 
[15]Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan, h. 74-75.