Home » » Penelitian Kepustakaan

Penelitian Kepustakaan

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

PENELITIAN KEPUSTAKAAN
A. Pendahuluan.
Salah satu bentuk penelitian yang akhir-akhir ini mulai tidak diminati oleh para sarjanawan adalah studi kepustakaan. Yakni penelitian terhadap naskah-naskah yang menarik minat kajian peneliti yang muncul dari pengamatan perbandingan bentuk penelitian berupa thesis berupa penelitian lapangan.
Kegiatan penelitian hampir semuanya selalu bertolak dari ilmu pengetahuan yang sudah ada sebelumnya. Pada semuanya ilmu pengetahuan, ilmuan selalu memulai penelitiannya dengan cara mengutip apa yang sudah dikemukakan ahli lain. Penelitian memanfaatkan teori-teori yang ada di buku atau hasil penelitian lain untuk kepentingan penelitian.[1]
Sekilas memang mengherankan bagaimana studi kepustakaan tidak diminati dibanding penelitian lapangan, karena pada umumnya karya-karya studi pustaka jauh bertahan lama kevalidannya dibandingkan dengan penelitian lapangan. Hal ini dikarenakan kondisi masyarakat yang cepat berubah hingga kesimpulan-kesimpulan penelitian lapangan pun tidak valid lagi untuk dipegang.
Akan tetapi memang ada kendala-kendala dalam melakukan studi pustaka yang sangat sulit dipecahkan, yakni terbatasnya sumber informasi berupa buku, dokumen, naskah dan sebagainya.
Makalah ini akan menguraikan tentang studi kepustakaan yang terdiri dari pengertian studi naskah, penelitian humaniora dan pendekatan kewahyuan.

A.     Penelitian Kepustakaan.

Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua ilmu pengetahuan, ilmuan selalu memulai penelitian dengan cara menggali apa-apa yang sudah dikemukakan oleh ahli-ahli lain. Penelitian memanfaatkan penemuan-penemuan tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Hasil penelitian yang sudah berhasil memperkaya khasanah pengetahuan yang ada biasanya dilaporkan dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian.[2]
Ketika peneliti memulai membuat rencana penelitian ia tidak bisa menghindari dan harus mempelajari penemuan-penemuan tersebut dengan mendalam, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi hal-hal yang telah ada untuk mengetahui apa yang ada dan belum ada. Kegiatan mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikassi pengetahuan itulah yang biasa dikenal dengan istilah: mengkaji bahan pustaka atau hanya disingkat dengan kajian pustaka saja atau telaah pustaka (literature review).[3]
Kata pustaka itu sendiri berarti; kitab, buku, buku primbon.[4] Sedangkan jika menggunakan awalan “ke” dan akhiran “an” dengan pengertian kepustakaan, maka kepustakaan berarti; Buku-buku kesastraan; kesastraan atau daftar kitab yang dipakai sebagai sumber acuan untuk mengarang dan sebagainya; bibliografi; semua buku atau karangan dan tulisan mengenai suatu bidang disiplin ilmu, topik, gejala atau kejadian.[5]
Seorang peneliti yang mendalami, mencermati, menelaah dan mengindentifkasi pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku-buku referensi atau hasil penelitian lain) untuk menunjang penelitiannya, disebut mengkaji bahan pustaka.[6]
Kajian mengenai studi kepustakaan tersebut kadang-kadang terkesan bagi para peneliti yang belum berpengalaman dalam bidang itu tampaknya cenderung mengabaikan pendekatan ini dalam memilih dan memilah katagori yang menjadi stressing dalam menentukan tema dan ide yang terserap dari literatur yang tumpuan kajian. Pada prinsipnya verifikasi masalah tidak dapat dipisahkan dari hasil kajian kepustakaan, sebab ini lebih mempertajam masalah walaupun masalah itu bersumber dari data itu sendiri.Berdasarkan gejala yang timbul ketika kita melihat konsep apapun namanya kita tetap berpegang pada literatur kepustakaan, agar permasalahan yang diangkat tidak lari dari ide yang akan disampaikan. Kesemua itu Studi kepustakaan merupakan langkah yang efesien.
Iqbal menyebutkan dalam studi kepustakaan ini, kepustakaan yang digunakan harus memenuhi minimal tiga kriteria, agar studi kepustakaan yang dilakukan dikatakan baik. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagai berikut[7]:
1.      Relevansi.
               Relevansi berkenaan dengan kecocokan antara hal-hal (variabel-variabel) yang diteliti dengan teori-teori yang dikemukakan. Makin cocok/sesuai antara hal-hal (variabel-variabel) yang diteliti dengan teori-teori yang dikemukakan, makin baik studi kepustakaan.
2.      Kelengkapan.
               Kelengkapan berkenaan dengan banyaknya kepustakaan yang dibaca. Makin banyak kepustakaan yang dibaca atau dikemukakan, makin baik studi kepustakaan tersebut.
3.      Kemutakhiran.
Kemutakhiran berkenaan dengan dimensi waktu (baru atau lama) kepustakaan yang digunakan. Makin baru kepustakaan yang digunakan, makin mutakhir kepustakaan tersebut, makin baik studi kepustakaan.
Studi Kepustakaan dalam kajian ini meliputi studi naskah, penelitian humaniora dan pendekatan kewahyuan.

B. Pengertian Studi Naskah

Naskah itu sendiri berarti terdiri dari beberapa kata yang terkumpul dan lambat laut berbentuk lembaran dan terakhir berupa kumpulan salinan yang sudah diakui kredibilitasnya. Susunan naskah tersebut kerap  menjadi persoalan yang menarik untuk untuk dikaji. 
Termasuk dalam kategori naskah  di sini adalah buku dan majalah ilmiah, disertasi, thesis, riwayat hidup, lembaran pemerintah yang semuanya bisa didapatkan di perpustakaan. Maka aktivitas utama dalam studi kepustakaan adalah membaca.[8]
Sumber lainnya adalah dokumen pribadi yaitu tulisan tentang diri seseorang yang ditulisnya sendiri, baik berupa surat, buku harian, cerita, puisi, lagu dan lain sebagainya yang relevan dengan penelitian.
Dokumen dan record digunakan untuk keperluan penelitian, karena alasan-alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan seperti berikut ini.[9]
1)     Dokumen dan record digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
2)     Berguna sebagai bukti untuk sesuatu pengujian.
3)     Keduanya berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai denga konteks, lahir dan berada dalam konteks.
4)     Record relative murah dan tidak sukar diperoleh, tetapi dokumen harus dicari dan ditemukan.
5)     Keduanya tidak reaktif sehingga sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.
6)     Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Semetara Iqbal mengemukakan bahwa studi kepustakaan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui jenis pustaka, yang dibutuhkan yaitu:
a.      Berdasarkan bentuk pustaka, dibedakan  atas:
-   Sumber tertulis, seperti buku pengetahuan, surat kabar, majalah, dan sebagainya;
-   Sumber tidak tertulis, seperti film, slide, manuskrip, relief, dan sebagainya.
b.      Berdasarkan isi pustaka, dibedakan atas:
-   Sumber primer, merupakan sumber bahan yang dikemukakan sendiri oleh orang/pihak pada waktu terjadinya peristiwa/ mengalami peristiwa sendiri, seperti buku harian, notulen rapat, dan sebagainya.
-   Sumber sekunder, merupakan sumber bahan kajian yang dikemukakan oleh orang atau pihak yang hadir pada saat terjadinya peristiwa / tidak mengalami langsung peristiwa itu sendiri, seperti buku teks.[10] 
2. Mengkaji dan mengumpulkan bahan pustaka
               Pengkajian dan pengumpulan bahan pustaka biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu disebut kartu bibliografi atau kartu kutipan. Kartu biasanya terbuat dari kertas manila warna-warni yang berukuran kira-kira 10 x 15 cm. Pengelompokan dilakukan sesuai dengan jenis warna. Pengkajian dan pengumpulan hasil kajian dalam kartu  bibliografi minimal harus mencakup:[11]
-         Nama variabel atau pokok masalah,
-         Nama pengarang atau pencetus ide tentang pokok masalah,
-         Nama sumber di mana dimuat penjelasan tentang variabel atau pokok  masalah
-         Tahun yang menunjukkan kepada waktu sumber tersebut dibuat atau diterbitkan,
-         Nama instansi (lembaga, unit, penerbit dan sebagainya) yang bertanggung  jawab atas penerbitan sumber kajian,
-         Nama kota tempat penulisan atau penerbitan sumber kajian,
-         Isi penjelasan tentang variabel atau pokok masalah.
3. Menyajikan studi kepustakaan
               Penyajian studi kepustakaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
-         Cara kutipan langsung, yaitu dalam menuangkan hasil kajian, peneliti memindahkan hasil karya orang lain masih dalam bentuk asli, baik utuh maupun sebagian.
-         Cara kutipan tidak langsung, yaitu jika dalam menuangkan hasil kajian,  peneliti terlebih dahulu meramu atau mengambil intisari dari beberapa sumber kajian.[12]
               Seperti telah disebut dimuka, sebahagian besar kegiatan dalam keseluruhan proses penelitian adalah membaca, dan membaca itu hampir sekuruhnya terjadi pada langkah penelaahan pustaka ini.[13]
C. Penelitian Humaniora
Pendekatan studi humaniora merupakan suatu sistem atau metode dalam melihat bagaimana tingkat kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dan berintegrasi antar sesamanya.
               Dalam perspektif sosial, humaniora dikaji sebagai suplemen untuk mendalami ilmu-ilmu keIslaman dan untuk memahami nash ajaran Islam. Ini sudah kerap terjadi, namun prakteknya harus diperbaiki.
D. Pendekatan Kewahyuan
Agama merupakan hal paling asasi bagi manusia. Ia tidak hanya dipandang sebagai aturan Tuhan untuk manusia, tetapi juga merupakan sistem sosial dalam suatu masyarakat.
Dalam kenyataannya, agama tidak hanya satu. Dalam sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia, misalnya, agama yang dianut seseorang atau sekelompok orang dihadapkan pada klaim kebenaran agama lain, tidak jarang timbul benturan, perselisihan, bahkan peperangan yang bernuansa agama.
               Hal itu merupakan konsekuensi logis memahami agama hanya berdasarkan pendekatan teologis. Oleh karena itu, agar fenomena keberagaman manusia itu dapat melahirkan kedamaian dan persaudaraan, seyogyanya setiap penganut agama memahami keyakinan agama yang lain melalui pendekatan sosiologis.[14]
Dalam bukunya Sosiologi Agama, Dadang menyorot tentang metodologi penelitian sosiologi agama. Agama memang tidak luput dari penelitian. Para ahli melakukan penelitian terhadap berbagai aspek dari agama, baik aspek ide maupun aspek perwujudan dari kenyataan, dari masalah keyakinan dan ajaran yang dimiliki oleh suatu agama sampai pengaruh agama pada kehidupan masyarakat pemeluknya. Sekurang-kurangnya ada dua pendekatan penting dalam penelitian agama.
Dengan kata lain percaya demi sumber pengetahuan tersebut, yakni Tuhan YME yang dengan kewibawaanNya telah menimbulkan keyakinan bahwa pengetahuan yang disampaikanNya itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi.[15]
Pertama, pendekatan teologis, yaitu pendekatan pendekatan  kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti. Pendekatan ini biasanya dilakukan untuk kepentingan agama yang diyakini si peneliti atau penelitian terhadap suatu agama oleh pemeluk agama itu sendiri untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya itu. Kedua, keilmuan, yaitu yang memakai metodologi ilmiah, penelitian yang memakai aturan-aturan yang lazim dalam penelitian keilmuan. Pendekatan ini memakai metodologi tertentu yang diakui oleh dunia keilmuan, sistematis atau runtut dalam cara kerjanya, empiris, dan objektif.[16]
Jadi pendekatan kewahyuan adalah studi yang bertujuan untuk membenarkan keyakinan penelitinya menurut keyakinannya. Pendekatan ini merupakan studi Islam pada tataran wahyu dan tataran pemikiran. Pendekatan kewahyuan ini dapat dicontohkan dengan penelitian yang bertujuan untuk menguatkan sebuah ajaran kelompok yang dalam penelitiannya ia bersumber kepada Alquran al-Karim atau sunnah dan sumber lain yang diakui sebagai sumber ajaran agama Islam.
Sebenarnya pendekatan kewahyuan ini, meski sangat diminati oleh para sarjanawan, tetap saja sangat sulit untuk mendapatkan literatur yang sistematis dan memadai tentang pendekatan ini. sepanjang pencarian, kami hanya mengetahui dua tokoh saja yang pernah menulis tentang pendekatan kewahyuan yakni Prof. DR. Nur Ahmad Fadhil Lubis[17] dan Prof. DR. Dadang Kahmad.
E. Teknik Mempelajari Dokumen melalui Analisis Konten
               Untuk memanfaatkan dokumen yang padat isi biasanya digunakan teknik tertentu. Teknik yang paling umum digunakan ialah content analysis atau di sini dinamakan kajian isi.[18]
Untuk menggunakan kajian isi, seseorang hendaknya mengikuti kursus dan latihan khusus yang diadakan untuk itu. Oleh karena itu, apa yang diuraikan di sini barulah merupakan prinsip-prinsip dasar, dan apabila seseorang tertarik untuk mendalaminya, sebaiknya ia mengikuti latihan khusus tersebut.
Guba dan lincoln seterusnya menguraikan prinsip dasar kajian isi seperti yang dikemukakan di sini. Ciri-ciri kajian isi ada lima.[19]
Pertama, dan yang terpenting ialah proses mengikuti aturan. Setiap langkah dilakukan atas dasar aturan dan prosedur yang disusun secara ekplisit. Aturan itu harus berasal dari kriteria yang ditentukan dan prosedur yang ditetapkan. Analisis berikutnya yang akan mengadakan pengkajian harus menggunakan aturan yang sama, prosedur yang sama, dan criteria yang juga sama sehingga dapat menarik kesimpulan yang sama pula.
      Kedua, kajian isi adalah proses sistematis.[20] Hal ini berarti dalam rangka pembentukan kategori dilakukan atas dasar aturan yang taat asas. Jadi, apabila prosedur yang sama, terlepas dari apakah menurut analisis atau tidak.
      Ketiga, kajian isi merupakan proses yang diarahkan untuk menggeneralisasi. Pada masa yang akan datang, penemuan hendaknya memerankan sesuatu yang relevan dan teoretis. Atau dalam pengertian penelitian ilmiah, penemuan itu harus mendorong pengembangan pandangan yang berkaitan dengan konteks dan dilakukan atas dasar contoh selain dari contoh yang telah dilakukan atas dasar dokumen yang ada.
      Keempat, kajian isi mempersoalkan isi yang termanifestasikan. Jadi, jika peneliti akan menarik kesimpulan harus berdasarkan isi suatu dokumen yang termanifestasikan.
               Kelima, kajian isi menekankan analisis secara kuantitatif, namun hal itu dapat pula dilakukan bersama analisis kualitatif.[21]
Kategorisasi merupakan langkah yang penting sekali dan harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Ada lima aturan yang ada, yaitu: pertama, kategori harus berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Kedua, kategori itu haru tuntas, artinya setiap data dapat ditempatkan pada salah satu kategorinya. Ketiga, kategori harus tidak boleh mempengaruhi klasifikasi data lainnya. Kelima, kategori harus bebas. Pemasukan data dengan cara apa pun tidak boleh mempengaruhi klasifikasi data lainnya. Kelima, kategori harus diperoleh atas dasar prinsip klasifikasi tunggal. Jika ada derajat analisis yang tingkatannya berbeda, hendaknya dipisahkan.
      Guba dan lincoln mengajurkan agar dalam penelitian kualitatif, penentuan kategori dan satuan kajian (unit of analysis) hendaknya menggunakan strategi pulang-pergi, yaitu mulai dengan aturan-data-aturan-data, dan seterusnya. Hal ini ialah karena pada tradisi penelitian belum ada cara yang dapat dipegang sehingga dimulai dengan “main coba” (trial and error) terlebih dahulu.[22]
      Sekali lagi dianjurkan agar mereka yang benar-benar berniat menggunakan kajian isi sebagai teknik utama, hendaknya mempelajarinya secara khusus terlebih dahulu. Perlu ditambahkan bahwa dewasa ini di negara maju telah berkembang teknik kajian isi dengan menggunakan fasilitas komputer sehingga pekerjaan tangan yang melelahkan dan membosankan cara dulu sudah sangat berubah dan berkembang. Hal itu pun perlu secara tersendiri.
      Uraian tentang kajian konten kualitatif secara jelas didasarkan pada empat hal:
1.      Menyesuaikan materi ke dalam model komunikasi, jadi harus ditentukan bagian mana dari komunikasi yang perlu diteliti dengan aspek-aspek komunikator, yaitu pengalaman dan perasaannya, disesuaikan dengan hasil teks yang dihasilkan, dengan latar belakang social budaya, dengan teks itu sendiri dan dengan akibat terhadap pesan.
2.      Aturan analisis: materi yang dianalisis secara bertahap mengikuti aturan prosedur, yaitu membagi-bagi materi ke dalam satuan-satuan.
3.      Kategori adalah pusat dari analisis. Aspek-aspek interpretasi teks mengikuti pertanyaan penelitian, dimasukkan ke dalam kategori. Kategori itu ditemukan dan direvisi di dalam proses analisis.
4.      Kriteria kredibilitas dan validitas: prosedur itu harus secara komprehensif inter-subjektif, yaitu dengan jalan membandingkan dengan penelitian lainnya dengan memanfaatkan triangulasi. Untuk memperkirakan reliabilitas inter-koder digunakan cek-silang dengan sumber data misalnya.[23]
F. Penutup
               Di dalam proses penelitian pada umumnya, kajian pustaka merupakan proses penting yang harus didahului untuk memperoleh dukungan teori bagi pemecahan permasalahan yang diajukan. Dengan kajian pustaka peneliti memahami betul muatan khasanah ilmu yang ada sehingga peneliti mempunyai kesempatan untuk berkali-kali mengadakan peninjauan di mana letak permasalahan yang akan diteliti tersebut di dalam lingkungan pengetahuan yang ada.
Penelitian kepustakaan memenuhi minimal tiga kriteria, yaitu: relevansi, kelengkapan dan kemutakhiran. Untuk mengkaji dan pengumpulan bahan pustaka dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu disebut kartu bibliografi atau kartu kutipan yang sudah disiapkan. Hasil kajian pustaka dalam bentuk kutipan langsung atau paraprase. Penelitian kepuastakaan menggunakan pendekatan humaniora sebagai suplemen untuk mendalami ilmu-ilmu keIslaman dan untuk memahami nash ajaran Islam. Dan pendekatan kewahyuan  yaitu penelitian terhadap berbagai aspek dari agama, baik aspek ide maupun aspek perwujudan dari kenyataan, dari masalah keyakinan dan ajaran yang dimiliki oleh suatu agama sampai pengaruh agama pada kehidupan masyarakat pemeluknya
DAFTAR  PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi,  Manajemen Penelitian,  Jakarta: Reneka Cipta, 2007
Faisal, Sanapiah, Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
Hasan, M. Iqbal,  Pokok-Pokok Metodologi Penelitian Dan Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002
Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakaya, 2000.
Lubis, Nur A. Fadhil, Pengembangan Studi Hukum Islam di IAIN. Artikel internet pada www.DEPAG.com, didownload pada 25 September 2007.
Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Moeleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.
Mulyana, Surya Meredam Konflik Beragama. Artikel dalam Majalah Kiblat Umat Edisi 2003-04-01.
Nawawi, H.Hidari,  Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 2007
Suryabrata, Sumadi,  Metodelogi Penelitian, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. 3. Jakarta: Balai Pustaka, 2001.




[1]M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Metodologi Penelitian Dan Aplikasinya, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), h. 45
[2] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian,  (Jakarta: Reneka Cipta, 2007), h. 58
[3] Ibid, h. 58
[4] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. 3 (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 912.
[5]Ibid. h. 912
[6] M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok ....., h. 45
[7] Ibid, h. 45
[8]Lexy J. Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 157.
[9]Ibid, h. 218.
[10] M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok ....., h. 46
[11] Ibid, h. 46
[12] Ibid, h. 46.,
[13]Sumadi Suryabrata, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2010), h.19
[14]Surya Mulyana, Meredam Konflik Beragama. Artikel dalam Majalah Kiblat Umat Edisi 2003-04-01
[15]H.Hidari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 2007), h. 4
[16]Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: Remaja Rosdakaya, 2000), h. 95.
[17]Nur A. Fadhil Lubis, Pengembangan Studi Hukum Islam di IAIN. Artikel internet pada www.DEPAG.com, didownload pada 25 September 2010.
[18]Lexy J. Moeleng, Metodologi Penelitian,.... h. 219.
[19] Ibid,.... h. 219.
[20]S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 35.
[21]Sanapiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), h. 133.

[22] Lexy J. Moeleng, Metodologi Penelitian,.... h. 200
[23] Sanapiah Faisal, Metodologi .....h. 133.