Home » » PSIKOLOGI AGAMA

PSIKOLOGI AGAMA

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Psikologi Agama
Oleh: Fadlah Mardiyah Pulungan

A.    Pendahuluan
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang  mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada hubungannya dengan keyakinan beragama. Psikologi agama mencakup dua bidang kajian yang berbeda, yaitu psikologi dan agama. Walaupun, psikologi dan agama mencakup masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia, namun dari sisi tertentu terdapat perbedaan di antara keduanya. Masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia, bagaimanapun mungkin untuk dikaji secara empiris oleh ilmu pengetahuan profan. Sebaliknya masalah agama yang berhubungan dengan keyakinan dianggap memiliki nilai-nilai sakral. Mengkaji agama dengan menggunakan ilmu pengetahuan profan, cenderung dianggap sebagai merendahkan nilai-nilai suci yang ada pada agama sebagai ajaran yang bersumber pada wahyu Ilahi.
Titik pandang yang berbeda ini menimbulkan persepsi yang cukup sulit untuk dipertemukan. Usaha untuk mempelajari agama melalui pendekatan psikologi, bukanlah merupakan usaha yang dapat diterima begitu saja. Baik para ilmuwan yang berkecimpung  di bidang ilmu agama maupun di bidang psikologi menolak usaha ini.

Terlepas dari sikap pro dan kontra, kenyataan menunjukkan bahwa agama mempengaruhi sikap dan tingkah laku pemeluknya. Sikap dan tingkah laku yang berhubungan dengan keyakinan tersebut dapat diamati secara empiris. Apa yang ditampilkan seorang penganut yang taat, bagaimanapun berbeda dari sikap dan tingkah laku mereka yang kurang taat beragama. Di sini terlihat bahwa dari sudut pandang psikologi, agama dapat berfungsi sebagai pendorong atau penengah bagi tindakan-tindakan tertentu, sesuai dengan keyakinan yang dianut seseorang. Dari sudut pandang ini maka dapat terungkap bahwa pemahaman mengenai keyakinan seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya dapat dilakukan melalui pendekatan psikologi.

B.  Definisi Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama. Psikologi  berasal dari  bahasa Yunani, yaitu “psyche”, yang berarti jiwa dan kata ‘logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara harfiah psikologi diartikan dengan ilmu jiwa.[1] Psikologi secara istilah adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.[2]
Lahey memberikan definisi “ psychology is the scientific study of behavior and mental processes” ( psikologi adalah kajian ilmiah tentang tingkah laku dan  proses mental).[3] Tingkah laku adalah segala sesuatu / kegiatan yang dapat diamati, sedangkan proses mental didalamnya mencakup pikiran, perasaan juga motivasi.
Jadi singkatnya psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan  yang berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin di lihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya. [4]
Zakiah Daradjat memberikan definisi psikologi agama adalah meneliti dan menalaah kehidupan beragama pada seseorang  dan mempelajari berapa besar  pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan  hidup pada umumnya.  Disamping itu, psikologi agama  juga mempelajari  pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.[5]
Memang diakui bahwa untuk mengemukakan definisi secara tegas mengenai psikologi agama agak sulit, karena selain disiplin ilmu ini mencakup bidang kajian yang berlainan. Baik  psikologi maupun agama merupakan persoalan yang abstrak. Terlebih lagi masalah yang menyangkut agama, sukar untuk didefinisikan secara jelas dan dapat disetujui semua pihak. Apalagi agama menyangkut kehidupan batin yang paling mendalam dan peka. Selain pengalaman agama bersifat individual dan subjektif, sehingga setiap orang memiliki penghayatan yang berbeda-beda.
Dalam kajian psikologi agama, persoalan agama tidak ditinjau dari makna yang terkandung dalam pengertian yang bersifat definitif. Pengertian agama dalam kajian dimaksud lebih umum, yaitu mengenai proses kejiwaan terhadap terhadap agama serta pengaruhnya dalam kehidupan pada umumnya. Melalui pengertian umum seperti itu, paling tidak akan dapat diamati fungsi dan peranan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai agama kepada sikap dan tingkah laku lahir dan batin seseorang. Dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).[6]
Selanjutnya sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama mempunyai lapangan yang menjadi bidang penelitiannya. Psikologi agama di sini hanya meneliti bagaimana sikap batin seseorang terhadap keyakinannya kepada Tuhan, hari kemudian, dan masalah ghaib lainnya. Juga bagaimana keyakinan tersebut mempengaruhi penghayatan batinnya, sehingga menimbulkan berbagai perasaan seperti tenang, tenteram, pasrah dan sebagainya, yang mana semua itu  dapat dilihat dalam sikap dan tingkah lakunya. Untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai batas yang menjadi kajian penelitian psikologi agama, maka digunakanlah dua istilah yaitu kesadaran bergama ( religious conciousness) dan pengalaman beragama ( religious experience).[7]
Menurut Zakiah Daradjat, kesadaran beragama adalah aspek mental dari aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian agama yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan dalam tindakan nyata. [8]
Bagaimanapun abstraknya bidang yang menjadi lapangan penelitian psikologi agama, namun aspek-aspek yang dipelajari  itu prosesnya dapat diamati sebagai pendorong bagi seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan keyakinan yang dianutnya. Secara individual, baik kesadaran beragama maupun pengalaman agama dapat mempengaruhi seseorang dalam kehidupannya.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa psikologi agama di sini tidak  membahas tentang masalah benar atau salahnya suatu agama, aqidah atau pokok-pokok keyakinan suatu agama ataupun surga dan neraka. Selain masalah tersebut sudah menjadi lapangan penelitian ilmu-ilmu agama yang khusus, juga masalah itu bukan menjadi wewenang kajian psikologi agama.[9]
Selain psikologi agama, muncul pula psikologi yang lebih spesifik kepada Islam dengan nama psikologi Islam. Psikologi Islam ini didefinisikan sebagai kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[10]
Hakikat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok: pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu kajian dari masalah-masalah keislaman. Kedua, bahwa psikologi Islam mengkaji aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, tidak hanya menekankan prilaku kejiwaan saja tetapi juga apa hakikat jiwa sesungguhnya. Ketiga, bahwa psikologi Islam bukan netral etik, melainkan sarat akan nilai etik.[11]
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir menjelaskan bahwa pemunculan paradigma psikologi Islam merupakan hal baru, bahkan boleh dibilang sebagai reaksi dari kemajuan diskursus psikologi Barat Kontemporer. Reaksi itu semakin memuncak setelah hasil psikologi Barat Kontemporer yang antroposentris dan netral etik dijadikan sebagai “pisau analisis” dalam memahami fenomena psikologi dalam masyarakat Islam yang teosentris dan sarat etik. Tentunya hal itu mengakibatkan benturan-benturan tersendiri, sebab masing-masing pihak memiliki frem pemikiran yang berbeda.[12]
Terlepas dari adanya perbedaan paradigma antara psikologi agama secara umum dengan psikologi Islam, dapat disimpulkan bahwa cabang ilmu ini mempunyai objek kajian tentang jiwa dan segala yang berkaitan dengannya, di samping itu psikologi ini juga meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.

C. Metode Penelitian  Dan Pendekatan Dalam Psikologi Agama
            Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian dan pendekatan. Adapun metode penelitian dalam psikologi agama adalah :
1.  Dokumen pribadi ( personal document)
            Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dan bagaimana hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh  informasi mengenai hal dimaksud maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut  mungkin berupa  autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.[13]
            Metode dokumen ini digunakan William James dalam bukunya The Varieties of Religius Experience. Walaupun dalam penelitiannya hanya terbatas pada ahli-ahli agama, namun hasil penelitiannya itu cukup bermanfaat.
Dalam penerapannya metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Diantaranya yang banyak digunakan:
a.       Teknik Nomothatic, digunakan untuk menarik kesimpulan sejumlah dokumen yang diteliti.
b.      Teknik Analisis Nilai (Value Analysis), teknik ini digunakan dengan dukungan analisa statistik. Bagi data yang sudah terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik lalu dianalisis untuk dijadikan penilaian  terhadap individu yang diteliti.
c.       Teknik Idiography Approach, teknik ini digunakan sebagai pelengkap dari teknik nomothatic. Hasil penelitian yang didasarkan pada teknik ini adalah berupa kesimpulan yang diperoleh dari penafsiran bebas.
d.      Teknik Penilaian Terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique), teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi tulisan, atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti.[14]

2. Kuesioner dan Wawancara
            Metode kuesioner dan wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak lagi dan ditujukan secara langsung kepada responden. [15]
Adapun teknik yang digunakan dalam metode ini untuk mengumpulkan data adalah:
a.       Pengumpulan Pendapat Masyarakat (Public Opinion Polls). Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara.
b.      Skala Penilaian (Rating Scale), teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.
c.       Tes (Test), tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu.
d.      Eksprimen
e.       Observasi
f.        Pendekatan Terhadap Perkembangan ( Devolepment Approach), digunakan untuk meneliti asal-usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya.
g.      Metode Klinis
h.      Studi Kasus[16]
Ada beberapa macam pendekatan dalam psikologi agama. Antara lain seperti:
1.      Pendekatan Struktural, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk mempelajari pengalaman seseorang berdasarkan tingkatan atau kategori tertentu. Struktur pengalaman tersebut dilakukan dengan menggunakan metode pengalaman dan introspeksi. Pendekatan ini dipakai oleh Wilhelm Wundt.
2.      Pendekatan Fungsional, yaitu pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana agama dapat berfungsi atau berpengaruh terhadap tingkah laku hidup individu dalam kehidupannya. Pendekatan ini pertama kali dipergunakan oleh William James (1910 M), ia adalah penemu laboratorium psikologi pertama di Amerika pada Universitas Harvard.
3.      Pendekatan Psiko-analisis, yaitu suatu pendekatan yang dilakukan untuk menjelaskan tentang pengaruh agama dalam kepribadian  seseorang dan hubungannya  dengan penyakit-penyakit jiwa. Pendekatan ini pertama kali dilakukan oleh Sigmung Freud (1856-1939 M).[17]

D.    Penulis Dan Karya Utama Studi Psikologi Agama Secara Umum
Psikolog-psikolog kontemporer dengan suara bulat menyepakati Wilhelm Wundt sebagai orang yang membawa psikologi sebagai suatu ilmu dengan mendirikan laboratorium psikologis di Universitas Leizing tahun 1979. [18]
Menurut sumber barat awal kelahiran psikologi agama dimulai dengan keluarnya karya Edwin Diller Starbuck, William James dan James H. Leuba, karena mereka dianggap sebagai orang yang berjasa dalam melahirkan psikologi agama. Buku The Psychology of Religion: An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness karya E.D. Starbuck diterbitkan tahun 1899. Buku ini merupakan hasil penelitian tentang pertumbuhan perasaan (kesadaran) beragama di bawah bimbingan William James. Sebenarnya menurut Zakiah darajat, Edwin Diller Starbuck adalah murid dari William James, namun dalam bidang psikologi agama, Starbuck melampaui gurunya. Jadi jelaslah, karya Starbuck dianggap menjadi titik awal berkembangnya  psikologi agama[19].
Pada tahun 1905 William James membukukan bahan-bahan persiapan untuk memberikan kuliah tentang agama di Universitas Edinburgh dengan judul bukunya “The Varieties of Religious Experience”. Buku yang berisikan pengalaman keagamaan  berbagai tokoh ini kemudian dianggap sebagai buku yang menjadi perintis awal dari kelahiran psikologi agama menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri.  [20]
Kemudian muncul tokoh-tokoh berikutnya seperti J.H. Leuba dengan hasil penelitiannya yang pernah dimuat dalam The Monist Vol. XI Januari 1901 dengan judul “ Introduction to a Psychological Study of Religion.” Kemudian pada tahun 1912 diterbitkannya buku dengan judul: “A Psychological Study of Religion.” [21]
Di dunia Islam, muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindy, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawih, al-Raziy, kelompok Ikhwan al-Shafa, Ibnu Thufail, Ibnu Majah dan Ibnu Rusyd yang mengusung aliran psikologi dengan pendekatan falsafi.[22] Sederetan tokoh tersebut sebenarnya lebih popular sebagai seorang filosof dari pada seorang psikolog. Namun mereka juga pantas dikategorikan sebagai psikologi falsafi. Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa masa itu belum ada pemisahan antara disiplin ilmu, di samping bahwa konsep-konsep mereka banyak berkaitan dengan diskursus psikologi, seperti konsep tentang jiwa (al-nafs atau al-ruh). Ciri utama kelompok ini adalah sangat mengutamakan peran struktur al-‘aql yang puncaknya mampu memperoleh limpahan pengetahuan dari Allah melalui ‘aqal fa’al.[23]
Selain dari tokoh-tokoh tersebut, muncul pula nama-nama seperti Abu Hamid al-Ghazali, Rabi’ah al-Adawiyah, Dzun Nun al-Mishry, Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, ‘Abd al-Karim al-Jilli, ‘Abd al-Qadir al-Jailani, al-Suhrawardi, Ibn Qayyim al-Jauziyah dan sebagainya yang mengusung psikologi dengan pendekatan tasawwuf.[24] Ciri utama kelompok ini adalah sangat mengutamakan struktur al-qalb atau al-dzauq yang puncaknya mampu mencapai ma’rifah, mahabbah, ittihad, hulul, wihdatul wujud dan al-isyraq kepada Allah, meskipun macam-macam puncak tersebut dipertentangkan validitasnya.[25]
Di Indonesia, perkembangan psikologi agama dipelopori oleh tokoh-tokoh, seperti Dr. Jalaluddin dengan karyanya Psikologi Agama (1996), Jalaluddin Rahmat dengan karyanya Psikologi Agama (2003).
Sementara pengenalan psikologi agama di IAIN dilakukan oleh prof. Dr. Zakiah Daradjat dengan bukunya Ilmu Jiwa Agama (1970), Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.[26]

       E. Contoh-Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologi Agama

            Pendekatan psikologi agama dapat di lihat contohnya dalam studi Islam.  Adapun contoh psikologi agama yang digunakan dalam kajian Islam dan umat Islam dapat dilihat dalam ritual manusia dalam agama yang diyakininya. diantaranya, tentang perasaan seorang ahli tasawuf terhadap Allah, yang mana dia merasa Allah selalu hadir dalam hatinya dan dia juga selalu membiasakan lisannya untuk berzikir kepada Allah yang dilakukannya secara terus menerus dan secara sadar maka akan melekatlah di dalam hatinya dan akan menimbulkan ketentraman jiwa. [27]
Seorang muslim yang hatinya selalu merasa tenang, bahagia, suka menolong orang lain, walaupun kehidupannya sangat sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi pada Allah dan waktu subuh sebelum semua orang terbangun, dia telah duduk pula di tikar sholatnya, sebaliknya ada orang muslim yang cukup kaya dan banyak hartanya, namun hatinya penuh kegoncangan, tidak pernah merasa puas, di rumah tangganya selalu bertengkar. Hal ini jelas menunjukkan seberapa besar pengaruh agama dalam kehidupannya..
Begitu juga yang dapat dirasakan oleh orang biasa, seperti perasaan lega, tenang, sehabis shalat dan setelah selesai membaca al-Qur’an dan berdoa. Dan  sikap seorang muslim ketika memasuki mesjid akan menunjukkan sikap hormat, dari pada orang yang menganut keyakinan lain. Sikap demikian juga akan dijumpai pada penganut agama lain saat memasuki rumah ibadahnya masing-masing. Bagi setiap penganut agama, rumah ibadah memberi pengalaman batin tersendiri yang menimbulkan reaksi terhadap tingkah laku masing-masing sesuai dengan keyakinan mereka. Seorang muslim mengucapkan salam ketika berjumpa dengan muslim lainnya, hormat kepada orang tua, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya adalah merupakan gejala-gejala keagamaan yang dapat dijelaskan dengan pendekatan psikologi agama. [28]
Berapa banyak orang muslim yang berubah jalan hidupnya dan keyakinannya  dalam waktu yang singkat, seperti dari seorang yang taat beribadah berubah menjadi orang yang lalai dan menentang agama, dari yang beragama Islam menjadi non Islam.
Seorang muslim yang keluar dari Islam (murtad), banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut maka jawabannya dapat dilihat dari pendekatan psikologi. Adapun yang ingin di jawab pendekatan psikologi adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan seorang murtad, karena menurut psikologi agama  ada dua faktor yang menyebabkan seorang murtad, yaitu faktor Intern (dalam diri) dan faktor Ekstren (faktor luar diri)[29].
Faktor Intern (dalam diri) yang bisa  mempengaruhi seseorang murtad adalah dari kepribadiannya. Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi jiwa seseorang. Dalam penelitian William James, ia menemukan bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam yang dapat menyebabkan terjadinya konversi agama/ pindah agama dalam dirinya. Kemudian faktor pembawaan, menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak yang bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya seorang murtad.
Adapun faktor Ekstren adalah pertama, faktor keluarga, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan lainnya, sehingga kondisi ini menyebabkan seorang stress dan untuk meredakan stress atau tekanan batinnya dia melakukan konversi agama. Kedua, faktor lingkungan tempat tinggal yang mana jika seseorang merasa terlempar atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat maka dia akan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahannya hilang. Ketiga, faktor perubahan status yang mana jika perubahan status ini terjadi secara mendadak akan banyak mempengaruhi konversi agama, misalnya perceraian, kawin dengan orang yang berlainan agama, ke luar dari sekolah. Keempat, faktor kemiskinan, kondisi sosial yang sulit juga merupakan  faktor yang mendorong untuk konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi.[30]
Dari hal di atas, dapat disimpulkan bahwa tekanan batin atau stress dapat mendorong seseorang untuk melakukan konversi agama. Dalam kondisi jiwa yang tertekan, maka secara psikologis kehidupan seseorang itu kosong dan tak berdaya sehingga dia berusaha untuk mencari ketenangan batin, salah satu caranya dengan konversi agama.

E.     Problematika Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam

Tokoh yang dianggap paling berjasa dalam melahirkan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, William James dan James H. Leuba. Mereka ini adalah orang-orang non muslim dan orang Barat.
Setiap pendekatan mempunyai manfaat dan problematika, begitu juga dengan pendekatan psikologi agama yang mereka pelopori, banyak memberikan manfaat dan solusi dalam memecahkan berbagai problema, terutama dalam hal yang menyangkut persoalan kejiwaan yang berkaitan dengan masalah agama, dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).
Dengan demikian, psikologi agama dapat dimanfaatkan oleh umat Islam untuk memberikan penjelasan ilmiah terhadap berbagai problema dan dapat pula dipakai untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Setidaknya, psikologi agama dapat digunakan sebagai alat analisis untuk membedah berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam, seperti masalah kepatuhan pada aturan Allah, keterbelakangan pendidikan,  dan sebagainya. Permasalahan tersebut dapat dianalisis dengan psikologi agama.[31]
Walaupun demikian, disadari sepenuhnya bahwa sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam.
Adapun problematika atau permasalahan yang mungkin timbul dengan digunakan psikologi agama dalam mengkaji Islam adalah tentang konsep-konsep psikologi agama yang memiliki kekurangan dan keterbatasan bahkan mungin dapat menimbulkan bias yang sangat besar, karena sering kali mereduksi Islam ke dalam pengertian-pengertian yang parsial dan tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya.[32]
Dengan demikian alangkah baiknya jika kita membangun suatu konsep psikologi yang berdasarkan pada Islam dengan merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadis.

G.    Signifikasi Dan Kontribusi Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Pada zaman sekarang ini banyak terjadi fenomena seperti adanya bunuh diri bersama di  negara Jepang dan beberapa negara lainnya, fenomena pergaulan bebas (free sex), tingginya tingkat pencurian motor, pembunuhan tanpa perasaan bersalah (mutilasi), bahkan fenomena-fenomena yang bersampul agama Islam sekalipun, seperti kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh umat Islam, perusakan tempat-tempat hiburan di Jakarta, beberapa tahun yang lalu dan sebagainya. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya fenomena tersebut? Hal ini tentu tidak dapat lagi sepenuhnya dikaji dengan pendekatan teologis-normatif semata. Maka disinilah metode dan pendekatan-pendekatan lainnya mengambil peran penting, termasuk psikologi, khususnya psikologi agama.
Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan penting dan memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan diamalkan seseorang muslim, misalnya kita dapat mengetahui pengaruh dari ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya dalam kehidupan seseorang.  
Psikologi agama juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan dan menanamkan ajaran agama Islam ke dalam jiwa seseorang  sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan pengetahuan ini, maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efesien dalam menanamkan ajaran agama Islam, baik untuk masa sekarang, maupun dimasa yang akan datang. Itulah sebabnya pendekatan psikologi agama ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan sikap keberagamaan seseorang. Dengan demikian seseorang akan memiliki tingkat kepuasan tersendiri dalam agamanya, karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan agama.[33]
Selain itu, psikologi agama membantu untuk mengarahkan seseorang pada pendidikan agama Islam yang tepat, seperti terhadap seorang bayi, bahkan terhadap jabang bayi yang ada dalam kandungan seorang ibu yang sedang hamil.[34]
Lebih lanjut Jalaluddin menerangkan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi. Jepang ternyata menggunakan pendekatan psikologi agama dalam membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa kaisar Jepang adalah titisan Dewa Matahari (Amiterasu Omikami), mereka dapat menumbuhkan jiwa Bushido, yaitu ketaatan terhadap pemimpin. Mitos ini telah dapat membangkitkan perasaan agama para prajurit Jepang dalam perang dunia II untuk melakukan Harakiri (bunuh diri) dan ikut dalam pasukan Kamiokaze (pasukan berani mati). Dan setelah selesai perang dunia II, jiwa Bushido tersebut bergeser menjadi etos kerja dan disiplin serta tanggung jawab moral. [35]
Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam studi Islam adalah :
1.         Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang muslim.
2.         Untuk membantu  menyelesaikan  masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.[36]
3.         Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Pengobatan pasien di rumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan nara pidana di lembaga permasyarakatan banyak dilakukan dengan cara menggunakan psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan, psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik, dan sebagainya.[37]
                       

         H. Penutup

            Psikologi agama sebagai sebuah cabang ilmu yang berdiri sendiri. Psikologi agama ini mempunyai metode dan pendekatan ilmiah. Selain itu psikologi agama mempunyai peranan penting dan sumbangan yang sangat besar dalam memecahkan berbagai persoalan khususnya yang menyangkut tentang pengaruh agama dalam kehidupan seseorang.
            Psikologi agama walaupun memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam, tapi pendekatan psikologi ini masih mempunyai masalah (problematika) dalam kajian Islam, karena konsep-konsep psikologi itu berasal dari orang-orang non muslim. Oleh karena itu sekarang sudah ada psikologi Islami yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadis, yang lebih sesuai dengan ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Abu Ahmadi,  Psikologi Umum. Jakarta : Rineka Cipta, 2003.
Benjamin B. Lahey, Psychology An Intriduction. New York : Mc Graw Hill, 2003.
Djamaluddin Ancok dan Fuat Anshori Suroso, Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problema-Problema Psikologi, cet II, Yogyakarta:pustaka Pelajar, 1995.
Douglas A. Bernstein, Peggy W. Nash, Essentials of Psychology. New york: Hougton Mifflin Compeny, 1998.
Jalaluddin, Psikologi Agama.  Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002.
…………, Ramayulis, Ilmu Jiwa Agama,  Jakarta : Kalam Mulia, 1996
Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung : Mizan , 2003
John W. Santrock, Psychology,  Seventh  Edition. Texas : M. c. Graw Hill, 2002.
Komaruddin Hidayat, et.al., Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam Di Indonesia, Ciputat : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama, Jakarta : Kalam Mulia, 1996.
Singgih Dingagunasa, Pengantar Ilmu Psikologi, Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1996.
Surlito Wirawan, Pengantar Ilmu Psikologi, cet II. Jakarta : Bulan Bintang, 1982
Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama , Jakarta : Bulan Bintang, 1979.



[1] Surlito Wirawan, Pengantar Ilmu Psikologi, cet II ( Jakarta : Bulan Bintang, 1982), h. 9
[2] Abu Ahmadi,  Psikologi Umum ( Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h. 6
[3] Benjamin B. Lahey, Psychology An Intriduction ( New York : Mc Graw Hill, 2003), h 5
[4] Singgih Dingagunasa, Pengantar Ilmu Psikologi, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1996). 9
[5] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama ( Jakarta : Bulan Bintang, 1979), h. 12
[6] Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama (Jakarta : Kalam Mulia,   1996  ), h. 6
[7] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama……., h. 13
[8]  Ibid.
[9]  Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama,…….,h. 7
[10] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 5
[11] Ibid.
[12] Ibid., h. 12
[13] Jalaluddin, Psikologi Agama ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002), h. 37.
[14] Ibid., h. 39
[15] Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama … h. 18.
[16] Ibid., h. 19
[17] Douglas A. Bernstein, Peggy W. Nash, Essentials of Psychology (New York: Hougton Mifflin Compeny, 1998), h. 7-10   
[18] John .W.  Santrock, Psychology,  Seventh  Edition,  ( Texas : McGraw Hill, 2002), h. 35
[19] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama…,h. 24
[20] Jalaluddin, Ramaliyus, Ilmu Jiwa Agama, ( Jakarta : Kalam Mulia, 1996), h. 8
[21] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama…,h.26
[22] Psikologi dengan pendekatan falsafi adalah pengkajian psikologi Islam yang didasarkan atas prosedur berpikir spekulatif. Prosedur yang dimaksud mencakup berpikir yang sistemik, radikal dan universal, yang ditopang oleh kekuatan akal sehat. Pendekatan falsafi ini bukan berarti meninggalkan nash, melainkan tetap berpegang teguh kepada nash, hanya saja cara memahaminya dengan menggambil makna esensi yang terkandung di dalamnya. Lebih lanjut lihat, Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam……, h. 25
[23] Ibid.
[24].Psikologi dengan pendekatan tasawwuf adalah pengkajian psikologi Islam yang didasarkan pada prosedur intuitif, ilham dan cita rasa (al-zawqiyah). Prosedur dilakukan dengan cara menajamkan struktur kalbu melalui proses penyucian diri ( Tazkiyah al-nafs). Cara itu membuka tabir yang menjadi penghalang antara ilmu-ilmu Allah dengan jiwa manusia, sehingga mereka memperoleh ketersingkapan (al-kasyf) dan mampu mengungkap hakikat jiwa sesungguhnya. Memang  sebagian ahli membedakan antara psikologi dengan tasawwuf. Psikologi masuk dalam wilayah sains yang objektif dan netral etik, sehingga membicarakan perilaku manusia apa adanya. Hal yang berbeda dengan tasawwuf yang subjektif dan sarat etik, sehingga membicarakan perilaku manusia bagaimana seharusnya. Pembedaan ini tidak berarti jika psikologi yang dimaksud berlebel Islam, sebab dalam kata “ Islam” telah memuat sekumpulan nilai yang mengikat pemeluknya. Bahkan paradigma Islam mengakui realitas subyektif sebagaimana ia mengakui realitas obyektif. Ibid., h. 27
[25] Ibid.
[26] Ibid., h. 12-13
[27] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama…,h.14
[28] Ibid., h. 14
[29] Jalaluddin, Psikologi Agama, ….h.257
[30] Ibid., h. 259-260.
[31] Djamaluddin Ancok dan Fuat Anshori Suroso, Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problema-Problema Psikologi, cet II,  ( Yogyakarta ; pustaka Pelajar, 1995), h. 2
[32] Ibid., h.3
[33] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama,…..h. 15
[34] Komaruddin Hidayat, et.al., Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam Di Indonesia, ( Ciputat : Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 142
[35] Jalaluddin, Psikologi Agama, ….h. 18
[36] Komaruddin Hidayat, et.al., Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam Di Indonesia, …….h. 144.

[37] Jalaluddin Rahmat, Psikologi Agama : Sebuah Pengantar  ( Bandung : Mizan , 2003), h. 97.