Home » » Mini Riset: Pola Komunikasi Guru Terhadap Perubahan Akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi Kabupaten Bireuen Aceh

Mini Riset: Pola Komunikasi Guru Terhadap Perubahan Akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi Kabupaten Bireuen Aceh

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Oleh: Muntadhar
(Makalah Mata Kuliah Komunikasi Organisasi)


A.    Latar Belakang Masalah
Untuk  menanamkan  akhlak  mulia bagi anak menurut pandangan Islam telah  dimulai  sejak  dini,  dimulai  sejak sebelum kelahiran bayi kemudian diteruskan  setelah  kelahirannya.  Pembentukan  akhlak  mulia  itu terkait erat dengan  pelaksanaannya  di rumah  tangga, sekolah  dan  masyarakat.[1]
Dalam  rumah tangga dan sekolah usaha yang dapat dilakukan untuk pembinaan akhlak  adalah guru dibantu oleh orang tua hendaknya menciptakan kondisi akhlak anak dalam rumah tangga   atau sekolah sehingga suasana kondusif  bagi  perkembangan  sehat  anak  serta  penanaman  nilai-nilai  keagamaan dan mengembangkan komunikasi dengan anak-anaknya.
Wawancara
Berdasarkan kenyataan di lapangan bila diperhatikan akhlak siswa merosot, terlihat seperti siswa keluar lingkungan sekolah sewaktu jam pelajaran sudah  dimulai, berkelahi, tidak mengerjakan tugas, melawan guru dan lain sebagainya merupakan hal yang tidak dapat dibiarkan terus menerus karena akan mengganggu  proses  belajar  yang  dilaksanakan.
Permasalahan seperti ini dapat terjadi karena tidak adanya hubungan komunikasi yang baik dalam keluarga, karena pendidikan dalam keluarga  adalah merupakan corak kualitas anak selanjutnya. Dengan tidak terjalinnya hubungan komunikasi dalam keluarga maka anak akan merasa diabaikan  sehingga  ia  akan  mencari  hiburan  yang  dapat  merusak  akhlak.
Selain di sekolah, keluarga  memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak karena dalam keluargalah pertama sekali anak mengenal dan berhubungan dengan orang lain.[2]  Hal ini disebabkan karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan dan bimbingan. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar pendidikan akhlak dan tabiat  anak, sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
Komunikasi dapat menunjang kemajuan pendidikan terutama pendidikan akhlak siswa. Karena dengan komunikasi yang dilakukan  oleh guru dan orang tua akan dapat mengetahui hal-hal yang dapat merusak akhlak anaknya. Bila komunikasi itu dapat berjalan dengan baik, semua tindakan anak yang menyimpang akan dapat ditanggulangi secepatnya. Oleh karena itulah komunikasi dalam keluarga itu mutlak diperlukan demi keberhasilan  pendidikan  anak  khususnya  akhlak  mereka.
Dengan melakukan komunikasi dalam keluarga maka antara orang tua , guru dan anak akan terjalin hubungan yang baik. Kemudian komunikasi dalam keluarga yang baik itu tercermin dari perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya. Yang mana  di dalam keluarga, anak sangat membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Apabila dalam sebuah keluarga dapat menjalin hubungan dengan baik, yaitu antara orang tua dengan anak-anaknya dalam artian memiliki komunikasi yang baik dalam keluarga, seorang anak tidak bosan dan merasa aman berada dalamnya sehingga anak akan terkontrol dan mempunyai akhlak yang baik, karena segala permasalahan dan keluh kesahnya selalu dipecahkan bersama di dalam keluarga tersebut. Dan juga sebaliknya apabila dalam sebuah keluarga tersebut tidak mempunyai komunikasi yang baik atau tidak adanya perhatian orang tua terhadap anaknya maka anak tersebut akan merasa diabaikan dan akan mencari kesenangan  di luar  yang  dapat  merusak  akhlaknya.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan komunikasi siswa dalam keluarga kurang, terlihat dari akhlak siswa yang merosot di sekolah. Untuk itu penulis ingin mengetahui sejauh mana komunikasi yang di lakasanakan orang tua dengan anaknya. Beranjak dari permasalahan di atas penulis tertarik membahas masalah ini lebih lanjut dengan judul mini riset “Pola Komunikasi Guru Terhadap Perubahan Akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh”.

B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan penulis dalam mengidentifikasi permasalahan maka penelitian ini dirumuskan ke dalam beberapa bentuk poin pertanyaan, yaitu:
1.      Bagaimanakah pola komunikasi guru terhadap perubahan akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi?
2.      Bagaimanakah akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi?

C.  Tujuan dan Kegunaan Penelitian
            Adapun  tujuan  penelitian  yang  akan  dicapai  dalam  penelitian  ini  adalah:
1.      Untuk mengetahui pola komunikasi guru terhadap perubahan  akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi.
2.      Untuk  mengetahui  akhlak  siswa  pada  Siswa MIS Tanjong Beuridi.

E. Kegunaan Penelitian
             Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah:
1.      Sebagai bahan masukan bagi orang tua terutama dalam melaksanakan komunikasi dalam keluarga dan sekolah guna mengantisipasi timbulnya akhlak siswa  yang tidak baik.
2.      Sebagai bahan masukan bagi guru untuk meningkatkan komunikasi yang baik dengan siswa.
3.      Sebagai bahan masukan bagi Kepala Sekolah untuk meningkatkan komunikasi dengan  orang tua siswa karena kontribusi orang tua sangat    besar dalam membina akhlak siswa di sekolah dan masyarakat.
4.      Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin membahas masalah yang sama.

F. Landasan Teori
Perilaku remaja yang sudah sering dibicarakan dan sudah melebihi batas adalah penyalahgunaan kepercayaan, yang akan membentuk perilaku remaja terhadap penyalahgunaan internet. Anak diharapkan menjauhi internet serta menghindarkan anak agar tidak menyalahgunakan internet, seperti mengunjungi situs-situs porno, perjudian (game poker, dan sebagainya), penipuan dan carding.
Agar tidak terjadi hal-hal tersebut, maka seharusnya disini komunikasi antara orangtua dan remaja ditekankan pada perhatian orangtua pada remaja dan waktu luang orangtua bagi anak remajanya. Berbagai masalah remaja yang muncul saat ini, baik yang berhubungan dengan perilaku penyalahgunaan sarana internet, disebabkan antara lain oleh kurangnya perhatian dan bekal yang diterima anak dari orangtuanya atau orang dewasa yang berada di sekitarnya.
Semua berawal dari masalah kurangnya komunikasi antara orangtua dan anak Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi merupakan hal yang penting dalam berbagai pola tindakan manusia sebagai makhluk sosial, artinya manusia hidup saling berdampingan satu sama lain saling membutuhkan. Hubungan antar manusia akan tercipta melalui komunikasi, baik komunikasi verbal (bahasa) maupun komunikasi non verbal (simbol, gambar atau media komunikasi lainnya).
Komunikasi di keluarga, peran orangtua menjadi sangat penting kualitas komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh sejauh mana orangtua berkomunikasi kepadanya. Komunikasi akan sukses apabila orangtua memiliki kredibilitas di mata anaknya.

1.      Akhlak
Persoalan “Akhlak” di dalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat pada Al-Qur’n dan Al-Hadits.  Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam tindakan sehari-hari bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk. Memberi informasi kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan bagaimana harus bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah perbuatan itu terpuji atau tercela, benar atau salah.
Kita telah mengetahui bahwa akhlak Islam adalah merupakan system moral/akhlak yang berdasarkan Islam, yakni bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah pada nabi/Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Memang  sbagaimana disebutkan terdahulu bahwa secara umum akhlak/moral terbagi atas moral yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akhirat dan kedua moral yang sama sekali tidak berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, moral ini timbul dari sumber-sumber sekuler.
Akhlak Islam, karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar daripada agama itu sendiri. Dengan demikian, dasar/sumber pokok daripada akhlak Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama Islam itu sendiri.
Memang tidak disangsikan lagi dengan bahwa segala perbuatan/tidakan manusia apapun bentuknya pada hakikatnya adalah bermaksud untuk mencapai kebahagiaan (saadah), dan hal ini adalah sebagai “natijah” dari problem akhlak.           Sedangkan saadah menurut system moral/akhlak yang agamis(Islam), dapat dicapai dengan jalan menuruti perintah Allah yakni dengan menjahui segala larangan Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, sebagaimana yang tertera dalam pedoman dasar hidup bagi setiap muslim yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Sehubungan dengan Akhlak Islam, Drs. Sahilun A, Nasir menyebutkan bahwa Akhlak Islam berkisar pada:
a.     Tujuan hidup setiap muslim, ialah menghambakan dirinya kepada Allah, untuk mencapai keridhaan-Nya, hidup sejahtera lahir dan batin, dalam kehidupan masa kini maupun yang akan datang.
b.      Dengan keyakinannya terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya, membawa konsekuensi logis, sebagai standard dan pedoman utama bagi setiap moral muslim. Ia member sangsi terhadap moral dalam kecintaan dan kekuatannya kepada Allah, tanpa perasaan adanya tekanan-tekanan dari luar.
c.       Keyakinannya akan hari kemuadian/pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha menjadi manusia sebaik mungkin, dengan segala pengabdiannya kepada Allah.
d.      Islam tidak moral yang baru, yang bertentangan dengan ajaran dan jiwa Islam, berasaskan darI Al-Qur’an dan Al-Hadits, diinterprestasikan oleh ulama mujtahid.
e.       Ajaran Akhlak Islam meliputi segala segi kehidupan manusia berdasrkan asas kebaikan dan bebas dari segala kejahatan. Islam tidak hanya mengajarkan tetapi menegakkannya, dengan janji dan sangsi Illahi yang Maha Adil. Tuntutan moral sesuai dengan bisikan hati nurani , yang menurut  kodratnya cenderung kepada kebaikan dan membenci keburukan.[3]
Dengan demikian dapat ditegasakan disini bahwa dasar dari akhlak Islam secara global hanyaada dua yakni: Percaya adanya Tuhan dan percaya adanya hari kemudian/ pembalasan, sebagai disebutkan oleh Abul A’la Maududi bahwa system moral/akhlak ada yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan setelah mati.
Dalam Islam, budi pekerti merupakan refleksi iman dari seseorang sebagai contoh(suri tauladan) yang pas dan benar ialah Rasullah Saw. Beliau memiliki akhlak yang sangat muia, agung dan teguh. Sehingga tidak mustahil kalau Allah memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia.
“Akhlak” di dalam ajaran Islam sangat rinci, berwawasan multi dimensial bagi kehidupan, sistematis dan beralasan realitas. Juga “Akhlak” banyak dibicarakan tentang konsekuensi yang bagi manusia yang tidak berpegang pada “ akhlak Islam”.
“Akhlak Islam” bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan mengobati bagi penyakit social dari jiwa dan mental. Tujuan berakhlak yang baik untuk mendapatkan kebahagiann di dunia dan akhirat. Dua simbolis tujuan inilah yang diidamkan manusia bukan semata berakhlak secara Islami hanya bertujuan untuk kebahagiaan dunia saja.
Dalam ajaran Islam memelihara terhadap sifat terpuji. Dan ada cirri-ciri akhlak Islamiyah yaitu:
1.      Kebajikan yang mutlak
Islam menjamin kebajikan mutlak. Karena Islam telah menciptakan akhlak yang luhur. Ia menjamin kebaikan yang murni baik untuk perorangan atau masyarakat pada setiap keadaan, dan waktu bagaimanapun. Sebaliknya akhlak yang diciptakan manusia, tidak dapat menjamin kebaikan dan hanya mementingkan diri sendiri.
2.      Kebaikan yang menyeluruh
Akhlak Islami menjamin kebaikan untuk seluruh manusia. Baik segala jaman, semua tempat, mudah tidak mengandung kesulitan dan tidak mengandung perintah berat yang tidak dikerjakan oleh umat manusia di luar kmampuannya. Islam menciptakan akhlak yang mulia, sehingga dapat dirasakan sesuai dengan jiwa manusia dan dapat diterima akal yang sehat.
3.      Kemantapan
Akhlak Islamiayah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia. Ia bersifat tetap, langgeng dan mantap, sebab yang menciptakan Tuhan yang bijaksana, yang selalu memliharanya dengan kebaikan yang mutlak. Akan tetapi akhlak/etika ciptaan manusia bersifat berubah-rubah dan tidak selalu sama sesuai dengan kepentingan masyarakat dalam satu jaman atau satu bangsa. Sebagai contoh aliran materialism, hati nurani dana lain sebagainya.
4.      Kewajiban yang dipatuhi
Akhlak yang bersumber dari agama Islam wajib ditaati manusia sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahir batin dan dalam keadaan suka dan duka, juga tunduk pada kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya. Juga sebagai perangsang untuk berbuat kebaikan yang diiringi dengan pahala dan mencegah perbuatan jahat, karena takut skan siksaan Allah SWT.
5.      Pengawasan yang menyeluruh
Agama Islam adalah pengawas hati nurani dan akal yang sehat, Islam menghargai hati nurani bukan dijadikan tolak ukur dalam menetapkan beberapa usaha. Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah: 1-2 ; yang artinya: “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”.

Ada 2 (dua) penggolongan akhlak secara garis besar yaitu: akhlak mahmudah (fadilah) dan akhlak mazmumah (qabihah). Di samping istilah tersebut Imam Al-Ghazali menggunakan juga istilah “munjiyat” untuk akhlak mahmudah dan “muhlihat” untuk yang mazmumah.
Di kalangan ahli tasawuf, kita mengenal system pembinaan mental, dengan istilah: Takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah mengosongkan atau membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, karena sifat-sifat tercela itulah yang dapat mengotori jiwa manusia. Dan tahalli adalah mengisi jiwa ( yang telah kosong dari sifat-sifat tercela) dengan sifat-sifat  yang terpuji (mahmudah).
Jadi dalam rangka pembinaan mental, pensucian jiwa hingga dapat berada dekat dengan Tuhan, maka pertama kali yang dilakukan adalah pengosongan atau pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela, hingga akhirnya sampailah pada tingkat berikutnya dengan apa yang disebut “tajalli”, yakni tersikapnya tabir sehingga diperoleh pancaran Nur Ilahi.
Sedangkan yang dimaksud dengan akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik (yang terpuji). Sebaliknya segala macam sikap dan tingkah laku yang tercela disebut dengan akhlak mazmumah. Akhlak mahmudah tentunya dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam jiwa manusia, demikian pula akhlak mazmumah dilahirkan oleh sifat-sifat mazmumah. Oleh karena itu sebagaimana telah disebutkan terdahulu bahwa sikap dan tingkah laku yang lahir adalah merupakan cermin/gambaran daripada sifat/kelakuan batin.
Beberapa akhlak mahmudah seperti bersikap setia, jujur, adil, pemaaf, disenangi, menepati janji, memelihara diri, malu, berani, kuat, sabar, kasih sayang, murah hati, tolong menolong, damai, persaudaraan, menyambung tali persaudaraan, menghoranati tamu, merendahkan diri, berbuat baik, menundukkan diri, berbudi tinggi, memlihara kebersihan badan, cenderung kepada kebaikan, merasa cukup dengan apa yang ada, tenang, lemah lembut, bermuka manis, kebaikan, menahan diri dari berlaku maksiat, merendahkan diri kepada Allah, berjiwa kuat dan lain sebagainya.
            Sedangkan yang termasuk dalam akhlak mazmumah, antara lain; egoistis, lacur, kikir, dusta, peminum khamr, khianat, aniaya, pengecut, aniaya, dosa besar, pemarah, curang, culas, mengumpat, adu domba, menipu, memperdaya, dengki, sombong, mengingkari nikmat, homosex, ingin dipuji, ingin didengar kelebihannya, makan riba, berolok-olok, mencuri, mengikuti hawa nafsu, boros, tergopoh-gopoh, membunuh, penipuan, dusta, berlebih-lebihan, berbuat kerusakan, dendam, merasa tidak perlu pada yang lain dan lain sebagainya yang menunjukkan sifat-sifat yang tercela.[4]  
2.      Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu yang mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan (sumber, komunikator sendiri) ditujukan kepada penerima pesan (receiver, komunikan, audience). Komunikasi dalam interaksi keluarga penyampai pesan dapat ayah, ibu, orang tua, anak, suami, isteri, mertua, kakek, nenek. Begitupun sebagai penerima pesan. Pesan yang disampaikan dapat berupa informasi, nasihat,petunjuk, pengarahan, meminta bantuan .Komunikasi yang terjadi dalam keluarga merupakan komunikasi yang unik. Komunikasi yang terjadi dalam keluarga melibatkan paling sedikit dua orang yang mempunyai sifat, nilai-nilai, pendapat, sikap, pikiran dan perilaku yang khas dan berbeda-beda.[5]
Komunikasi keluarga tidak sama dengan komunikasi antar anggota kelompok biasa. Komunikasi yang terrjadi dalam suatu keluarga tidak sama dengan komunikasi keluarga yang lain.Setiap keluarga mempunyai pola komunikasi tersendiri.Relasi antara anak dan orang tua menunjukkan adanya keragaman yang luas. Relasi orang tua dan anak dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap orang tua. Sikap yang berhubungan dengan afeksi dan dominasi; ada orang tua yang mendominasi, yang memanjakan, acuh tak acuk dan oang tua akrab, terbuka, bersahabat. Sikap orang tua yang berhubungan dengan ambisi dan minat yaitu sikap orang tua yang mengutamakan sukses sosial, milik keduniawian, suasana keagamaan dan nilai-nilai artistik. Perbedaan struktur social dapat menyebabkan perbedaan relasi antara orang tua dan anak.
1.      Masyarakat industri modern: anak sering kurang melakukan relasi dengan orang tuanya sehingga koordinasi relasi lemah.
2.      Masyarakat pertanian: terdapat relasi yang dekat dengan tetangga dekat
3.      Masyarakat yang mengenal pemisahan orang dewasa dan anak : banyak
menimbulkan prasangka
4.      Kehidupan di rumah sewaan (di kota besar) dan rumah sederhana (di desa):  Proses hidup dan kehidupan terbuka

Tujuan komunikasi yang akan dicapai dapat dilihat dari sudut kepentingan sumber dan penerima, dari sudut kepentingan sosial dan pribadi. Tujuan komunikasi dari sudut kepentingan sumber, yaitu untuk memberikan informasi, mendidik, menghibur dan menganjurkan suatu tindakan. Tujuan komunikasi dari sudut kepentingan penerima yaitu untuk memahami in formasi, mempelajari sesuatu, menikmati dan menerima atau menolak suatu anjuran.
Tujuan komunikasi untuk kepentingan sosial adalah untuk mengendalikan apa yang terjadi di lingkungan masyarakat dalam mencegah keresahan, memelihara ketertiban dan keamanan; untuk fungsi sosialisasi dalam upaya pendidikan dan pewarisan nilai-nilai budaya, norma-norma; memberikan hiburan pada warga masyarakat. Tujuan komunikasi untuk kepentingan pribadi yaitu untuk menentukan keputusan dalam bertindak sesuai aturan sosial, memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk hidup bermasyarakat; menikmati hiburan, rileks dari kesulitan hidup sehari-hari.
Tujuan komunikasi dalam interaksi keluarga ditinjau dari kepentingan orang tua adalah untuk memberikan informasi, nasihat, mendidik dan menyenangkan anak-anak. Anak berkomunikasi dengan orang tua adalah untuk mendapatkan saran, nasihat, masukan atau dalam memberikan respon dari pertanyaan orang tua. Komunikasi antar anggota keluarga dilakukan untuk terjadinya keharmonisan dalam keluarga.[6]
Hasil komunikasi atau akibat komunikasi dapat mencapai aspek kognitif menyangkut kesadaran dan pengetahuan,aspek afektif menyangkut sikap dan persaan dan aspek psikomotor menyangkut perilaku dan tindakan. Hasil komunikasi di antara anggota keluarga yaitu terjadinya perubahan perilaku anggota keluarga dalam menjaga keharmonisan hubungan keluarga.

G.  Metodologi Penelitian
Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif fenomenologis. Dikatakan demikian karena jenis penelitian ini mempunyai ciri-ciri antara lain setting yang aktual, peneliti adalah instrumen kunci, data bersifat deskriptif, menekankan kepada proses, analisis datanya bersifat induktif, dan meaning (pemaknaan) tiap peristiwa adalah merupakan perhatian yang esensial dalam penelitian kualitatif.  Dikatakan fenomenologis, karena sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan peristiwa sosial, dengan cara mengungkapkan peristiwa-peristiwa faktual di lapangan dan mengungkapkan nilai-nilai yang tersembunyi (hidden value), lebih peka terhadap informasi-informasi yang bersifat deskriptif dan berusaha mempertahankan keutuhan obyek yang diteliti.
1.      Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah; Pola komunikasi guru terhadap perubahan akhlak siswa pada MIS Tanjong Beuridi.

2.      Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah:
1.      Informan kunci (key informan), adalah orang tua siswa, para guru MIS Tanjong Beuridi, siswa MIS Tanjong Beuridi dan tokoh masyarakat.
2.      Tempat dan peristiwa, dimana peneliti memperoleh data antara lain meliputi proses belajar mengajar, proses pengambilan keputusan, rapat-rapat dewan guru, rapat-rapat pengurus komite madrasah, sosialisasi dan pengelolaan program, serta proses pengelolaan kelembagaan.
3.      Dokumen, antara lain meliputi hasil-hasil rapat, hasil belajar siswa, kondisi sarana prasarana, dan lain-lain. Data ini dipergunakan untuk melengkapi hasil wawancara dan pengamatan terhadap tempat dan peristiwa.

3.      Proses Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data penelitian ini dilakukan melalui 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu; proses memasuki lokasi penelitian (getting in), ketika berada di lokasi penelitian (getting along) dan tahap pengumpulan data (logging the data). Data dikumpulkan dengan menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu: Observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi.

4.      Analisis Data.
Proses analisis data ini dilakukan secara terus menerus, bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data selesai dilakukan. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaskan Miles dan Huberman, sebagaimana dikutip Sukmadinata, yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing/verivication), biasa dikenal dengan model analisis interaktif.[7]
Data yang diperoleh dari lapangan melalui observasi dan wawancara pada MIS Tanjong Beuridi, dianalisis dahulu untuk mengetahui maknanya dengan cara menyusun data, menghubungkan data, mereduksi data, menyajikan data dan menarikan kesimpulan, selama dan sesudah pengumpulan data berlangsung. Analisis ini berlangsung secara sirkuler dan dilakukan sepanjang penelitian. Karena itu, sejak awal penelitian, peneliti sudah memulai pengumpulan dan analisis data berkenaan dengan masalah penelitian.
a.       Reduksi data
Data yang diperoleh dalam penelitian direduksi, agar tidak terlalu bertumpuk-tumpuk dan memudahkan dalam mengelompokkan data serta memudahkan dalam menyimpulkan. Reduksi data sebagai suatu proses pemilihan, memfokuskan pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data "mentah/kasar" yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan hal-hal yang penting, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak dibutuhkan, dan mengorganisasikan data agar lebih sistematis, sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan yang bermakna. Data yang telah direduksi dimaksudkan dapat memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan.
b.      Penyajian data
Penyajian data merupakan proses pemberian sekumpulan informasi yang sudah disusun yang memungkinkan untuk penarikan kesimpulan. Penyajian data merupakan gambaran secara keseluruhan dari sekelompok data yang diperoleh, agar mudah dibaca secara menyeluruh. Penyajian data dilakukan secara naratif dan dibantu dengan penggunaan tabel dan bagan atau skema, dapat berupa matriks, grafik, jaringan kerja, dan lainnya. Dengan adanya penyajian data maka peneliti dapat memahami apa yang sedang terjadi dalam kancah penelitian dan apa yang dilakukan peneliti dalam mengantisipasinya.
c.       Kesimpulan
Data awal yang berujud kata-kata, tulisan dan tingkah laku yang terkait dengan manajemen komunikasi dalam keluarga terhadap perubahan akhlak siswa berbasis di MIS Tanjong Beuridi, diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara serta studi dokumen. Kesimpulan pada awalnya masih longgar, namun kemudian meningkat menjadi lebih rinci dan mendalam dengan bertambahnya data dan akhirnya kesimpulan merupakan suatu konfigurasi yang utuh.
d.      Merumuskan temuan.
Temuan-temuan yang diperoleh dari penarikan kesimpulan / analisis data, dirumuskan menjadi suatu tema umum. manajemen komunikasi dalam keluarga terhadap perubahan akhlak siswa di MIS Tanjong Beuridi, dijadikan sebagai tema umum penelitian. Dari tema umum ini dijabarkan temuan khusus yang memiliki tema tersendiri.
e.       Membuat laporan hasil penelitian.
Berdasarkan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian, dibuat laporan hasil penelitian. Secara keseluruhan penulisan laporan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian serta landasan teori. Kemudian Jenis penelitian yang dibagi beberapa bagian, diantaranya metodelogi penelitian. Dan bagian terakhir hasil penelitian dan pembahasan yang disertai dengan kesimpulan.
5.      Teknik Penjaminan Keabsahan Data
Untuk memperkuat kesahihan data hasil temuan dan keotentikan penelitian, maka peneliti mengacu kepada penggunaan standar keabsahan data yang terdiri dari: Credibility, transperability, dependability dan  comfirmability.
a.       Keterpercayaan (creadibility) yaitu menjaga keterpercayaan penelitian dengan cara; 1) Melakukan pendekatan persuasif MIS Tanjong Beuridi, sehingga pengumpulan data dan informasi tentang semua asfek diperlukan dalam penelitian ini akan diperoleh secara sempurna; 2) ketekunan pengamatan, karena informasi dan aktor-aktor itu perlu ditanya secara silang untuk memperoleh informasi yang sahih; 3) melakukan triangulasi, yaitu informasi yang diperoleh dari beberapa sumber perlu dibandingkan dengan data pengamatan, mendiskusikan dengan teman sejawat yang tidak berperan serta dalam penelitian, sehingga penelitian akan mendapat masukan dari orang lain, analisis kasus negatif, menganalisis dan mencari kasus atau keadaan yang menantang atau menyanggah temuan penelitian, sehingga tidak ada lagi bukti yang menolak temuan-temuan hasil penelitian.
b.      Dapat ditransfer (transferability). Pembaca laporan penelitian ini diharapkan mendapatkan gambaran yang jelas mengenai situasi yang bagaimana agar hasil penelitian dapat diaplikasikan atau diberlakukan kepada konteks atau situasi lain yang sejenis.
c.       Keterikatan (defendability). Peneliti mengusahakan konsistensi dalam keseluruhan proses penelitian ini agar dapat memenuhi persyaratan yang berlaku.
d.      Kepastian atau dapat dikonfirmasikan (comfirmability). Data harus dapat dipastikan keterpercayaannya atau diakui oleh banyak orang (objektivitas) sehinga kualitas data dapat dipertanggung jawabkan sesuai fokus penelitian yang dilakukan.

H. Hasil Penelitian
1.      Temuan Umum Penelitian
a.       Sejarah Singkat MIS Tanjong Beuridi
MIS Tanjong Beuridi secara historis merupakan Madrasah Madrasah Swasta (MIS) yang didirikan  oleh masyarakat pada tanggal 1 Agustus 1995. Kemudian pada tahun 1996 berdasarkan SK Izin Operasional Nomor 1996.a Tahun 1996 dan menjadi  lokal jarak jauh (Fillial) dari MIN Uteuen Gathom Kec. Peusangan Selatan Kabupaten Bireuen, kemudian tahun 2006 MIS Tanjong Beuridi berdiri sendiri setelah mendapat Nilai akreditasi B untuk bisa mengatur diri sendiri dalam memajukan pendidikan anak. MIS Tanjong Beuridi merupakan salah satu Madrasah Ibtidaiyah terpencil dalam Kabupaten Bireuen, dan selama konflik melanda Aceh kawasan ini menjadi salah satu basecamp kaum kombatan (pemberontak). Walaupun demikian segala sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MIS Tanjong Beuridi sudah setara dengan madrasah negeri atau madrasah yang berlokasi diperkotaan. Fasilitas yang lengkap mulai dari gedung yang permanen, ruang praktek, mushalla, dan media pembelajaran semua tersedia dengan pengelolaan manajemen yang baik sesuai dengan standar yang berlaku.

b.      VISI, MISI dan TUJUAN
Terkait dengan tujuan umum didirikannya MIS Tanjong Beuridi, setidaknya hingga saat ini MIS Tanjong Beuridi telah eksis dalam melahirkan putra-putri bangsa yang tangguh dan handal, karena hal ini telah tertuang dalam visi dan misi MIS Tanjong Beuridi. Untuk mengantarkan aplikasi visi yang ditetapkan oleh MIS Tanjong Beuridi, ditetapkan pula misi dalam mencapai hal-hal yang telah tertera dalam visi MIS Tanjong Beuridi. Adapun misi MIS Tanjong Beuridi secara rinci adalah sebagai berikut:
a.       VISI:
Unggul Dalam Prestasi Berdasarkan Nilai-Nilai Islam.
b.      MISI:
1)      Menciptakan peserta didik yang berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa;
2)      Menciptakan generasi yang kreatif dan bermutu, terampil dan bertaqa;
3)      Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif hingga secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki;
4)      Menumbuhkan tanggung jawab dan kerja sama dalam meningkatkan mutu;
5)      Mengoptimalkan MIS Tanjong Beuridi sebagai MI Unggul dan berprestasi dalam mengembangkan pendidikan di masyarakat sehingga menjadi Madrasah yang populer dan menjadi kebanggaan masyarakat (Umat Islam).
c.       TUJUAN
Meningkatkan prestasi belajar siswa agar mampu bersaing dan bersanding dengan sekolah lain, dan menghasilkan generasi yang berakhlak mulia, berbakti pada agama, bangsa dan negara.

MIS Tanjong Beuridi merupakan lembaga pendidikan formal yang berbasis sekolah dengan ciri khas keIslaman, sehingga MIS Tanjong Beuridi dituntut harus mampu melahirkan alumni-alumni yang intelaktual dan Islami. Oleh karena itu MIS Tanjong Beuridi mengutamakan penanaman nilai kepada peserta didiknya.

2.      Temuan Khusus Penelitian
Komunikasi sebagai pengoperan pesan idea atau gagasan untuk menyatukan kekuatan sehingga terjadi interaksi antara orang-orang yang berkomunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Dalam mencapai tujuan bersama yaitu perubahan akhlak, para guru yang didukung oleh orang tua melaksanakan pola komunikasi yang baik, berkomunikasi antara sesama orang tua murid,  guru dengan sesama guru, guru dengan murid, orang tua dengan remaja dan aparatur gampong (desa).
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan pada bagian awal, ditemukan hasil  sebagai berikut:

1.      Akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi
Interaksi adalah proses dimana masing-masing individu mangadakan kontak baik itu lisan ataupun tulisan. Komunikasi terjadi jika ada interaksi diantara dua atau lebih individu, dalam hal ini proses interaksi antar guru di sekolah terjadi setiap hari. Dalam beberapa tahun sebelumnnya terutama kondisi Aceh dilanda konfilik, para anak-anak kurang terkontrol dalam pendidikan baik pendidikan agama maupun umum.  Akhlak anak-anak dalam kesehariannya tidak begitu dikontrol oleh orang tua dan masyarakat, diantara penyebabnya suasana yang mencekam disaat-saat tertentu dan mereka kadangkala harus mengungsi terlebih orang tua siswa yang laki-laki.[8]
Kondisi demikian, pola asuh orang tua terhadap anaknya tidak begitu diperhatikan dan anak dalam bergaul pun tidak dikontrol sepenuhnya. Setelah (pasca) damai pengawasan terhadap anak mulai dilakukan sedikit demi sedikit dan saling berkomunikasi satu sama lain dalam menjaga anak-anak mereka. Dalam berkomunikasi biasanya menggunakan dua bentuk atau pola komunikasi yaitu komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok. Kedua bentuk komunikasi tersebut digunakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dengan demikian diperlukan komunikasi pembinaan akhlak anak dengan menggunakan pola komunikasi antarpribadi guru, orang tua dan masyarakat agar lebih efektif untuk memperbaiki perilaku dan perbuatan anak menjadi muslimah yang berakhlakul karimah, karena kebiasaan-kebiasaan baik yang biasa dilakukan oleh mereka dibiasakan sejak dini.

2.      Pola komunikasi guru terhadap perubahan akhlak Siswa MIS Tanjong Beuridi
Ada beberapa poin penting yang ditemukan dalam penelitian ini tentang pola komunikasi guru terhadap perubahan akhlak siswa MIS Tanjong Beuridi, yaitu:
a.       Perencanaan Melalui Musyawarah
Dalam mengatasi kenakalan dikalangan anak-anak para orang tua, guru dan pihak masyarakat bermusyawarah bersama tiap-tiap awal semester. Musyawarah tersebut dilakukan untuk merencanakan program-program mengatasi kesulitan belajar anak, prestasi dan kenakalan anak-anak disamping untuk meningkatkan kerjasama dalam pengawasan nanti. Perencanaan melalui musyawarah wali murid bersama ini sengaja dilakukan pihak sekolah sebagai input untuk mengatasi kenakalan anak-anak yang selama ini terjadi dan diorganisasikan dalam bentuk konseling Islami.
Kegiatan ini dilakukan di sekolah-sekolah tapi kadang kala dilakukan juga tingkat Desa (gampong). Melalui musyawarah ini diharapkan nantinya ada kesepahaman antara orang tua murid dengan guru-guru (pihak sekolah) untuk saling membimbing dan mengawasi anak-anak. Komunikasi yang selama ini dilakukan oleh para guru MIS dengan memberi contoh baik dengan ucapan maupun perbuatan/tingkah laku guru sehari-hari.[9]
Responden lain mengatakan pola komunikasi yang dilakukan dengan membimbing anak bila berkata-kata tidak senonoh atau berbuat kenakalan. Menegur adalah langkah pertama untuk membiasakan anak untuk beraklak baik, dan memberi sanksi apabila tetap melanggar. Sanksi ini telah disepakati melalui musyawarah dengan orangtua murid sebelumnya.[10]
Kegiatan ini menurut analisa penulis suatu pengelolaan yang diprogramkan untuk mengatasi kenakalan atau dengan kata lain membina akhlaq siswa melalui pendalaman ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian para guru dalam merubah akhlak anak mereka lebih terencana dan terorganisir dengan baik.

b.      Pendekatan Personal dan Kegiatan Keagamaan
Melakukan pendekatan personal bersifat persuasif. Tehnik ini jurus jitu dan ampuh merubah akhlak anak, sebagaimana hasil wawancara:
Kami para guru melakukan pendekatan personal dengan memanggil anak yang bertingkah atau berkata-kata menyalahi agama dengan memberi saran-saran dan nasihat-nasihat agama terhadap tingkah laku yang diperagakan/dilakukan tersebut.[11]
Hasil wawancara ini, untuk membuktikan kebenaran penulis mengamati (observasi) pola pendekatan yang dilakukan guru secara personal (individu anak). Dan hasil observasi juga guru bergaul dan bercakap dengan sesamanya dengan pergaulan/bercakap berciri khas Islam. Hal ini memungkinkan untuk dicontoh anak apa yang dikerjakan oleh gurunya.
Untuk menangkal perilaku (akhlaq) siswa, pihak sekolah melaksanakan kegiatan rohani Islam berupa pengajian-pengajian dan lomba-lomba keagamaan yang berhubungan dengan akhlak. Yang tujuannya untuk membangkitkan motivasi belajar anak bidang agama dan menetralisir perilaku anak yang menyimpang dengan norma agama.[12]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi guru dilakukan secara pendekatan personal dan kegiatan keagamaan. Pola ini sedikit banyaknya dapat mengatasi atau meredam akhlak anak yang kadang kala diluar batas normal agama.

c.       Mengambil tindakan pengoreksian bila dianggap perlu.
Permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam pengawasan karena harus melakukan koordinasi terhadap tiga hak yaitu; komunikasi, koordinasi dan kerjasama, sehingga diperlukan perhatian terhadap masalah siswa dan cara pengawasan terhadapnya.
Setiap individu yang mempunyai hubungan dengan seseorang menginginkan hubungannya selalu berjalan dengan baik, tetapi karena adanya beberapa faktor sejalan dengan berputarnya waktu membuat suatu hubungan itu kadang meningkat Proses keintiman keluarga dalam berkomunikasi terjadi karena masing-masing individu menggunakan model komunikasi.
Pada poin ini penulis berkesimpulan dari hasil observasi, dokumentasi dan wawancara bahwa tindakan pengoreksian dilakukan apabila pola-pola atau pendekatan personal dan pendekatan kegiatan keagamaan tersebut tidak berhasil dilaksanakan. Artinya tindakan ini menjadi “kata-kata” terakhir bagi guru dan pihak sekolah sehingga mengambil tindakan.
Dalam buku kasus siswa yang penulis amati bahwa kebanyakan anak-anak melakukan tindakan-tindakan yang bersifat nakal yakni menganggu teman, mengambil punya kawannya dan sering berkata-kata kotor. Poin-poin ini yang mendominasi buku kasus siswa yang apabila si siswa yang bersangkutan tidak sanggup diatasi.
Menurut responden (guru), apabila kenakalan anak sudah masuk dalam buku kasus dikategorikan anak yang bermasalah dan telah dipanggil orangtuanya. Apabila tidak sanggup juga diatasi setelah dipanggil orangtuanya, dengan hasil kesepakatan bersama melalui musyawarah yang sudah dilakukan awal semester dengan terpaksa di keluarkan atau dimutasi ke sekolah lain.[13]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tindakan pengkoreksian ini dilakukan apabila pendekatan-pendekatan yang bersifat persuasif tidak bisa mengatasi masalah.

J.        Kesimpulan
            Pola komunikasi yang dilakukan di madrasah berbeda-beda namun tetap pada perubahan akhlak anak. Sebelum melakukan komunikasi yang edukatif, pihak sekolah mengajak semua dewan guru dan perangkatnya berserta orang tua murid dan masyarakat untuk bersama-sama melakukan musyawarah dalam mengatasi krisis aklak anak.
Pola yang dilakukan dengan melakukan pendekatan personal dan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan sebagai langkah penetralisir akhlak anak. Dengan pola ini diharapkan dapat mencegah hal-hal yang diinginkan. Pola pendekatan personal, guru mengajak sambil meberi nasehat pada anak yang nakal agar selalu menjadi anak yang baik, tidak melanggar aturan agama dan sekolah. Sedangkan pola kegiatan keagamaan diharapkan anak akan terbiasa dengan nilai-nilai agama.
Apabila pola ini tidak manpan, jurus terakhir adalah mengambil tindakan pengkoreksian yang dianggap perlu dengan catatan masih bernilai edukatif.


 DAFTAR PUSTAKA

Al-Rasyidin, Kepribadian dan Pendidikan, Bandung: Cita Pustaka Media, 2006.
Cecep Darmawan, Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Moral dan  Global dalam Perspektif Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dalam kehidupan Keluarga Sekolah dan Masyarakat, Bandung: Jurusan PKK FPTK UPI, 2007.
Haidar Putra Daulay. Dinamika Pendidikan Islam, Bandung: Cita Pustaka Media, 2004.
Liliweri, Alo, Komunikasi Antarpribadi. Bandung : Citra Aditya Bakti, 1997.
M. Zein Yusuf, Akhlak-Tasawuf, Al-Husna, Semarang, 1993.
Sahilun A. Nasir, Etika dan Problematikanya Dewasa ini, Bandung: Al-Ma’arif,    1980.                      

Pedoman Wawancara

Wawancara dengan Orang Tua, Tokoh Masyarakat, dan Warga Sekolah.
1.      Bagaimanakah kondisi akhlak anak-anak di madrasah ini?
2.      Bagaimanakah pola komunikasi yang dilakukan para guru terhadap anak-anaknya terutama komunikasi edukatif dalam perubahan akhlak anak?
3.      Bagaimanakah hasil pola komunikasi guru yang selama ini diterapkan di sekolah ini?



                [1]Haidar Putra Daulay. Dinamika Pendidikan Islam, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2004), h. 237.
                [2]Al-Rasyidin. Kepribadian dan Pendidikan, (Bandung: Cita Pustaka Media, 2006), h. 124.
                        [3] Sahilun A. Nasir, Etika dan Problematikanya Dewasa ini, (Bandung: Al-Ma’arif, 1980), hal 98-99
                [4] M. Zein Yusuf, Akhlak-Tasawuf, Al-Husna, Semarang, 1993, hal.56
                        [5] Liliweri, Alo, Komunikasi Antarpribadi. Bandung : Citra Aditya Bakti, 1997), h. 14.
[6]Cecep Darmawan, Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Moral dan  Global dalam Perspektif Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dalam kehidupan Keluarga Sekolah dan Masyarakat (Bandung : Jurusan PKK FPTK UPI, 2007), h. 93
[7]Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 114-116.
[8]Wawacara dengan Muzakkir, Kepala Desa (Keuchiek) Tanjong Beuridi, tanggal 28 Noveam mber 2013
[9]Hasil wawancara dengan Fauziah, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan,  tanggal 28 november 2013
[10]Hasil wawancara dengan Nuridah, Guru Kelas VI pada MIS Tanjong Beuridi,  tanggal 10 Desember 2013.
[11]Hasil wawancara dengan Erwan, Guru bidang stui Alquran Hadis pada MIS Tanjong Beuridi,  tanggal 10 Desember 2013
[12]Hasil wawancara dengan Mahrizal, Guru dan Ketua Bidang Kegiatan Ekstrakulirkuler Kegamaan MIS Tanjong Beuridi,  tanggal 10 Desember 2013
[13]Hasil wawancara dengan Nuridah,  tanggal 10 Desember 2013