Home » » Membangun Kreativitas dan Perubahan

Membangun Kreativitas dan Perubahan

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Oleh: Muntadhar/12 PEDI 2556 
Mahasiswa Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam PPs IAIN SU-Medan

A.    Pendahuluan
Mencurahkan segala daya dan kemampuanya untuk selalu berinofasi menemukan sesuatu yang baru yang dapat membantu hidup menjadi lebih baik itu adalah syarat mutlak untuk tidak tertinggal atau tergerus oleh zaman yang selalu berkembang.
Guru sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap usaha pendidikan dengan pengajaran. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pembelajaran, khususnya mengenai masalah kurikulum dan peningkatan sumber daya yang dimiliki oleh siswa yang dihasilkan oleh pembelajaran yang sering bermuara pada faktor kemampuan guru. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru dituntut untuk senantiasa berperan aktif dan eksis dalam dunia pendidikan sesuai dengan zaman yang selalu berkembang.

Keahlian dan kepribadian guru merupakan salah satu faktor yang sangat berperan sekaligus menjadi loncatan bagi siswa untuk meraih keberhasilan khususnya prestasi baik dari segi analisis maupun kemampuan mendayagunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah tantangan penyelenggaraan pendidikan yang berkwalitas yang merupakan cita-cita mulia bangsa Indonesia. Oleh karena itu, gagasan inovasi pendidikan oleh seorang pendidik sangatlah diperlukan, dengan dukungan elemen terkait supaya tidak  terjadi kemandekan pada dunia pendidikan kemudian akan berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, social dan lain-lain.

B.     Inovasi dan Resistansi pada Perubahan
Inovasi adalah suatu ide , gagasan, praktik atau obyek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi. Oleh sebab itu, inovasi pada dasarnya merupakan pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik-praktik tertentu ataupun berupa produk dari suatu hasil olah pikir dan olah teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu kedaan tertentu ataupun proses tertentu yang terjadi di masyarakat.[1] 
Inovasi juga dikatakan menghasilkan produk baru atau idea baru dengan tujuan untuk memperbaiki yang sudah ada supaya lebih baik dari keadaan atau situasi sebelumnya  sehingga meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas.
Pendidikan adalah suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas misalnya sistem pendidikan nasional
Inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan untuk memecahkan masalah dalam pendidikan. Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik dalam arti sempit tingkat lembaga pendidikan maupun arti luas di sistem pendidikan nasional. Sehingga dapat dikatakan inovasi kurikulum merupakan suatu hal yang dapat terjadi dalam ruang lingkup pendidikan itu sendiri.[2]
Jadi inovasi pendidikan ialah suatu  ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan sehingga efisiensi, relevansi, berkualitas dan efektivitas. Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Ciri-ciri inovasi pendidikan dapat dikenal dengan beberapa identifikasi, ada empat hal ciri-ciri inovasi pendidikan, yaitu:
  • Ketika masyarakat/orang tua mulai sibuk dengan peran keluar sehingga tugas pendidikan anak sebagian digeser dari orang tua pindah ke guru atau dari rumah ke sekolah.
  • Terjadi adopsi kata yang ditulis ke instruksi lisan
  • Adanya penemuan alat untuk keperluan percetakan yang mengakibatkan ketersediaan buku lebih luas.
  • Adanya alat elektronika yang bermacam-macam radio, telepon, TV, computer, LCD proyektor, perekan internet, LAN, dsb ).[3]
Selanjutnya sesuatu hal yang Implisit dalam kepengawasan adalah hubungan yang berkelanjutan antara atasan dan supervisi, akuisisi supervisi tentang identitas peran profesional, dan evaluasi pengawas kinerja supervisi ini.[4] Meskipun tujuan membantu supervisi berkembang menjadi seorang konselor yang efektif mungkin terlihat sederhana, dapat menjadi pengalaman kecemasan-merangsang. Kecemasan Pengawasan diinduksi menyebabkan supervisi untuk merespon dalam berbagai cara, dengan beberapa tanggapan yang defensif. Ini memang perilaku defensif, yang melayani tujuan mengurangi kecemasan, yang disebut sebagai resistensi.
Resistensi terjadi karena dinamika proses pengawasan dan, pada kenyataannya, dapat menjadi respons yang tepat terhadap pengawasan (misalnya, pengawas melakukan terapi bukan pengawasan). Dalam kasus lain, resistensi adalah respons terhadap kecemasan dimana ia menjadi peran pengawas untuk menangani kecemasan sehingga kebutuhan untuk ketahanan akan berkurang atau mungkin dihilangkan.
Meskipun begitu resistensi adalah kejadian umum dalam pengawasan, menangkal perlawanan tidak sederhana. Dua faktor utama mempengaruhi metode yang digunakan untuk menangkal perlawanan. Pertama, hubungan sangat penting. Hubungan pengawasan positif didasarkan oleh kepercayaan, rasa hormat, hubungan, dan empati sangat penting untuk menangkal perlawanan[5]. Faktor kedua dalam menangkal perlawanan adalah cara hubungan pengawasan dipandang. Pengawas melihat hubungan sebagai titik fokus dalam pengawasan biasanya menganjurkan eksplorasi penuh konflik . Sebaliknya, pengawas melihat pekerjaan terapeutik sebagai fokus utama pengawasan menganjurkan eksplorasi lebih terbatas konflik.
Bauman (1972) membahas beberapa teknik untuk mengelola resistensi supervisi. Interpretasi, konfrontasi paling langsung, termasuk menjelaskan dan menginterpretasikan resistensi supervisi itu. Meskipun kurang menghadapi, umpan balik juga merupakan bentuk konfrontasi langsung. Klarifikasi menggunakan penyajian kembali untuk membantu supervisi dalam memahami perilakunya. Generalisasi resistensi terhadap pengaturan lainnya mengambil fokus dari hubungan pengawasan dan membantu supervisi mengenali/perilaku maladaptif nya. Mengabaikan resistensi dianjurkan hanya jika perilaku bisa dihilangkan tanpa konfrontasi. Role-playing dan alter-ego bermain peran, meskipun lebih mengancam, mungkin dapat membantu dalam mengidentifikasi penyebab perilaku resisten. Rekaman audio sesi pengawasan sangat membantu untuk mengelola resistensi. Bauman mencatat bahwa keberhasilan teknik tergantung pada kepribadian supervisor dan supervisi dan interaksi di antara mereka.
Jika konfrontasi dianggap tidak pantas, Masters (1992) menyarankan reframing positif untuk mengurangi resistensi. Reframing positif meliputi: memberdayakan supervisi, meningkatkan supervisi harga diri, dan pemodelan metode yang efektif untuk mengatasi pikiran, perasaan , dan perilaku.
C.    Mensiasati Upaya Melakukan Inovasi
Setiap orang atau individu dalam pendidikan hendaknya berperan melakukan inovasi dalam pendidikan karena prestasi pendidikan tergantung dari prestasi individu dalam pendidikan. Prestasi individu dalam pendidikan merupakan bagian dari prestasi pendidikan yang pada gilirannya merupakan prestasi organisasi pendidikan. Karena itu semua unsur di dalam dunia pendidikan, baik guru maupun yang terlibat dalam proses pendidikan harus mempunyai niat dan perhatian serta konsistensi yang terintegrasi dan berkesinambungan. Semua pihak yang berperan serta dalam proses inovasi pendidikan harus  mengetahui tujuan, sasarannya dan perencanaan maupun strategi yang dipergunakan, sehingga hasilnya dapat memenuhi harapan dalam pendidikan.
Saat ini adalah era globalisasi dan revolusi informasi, dimana telah mengakibatkan terjadinya persaingan secara bebas dalam berbagai hal, tidak lagi mengenal batas-batas negara dan teritori. Semuanya bersaing dan berlomba-lomba meraih kesempatan dalam sistem mekanisme pasar global. Apabila dunia pendidikan di Indonesia tidak menghasilkan pendidikan yang berkualitas maka akan kalah di pasaran dan akan tergerus jaman yang semakin canggih dan inovatif. Inilah tantangan bagi dunia pendidikan pendidikan. Untuk mengantisipasi perubahan tersebut merupakan tugas yang tidak ringan, terutama bagi penyelenggara kegiatan pendidikan. Di sini dibutuhkan manajemen pendidikan yang baik (well manage) dan strategi pelaksanaan inovasi agar organisasi pendidikan mampu menghasilkan SDM yang berkualitas.
Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain dalam hal manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi  kurikulum dan sebagainya.
Tahap demi tahap arah pentingnya inovasi pendidikan Indonesia antara lain:
  • Mengejar ketinggalan-ketinggala yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajara dengan kemjuan tersebut
  • Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
Dalam melakukan strategi inovasi, terdapat tiga jenis strategi inovasi, yaitu: power coercive (strategi pemaksaan), rational empirical (empirik rasional), dan normative re-educative (pendidikan yang berulang secara normatif)”.[6]
  • Strategi Pemaksaaan Berdasarkan Kekuasaan.
Pola ini dapat dikatakan sebagai suatu pola inovasi yang lebih bersifat top down. Strategi ini seperti komando karena cenderung bersifat perintah dan memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya, di mana inovasi itu akan dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang justru sebagai objek utama dari inovasi itu sendiri malahan tidak dilibatkan sama sekali, baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya.
Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai objek semata dan bukan sebagai subjek, sehingga tidak harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan dan pengimplementasiannya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya. Contohnya adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ini. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidikan dan lain-lain.
  • Empirik rasional.
Dalam strategi ini dikenal adanya asumsi dasar bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga manusia mampu untuk bertindak secara rasional. Dalam strategi ini inovator bertugas mendemonstrasikan inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik dan valid untuk memberikan manfaat bagi penggunanya.  Guru dapat menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berdasarkan pemikiran, idea, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut.
  • Normatif reedukatif (pendidikan yang berulang)
Adalah suatu strategi inovasi yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaruan, seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia. Dalam pendidikan, bila sebuah strategi menekankan pada pemahaman pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan. Kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan dengan hasil dari perubahan itu sendiri.
Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain: dalam hal manajemen pendidikan, metode pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi kurikulum, dan sebagainya.
Strategi memerlukan motivasi, bahwa motivasi yang dapat mendorong lahirnya  inovasi pendidikan adalah sebagai berikut:
  1. Kemauan sekolah atau lembaga pendidikan terhadap tantangan kebutuhan masyarakat
  2. Adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah  yang dihadapi masyarakat
D.    Beberapa Upaya Perubahan
Motivasi dari pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan pendidikan akan mendorong tercapainya tujuan inovasi pendidikan untuk menjawab tantagan era global. Manajemen pelaksanaan inovasi sendiri dari sudut proses berhubungan dengan kegiatan perencanaan. Yang mana dalam perencanaan inovasi menuntut untuk melakukan asesmen situasi dan mengidentifikasi tujuan dari inovasi itu sendiri. Keberhasilan inovasi akan berjalan baik, jika didukung oleh perencanaan inovasi yang efektif.
Realisasi  inovasi pendidikan  yang sudah dilakukan di Indonesia, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Inovasi Kurikulum melalui strategi  power coercive  atau model inovasi Top Down Inovation Inovasi model.
Diawali tahun 1950 ada kurikulum SD “ Rencana Pelajaran Terurai”, tahun 1960 muncul “Kurikulum Kewajiban Belajar Sekolah Dasar”, tahun 1968 dikenal “Kurikulum 1968”, pengganti kurikulum 1950. Lalu tahun 1970 muncul “Kurikulum Berhitung”. Pada tahun 1975 “ Kurikulum 1975” yang berfokus pada pelajaran Matematika dan Pendidikan Moral Pancasila serta Kewarganegaraan. Pada tahun 1984 menyempurnakan kurikulum 1975 dengan model “Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)”. Dilanjutkan pada tahun 1991 dihentikan, kemudian muncul  “Kurikulum 1994”. Tahun 2004 dikenal “Kurikulum Berbasis Kompetensi”  (KBK). Dan terakhir tahun 2006 muncul “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP).[7]
  • Strategi empirik rasional atau model  bottom up Inovation
Model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Guru dapat menciptakan strategi atau  metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berdasarkan pemikiran, idea, berkaitan dengan situasi dan kondisi. Biasanya dilakukan oleh para guru di sekolah, bagaimana supaya kegiatan dalam pembelajaran menjadi lebih menarik.[8]
  • Pembelajaran Berbasis Otak
Jika ditinjau dari bidang neurosains, suatu pembelajaran diartikan sebagai merupakan respons terhadap rangsangan sepanjang waktu. Otak manusia merupakan bagian tubuh manusia yang paling kompleks dan merupakan satu-satunya organ yang senantiasa berkembang sehingga ia dapat mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat oleh tubuh yang sehat dan lingkungan yang menimbulkan rangsangan, otak itu akan berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun.[9]
Banyaknya bukti yang sekarang muncul mengenai belajar dan perkembangan otak menghasilkan suatu gerakan menuju praktik pendidikan yang mendukung pemahaman intuitif sebelumnya tentang belajar melalui keterlibatan langsung dengan aktivitas. Beberapa riset sudah menunjukkan bahwa janin yang masih berada dalam kandungan pun sudah belajar secara intens mengenai dunia di luar. Paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan hendaknya mengacu pada perkembangan otak manusia seutuhnya.
Realitas pembelajaran dewasa ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar lebih banyak mengacu pada target pencapaian kurikulum dibandingkan dengan menciptakan siswa yang cerdas secara utuh. Sementara itu, kegiatan yang terjadi di dalam ruang belajar masih bersifat konvensional yakni menempatkan guru pada posisi sentral (teacher centered) dan siswa sebagai objek pembelajaran.
Beberapa sekolah  sudah menerapkan sitem sekolah berbudaya lingkungan. Tidak hanya strategi Pemberian rangsang terhadap dengan memberikan soal-soal untuk mengevaluasi materi pelajaran tetapi  soal-soal yang diberikan dikemas seatraktif mungkin sehingga kemampuan berpikir siswa lebih otimal, seperti melalui teka-teki, simulasi, permainan lingkungan dan sebagainya. Guru tidak hanya memanfaatkan ruangan kelas untuk belajar siswa, tetapi juga tempat-tempat lainnya, seperti di taman, di lapangan bahkan diluar kampus. Guru menghindarkan situasi pembelajaran yang dapat membuat siswa merasa tidak nyaman, mudah bosan atau tidak senang terlibat di dalamnya.[10]
Strategi pembelajaran yang digunakan lebih menekankan pada diskusi kelompok yang diselingi permainan menarik serta variasi lain yang kiranya dapat menciptakan suasana yang menggairahkan siswa dalam belajar. Selain itu, guru   juga mengupayakan dengan membuat suasana pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang aktif dan bermakna hanya dapat dilakukan apabila siswa secara fisik maupun psikis dapat beraktivitas secara optimal. Strategi pembelajaran dikemas sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara aktraktif dan interaktif, melalui model pembelajaran yang bersifat demonstrasi.
  • Melakukan inovasi pendidikan akhlak berbasis manajemen Qalbu
Inovasi ini banyak dilakukan oleh lembaga pesantren/ lembaga keagamaan. Di dalam Qalbu terhimpun perasaan moral, mengalami dan menghayati tentang salah-benar, baik buruk serta berbagai keputusan yang harus dipertanggung jawabkannya secara sadar, sehingga kualitas Qalbu akan menentukan apakah dirinya bisa tampil sebagai subjek, bahkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, ataukah terpuruk dalam kebinatangan yang hina. Untuk itu perlu upaya untuk membersihkan dan memberikan pencerahan Qalbu, yaitu dengan cara penyucian jiwa yang berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela. Dengan kata lain diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakannya diubah menjadi An Nafs Al Lawwamah dan akhirnya menjadi An Nafs Al Muthma’innah. Selanjutnya adalah dengan cara menghapus kecintaan terhadap dunia serta menghilangkan segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak berguna yaitu dengan cara senantiasa dan terus menerus mengingat Allah.
  •  PAKEM
PAKEM  adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan.
Sehingga jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi.[11]
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu  curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus  dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
  • Contextual Teaching and Learning /CTL
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning/CTL)  merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebihdipentingkan daripada hasil dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.[12]
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukansesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
  • Cooperative learning Model
Pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang  termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergantungan  positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.[13]Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
  • Active learning Pembelajaran aktif (active learning)
Dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
 E.     Kesimpulan
Inovasi adalah suatu ide, gagasan, praktik atau obyek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi
Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain dalam hal manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi  kurikulum dan sebagainya.
Realisasi  inovasi pendidikan  yang sudah dilakukan di Indonesia, beberapa diantaranya adalah Inovasi Kurikulum melalui strategi  power coercive  atau model inovasi Top Down Inovation Inovasi model, Strategi empirik rasional atau model  bottom up Inovation, Pembelajaran Berbasis Otak, Melakukan inovasi pendidikan akhlak berbasis manajemen qalbu, PAKEM, Contextual Teaching and Learning /CTL, Cooperative learning Model dan Active learning Pembelajaran aktif (active learning).
 F. DAFTAR PUSTAKA
Amir, M. Taufik, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, Jakarta: Prenada Media Group, 2009.
Danim, Sudarwan, Inovasi Pendidikan, Jakarta: Pustaka Setia, 2010.
Hasan, Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Mulyasa, E, Menjadi Guru Profesinal Menciptakan pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung: Remaja Rosdakarya,2008.
Sa’ud, Udin Syaefudin, Inovasi Pendidikan, Jakarta: Alfabeta, 2009.
Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad Teknologi Pengajaran,  Bandung: sinar baru Algensido 2003.
Wijaya, Cece, Upaya pembaharuan dalam bidang  pendidikan dan pengajaran Bandung: Remaja Rosdakarya 1991.


[1]M. Taufik Amir, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), h. 4.
[2]Ibid,h.5.
[3]Udin Syaefudin Sa’ud, Inovasi Pendidikan (Jakarta: Alfabeta, 2009) , h. 67.
[4] Bradley, L. . Counselor supervision: Principles, process, and practice (2nd ed.).( Muncie, IN: Accelerated Development, 1989), h. 12
[5] Mueller, W. J., & Kell, B. L. . Coping with conflict: Supervising counselors and psychotherapists. (New York: Appleton-Century-Crofts1972), h. 16-24
[6]Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Setia, 2010), h.89.
[7]E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesinal Menciptakan pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan (Bandung: Remaja Rosdakarya,2008).
[8]Fuad Hasan, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, hlm. 192.
[9]Ibid, h. 204.
[10]Cece Wijaya et.all. Upaya pembaharuan dalam bidang  pendidikan dan pengajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya 1991), h. 67.
[11]Ibid, h.96.
[12]Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. Teknologi Pengajaran,  (Bandung: sinar baru Algensido 2003), h. 76.
[13]Ibid,  h. 134.