Home » » Ibn Tufail

Ibn Tufail

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun


Resume Makalah:

PEMIKIRAN FILOSOFI IBN TUFAIL TENTANG PENDIDIKAN
A.     Biografi Ibn Tufail
Nama lengkap Ibnu Thufail ialah Abu Bakar Muhammad ibn Abd Al-Malik ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Thufail Al-Qaisyi, di Barat dikenal dengan abudecer. Ia adalah pemuka pertama dalam pemikiran filosofis mawahhid yang berasal dari Spanyol.Ibnu Thufail lahir pada tahun 506 H/1110 M atau pada Abad VI H/XIII M di kota Guadix, Provinsi Granada. Keturunan Ibnu Thufail termasuk keluarga suku arab yang terkemuka, yaitu suku Qaisy.
Ibnu Thufail adalah seorang dokter, filosof, ahli matematika dan penyair yang sangat terkenal dari mawahhid spanyol, akan tetapi sedikit karya-karyanya yang di kenal orang. Ibnu Khotib menganggap dua risalah mengenai ilmu pengobatan itu sebagai karyanya. Al Bitruji (muridnya) dan ibnu rusyd percaya bahwa dia memiliki gagasan-gagasan astonomis asli. Miquel Casiri ( 1112 H/1710 M -1205 H/1790 M ) menyebutkan dua karya yang masih ada: risalah Hayy ibn Yaqzan dan asrar Al hikmah Al mashariqiyah, yang disebut terakhir ini berbentuk naskah.kata pengantar dari asrar menyebutkan bahwa risalah itu hanya merupakan satu bagian dari risalah Hayy Ibn Yaqzan, yang judul lengkapnya ialah Risalah Hayy Ibn Yaqzan fi Asrar Al hikamat Al mashariqiyah.

B.     Kisah Hayy Ibn Yazqhan
Ada dua (2) versi yang menceritakan awal perjalanan Hayy ibn Yaqzhan lahir ke alam dunia:
-         Versi Pertama:
Menceritakan Hayy dilahirkan oleh seorang saudari raja yang dikawini Yaqzhan secara rahasia. Karena ibu Hayy takut perkawinannya diketahui raja, maka setelah Hayy lahir lalu diamsukkan ke dalam peti dan dihanyutkan ke laut. Kemudian Hayy terdampar pada suatu pulau yang tidak dihuni manusia di kepulauan Hindia yang dilewati khatulistiwa, yaitu pulau Waq-waq.
-         Versi Kedua:
Hayy adalah “anak alam”. Satu kisah menyebutkan Hayy dibuahkan dari suatu pepohonan yang tidak disebutkan jenisnya. Kisah lain menceritakan bahwa Hayy berasal dari tanah yang memerah dari perut bumi, kemudian berproses menjadi seorang bayi.
Dalam keadaan bayi Hayy dipelihara oleh seekor kijang betina (al-dhabyu) yang anaknya mati, sampai Hayy dapat mengenal lingkungan sekitarnya. Ia dikarunia Allah kecerdasan yang luar
biasa. Ia menemukan api, membuat berbagai alat, perkakas dan senjata. Bahkan sanggup mengenal hakikat tertinggi di alam wujud dan alam metafisik, ia dapat mengenal semua itu melalui jalan filsafat. Dan jalan itulah yang mendorongnya berusaha melalui cahaya filosofis untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan. Bersatu-berhubungan-dengan Tuhan adalah pengetahuan sempurna dan kebahagiaan tertinggi yang berkesinambungan dan abadi. Untuk mencapai tujuan itu Hayy berusaha sekuat mungkin memisahkan akal pikirannya dari dunia luar dan dari badannya sendiri dengan jalan merenung memikirkan Zat Tuhan agar dapat berhubungan dengan-Nya tidak hanya itu ia beruasa terus menerus selama 40 hari.

C.     Pemikiran Filsafat Ibn Tufail
1.      Dunia
Salah satu masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan atas kehendak-Nya? dalam filsafat muslim, Ibnu Thufail, sejalan dengan kemahiran dialektisnya, menghadapi masalah itu dengan tepat sebagaimana kant.tidak seperti pendahulunya, tidak menganut salah satu doktrin saingannyapun dia tidak berusaha mendamaikan mereka.di lain pihak, dia mengecam dengan pedas para pengikut aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan tentang rentangan tak terbatas.
Eksistensi seperti itu tidak lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu tidak dapat mendahului mereka dalam hal waktu, dan yang tidak dapat sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. begitu pula konsep Creatio Ex Nihilo tidak dapat mempertahankan penelitiannya yang seksama. Karena itu Ibnu Thufail menerima baik pandangan mengenai kekekalan maupun penciptaan sementara dunia ini.

2.      Tuhan
Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tidak bisa maujud dengan sendirinya. juga sang pencipta bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia di ciptakan oleh satu pencipta. di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil. oleh karena itu dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda.dan karena dia bersifat immaterial, maka kita tidak dapat mengenalinya lewat indra kita ataupun lewat imajinasi, sebab imajinisasi hanya menggambarkan hal-hal di tangkap oleh indra.
Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya juga, dan gerak sebagaimana di katakan oleh aristoteles, membutuhkan penggerak atau penyebab efesien dari gerak itu.jika penyebab efesien ini berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang tak terbatas.oleh sebab itu penyebab efesien dari gerak kekal harus bersifat immaterial. Ia tidak boleh di hubungkan dengan materi ataupun di pisahkan darinya, ada di dalam materi itu atau tanpa materi itu, sebab penyatuan dan pemisahan, keterkandungan atau keterlepasan merupakan tanda-tanda material, sedang penyebab efesien itu, sesungguhnya lepas dari itu semua.

3.      Epistimologi Pengetahuan
Tahap pertama jiwa bukanlah suatu tabularasa atau papan tulis kosong, image Tuhan telah tersirat di dalamnya sejak awal, tapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang jernih tanpa prasangka keterlepasan dari prasangka dan kecenderungan sosial sebagai kondisi awal semua pengetahuan, merupakan gagasan sesungguhnya dibalik kelahiran tiba-tiba Hayy di pulau kosong. Setelah hal ini tercapai pengalaman, inteleksi dan ekstasi memainkan dengan bebas peranan mereka secara berurutan dalam memberikan visi yang jernih tentang kebenaran yang melekat pada jiwa. Bukan hanya disiplin jiwa, tapi pendidikan indra dan akal yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara pengalaman dan nalar, disatu pihak, dan kesesuaan antara nalar dan intuisi, dipihak lain membentuk esensi epistimologi Ibnu Thufail.

4.      Kosmologi Cahaya
Ibnu Thufail menerima prinsip bahwa dari satu tidak ada lagi apa-apa kecuali satu itu. Manivestasi kemajemukan, kemaujudan dari yang satu dijelaskannya dalam gaya new platonik yang monoton, sebagai tahap-tahap berurutan pemancaran yang berasal dari caHayya Tuhan. Proses itu pada prinsipnya, sama dengan refleksi terus menerus caHayya matahari kepada cermin. CaHayya matahari yang jatuh pada cermin yang dari sana menuju ke yang lain dan seterusnya, menunjukkkan kemajemukan . semua itu merupakan pantulan matahari dan bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri, bukan pula suatu yang lain dari matahari dan cermin itu.