Home » » PEMIKIRAN FILOSOFIS M. NAQUIB AL-ATTAS TENTANG PENDIDIKAN

PEMIKIRAN FILOSOFIS M. NAQUIB AL-ATTAS TENTANG PENDIDIKAN

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Resume Makalah
A.    Biografi Al-Attas
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, bernama lengkap Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad al-Attas. Lahir di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September
1931. Pada waktu itu Indonesia berada dibawah kolonialisme Belanda. Bila dilihat dari garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang beruntung secara inheren. Sebab dari kedua belah pihak,baik pihak ayah maupun pihak ibu merupakan orang-orang yang berdarah biru. Ibunya yang asli Bogor itu masih keturunan bangsawan Sunda. Sedangkan pihak ayah masih tergolong bangsawan di Johor. Bahkan mendapat gelar Sayyed yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad.
Al-attas mengikuti pendidikan militer, pertama di Erron Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Millitary Academy, Sandhurst, Inggris. Selain mengikuti  pendidikan militer, Al-Attas juga sering pergi ke Negara-negara Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Setelah tamat dai Sandhurst, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor resimen tentara kerajaan Malaya. Al-Attas mendapatkan gelar M.A. pada 1962 dari Universitas McGill, Montreal. Sedangkan gelar Ph.D. diperoleh dari Universitas London 1965.

B.     Pemikiran Al-Attas tentang Pendidikan
1.      Tujuan dan Makna Pendidikan
Tujuan dan makna pendidikan adalah dua unsur yang saling berkaitan. Secara umum ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi kemayarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis, oligarkis maupun monarkis. Pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.
Ada  tiga  istilah  yang  dianggap  memiliki  arti  yang  dekat  dan  tepat  dengan makna pendidikan. Ketiga istilah itu adalah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib yang masing-masing  memiliki  karakteristik  makna  disamping  mempunyai  kesesuaian  dalam pengertian pendidikan Islam.
ü  Makna tarbiyah dalam rangka pendidikan Islam
Menurut Najib Khalid  al-Amir  ada  lima  sisi  dari  pengertian  tarbiyah  secara berkesinambungan  yang  satu  sama  lain  berbeda  sesuai  dengan  pembentukannya yaitu:
F Tarbiyah  adalah menyampaikan  sesuatu  untuk mencapai kesempurnaan. Bentuk  penyampaian  satu  dengan  yang  lain  berbeda sesuai  dengan  cara pembentukannya.
F Tarbiyah adalah menentukan tujuan melalui persiapan sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.
F Tarbiyah adalah sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik (murabbi).
F Tarbiyah  dilakukan  secara  berkesinambungan.  Artinya  tahapan-tahapan sejalan  dengan  kehidupan,  tidak  berhenti  pada  batas  tertentu,  terhitung dari buaian sampai liang lahat.
F Tarbiyah  adalah  tujuan  terpenting dalam kehidupan baik  secara  individu maupun keseluruhan.

ü  Makna ta’lim dalam rangka pendidikan Islam
Adapun  al-ta’lim  secara  etimologis  berasal  dari  kata  kerja  “allama”  yang berarti  “mengajar”.  Jadi, makna  ta’lim  dapat  diartikan  “pengajaran”  seperti  dalam bahasa  Arab  dinyatakan  tarbiyah  wa  ta’lim  berarti  “pendidikan  dan  pengajaran”, sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya “al tarbiyah al Islamiyah”. Kata ta’lim  dengan  kata  kerja  “allama”  juga  sudah  digunakan  pada  zaman  Nabi  baik dalam  al-Qur’an maupun Hadits  serta  pemakaian  sehari-hari  pada masa  dulu  lebih sering  digunakan  daripada  tarbiyah. 
Kata  “allama”  memberi  pengertian  sekadar memberi  tahu  atau  memberi  pengetahuan,  tidak  mengandung  arti  pembinaan kepribadian,  karena  sedikit  sekali  kemungkinan  ke  arah  pembentukan  kepribadian yang disebabkan pemberian pengetahuan.
ü  Makna ta’dib dalam rangka pendidikan Islam
Adab  dalam  kehidupan sering  diartikan  sopan  santun  yang  mencerminkan  kepribadian.  Istilah  ini  dalam kaitan  dengan  arti  pendidikan  Islam  telah  dikemukakan  oleh  Syed  Muhammad Naquib  al  Attas  yang  menyatakan  bahwa  istilah  ta’dib  merupakan  istilah  yang dianggap  tepat  untuk  menunjuk  arti  pendidikan  Islam.  Pengertian  ini  didasarkan bahwa arti pendidikan adalah meresapkan dan menanamkan adab pada manusia.
Beliau menyebutkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk menghasilkan manusia-manusia yang baik. Orang yang baik disini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.” Maka, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. Dalam pengertian yang asli adab adalah mengundang ke suatu perjamuan. Perjamuan menyiratkan bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan terhormat dan banyak orang yang hadir. Ini juga berarti bahwa orang-orang yang hadir itu adalah mereka yang dalam penilaian tuan rumah patut mendapat atas undangan itu. Berdasarkan ini maka adab berarti juga disiplin terhadap pikiran dan jiwa, untuk menunjukkan tindakan yang betul melawan yang keliru, yang benar melawan yang salah, agar terluput dari noda dan cela.
Pendidikan menurut Al-Attas adalah “penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang – ini diebut ta’dib” al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad SAW. Yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai Manusia Sempurna atau Manusia Universal.
Menurut Al-Attas, jika benar-benar dipahami dan dijelaskan dengan baik, sebagaimana telah dijelaskan diatas, konsep ta’adib adalah konsep paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya tarbiyah ataupun ta’lim. Dia mengatakan, “Struktur konsep ta’adib sudah mencakup unsur-unsur ilmu, instruksi dan pembinaan yang baik sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep “tarbiyah-ta’lim-ta’dib”

2.      Kurikulum dan Metode Pendidikan
Metode  merupakan  sarana  yang  bermakna  dan  faktor  yang  akan mengefektifkan  pelaksanaan  pendidikan.  Demikian  pentingnya  metode dalam pendidikan  Islam,  telah menempatkan  faktor  ini  sebagai  faktor yang esensial dalam pelaksanaan  pendidikan.
Ø  Persiapan Spiritual
Ø  Ketergantungan Pada Otoritas dan Peranan Guru
Ø  Peranan Bahasa
Ø  Metode Tauhid
Ø  Pancaindra, Akal, dan Intuisi
Ø  Penggunaan Metafora dan Cerita

3.      Guru dan Peserta Didik
Peserta didik disarankan untuk tidak tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru, sebaliknya peserta didik harus meluangkan waktu untuk mencari siapakah guru terbaik dalam bidang yang ia gemari.
Adab guru dan peserta didik dalam filsafat pendidikan Al-Attas tampaknya diilhami oleh prinsip yang dipertahankan para ilmuwan Terkenal, khususnya Al-Ghazali. Selain persiapan spiritual, guru dan peserta didik harus mengamalkan adab, yaitu mendisiplinkan pikiran dan jiwa. Peserta didik harus menghormati dan percaya kepada guru; harus sabar dengan kekurangan gurunya dan menempatkannya dalam perspektif yang wajar.
Peserta didik seharusnya tidak menyibukkan diri pada opini yang bermacam-macam. Sebaliknya, ia meguasai materi sebaik penguasaannya dalam praktik. Tingkat ilmu seseorang yang bisa dibanggakan adalah yang memuaskan guru. Gurupun seharusnya tidak menafikan nasihat yang datang dari peserta didik dan harus membiarkannya berproses sesuai dengan kemammpuannya. Guru juga harus menghargai kemampuan peserta didik  dan mengoreksinya dengan penuh rasa simpati.

C.    Karya-Karyanya
Karya-karyanya antara lain:
1)      The Correct Date of the Terengganu Inscription, Kuala Lumpur Museum Department.
2)      Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu
3)      Comments on the Re-Examination of Al-Raniri’s Hujjat au’l Siddiq: A Refutation, Kuala Lumpur Museum Department.
4)      The Concept of Education in Islam
5)      The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the `Aqa’id of al-Nasafi
6)      Islam and the Philosophy of Science, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001
7)      The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul
8)      The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality
9)      The Meaning and Experience of Happiness in Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998)
10)  Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam