Home » » Review: Pendidikan Islam dan Tenaga Kerja (Pendidikan Islam meningkatkan kualitas SDM dan Pengentasan Kemiskinan)

Review: Pendidikan Islam dan Tenaga Kerja (Pendidikan Islam meningkatkan kualitas SDM dan Pengentasan Kemiskinan)

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Terminologi pendidikan Islam bagi penulis akan merujuk pada konteks makna institusi, proses dan subject matter (kurikulum). Sementara itu, proses merujuk pada situasi interaktif antara pendidik dengan peserta didik beserta lingkungan pendidikan yang menyertainya. Dengan begitu, proses yang berlangsung di dalamnya seharusnya diarahkan untuk menimbulkan pertumbuhan kepribadian manusia yang seimbang dalam pelbagai aspek, dan mampu mengantarkan manusia untuk menyerahkan diri kepada Allah SWT baik secara individual ataupun kolektif. Adapun subject matter dapat dipahami sebagai kurikulum atau dalam makna yang lebih sempit adalah mata pelajaran/mata kuliah yang diberikan kepada peserta didik.

Selanjutnya, Tenaga kerja (manpower) adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Sebelum tahun 2000, Indonesia menggunakan patokan seluruh penduduk berusia 10 tahun ke atas (lihat hasil Sensus Penduduk 1971, 1980 dan 1990). Namun sejak Sensus Penduduk 2000 dan sesuai dengan ketentuan internasional, tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun atau lebih. Tenaga kerja yang dimaksud dalam hal ini adalah yang terkait dengan pelayanan jasa (pendidikan), yaitu personalia. Pada dasarnya yang dimaksud personel atau personalia di sini adalah orang yang melaksanakan sesuatu tugas untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam konteks lembaga pendidikan atau sekolah dibatasi dengan sebutan pegawai. Oleh sebab itu, personel di sekolah meliputi unsur guru ( tenaga pengajar) dan unsur karyawan (tenaga administratif).

Mempelajari UU no 23 tahun 2003 tentang sisdiknas pada pasal 39, 40, 41, 42, 43 dan 44 menjelaskan bagaimana peran seorang tenaga pendidik sebagai salah tenaga kerja dibidang pendidikan. Kualitas tenaga kerja merupakan hal yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan kualitas umat masa depan. Dengan demikian, penentu masa depan terletak pada tenaga kerja khususnya tenaga pendidik.

Posisi sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana peran pendidikan Islam dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas SDM). Dalam surat Al Mujadilah (58) : 11 terintisari bahwa pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang beakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”

Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”

Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.

Intinya, kemiskinan tidak mungkin diselesaikan hanya dengan cara mengumpulkan dana dari negara-negara maju, lalu didistribusikan kepada penduduk negera-negara miskin. Ini sama saja dengan mengobati penyakit panas hanya dengan menaruh kompresan air dingin setiap saat ke dahi pasien, tapi melupakan pengobatan dari dalam tubuh. Islam menawarkan berbagai solusi kongkrit dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan, di antaranya: yang pertama ajaran Islam dengan tegas mewajibkan laki-laki untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Islam sangat membenci laki-laki yang menganggur tampa alasan yang dibenarkan oleh syariah.

Kedua, mewajibkan kerabat dekat untuk membantu saudaranya. Realitas menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki punya kemampuan untuk bekerja mencari nafkah. Mereka kadang ada yang cacat mental atau fisik, sakit-sakitan, usianya sudah lanjut, dan lain-lain. Semua ini termasuk ke dalam orang-orang yang tidak mampu bekerja. Dalam kasus semacam ini, Islam mewajibkan kepada kerabat dekat yang memiliki hubungan darah, untuk membantu mereka. Yang terakhir ketika kaum kerabat tidak mampu memenuhi kebutuhan saudaranya, maka tanggung jawab tersebut beralih menjadi kewajiban negara. Negara harus mengeluarkan harta yang terdapat dalam kas negara (baitul mal) untuk menyantuni rakyatnya yang miskin. Jika mekanisme pengentasan kemiskinan seperti ini yang diterapkan di negeri insyaallah dalam waktu yang tidak terlalu lama negeri ini akan lepas dari belenggu kemiskinan.