Home » » Resume Filsafat Pendidikan Islam: Manusia, Alam dan Tuhan dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam

Resume Filsafat Pendidikan Islam: Manusia, Alam dan Tuhan dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Nama: Muntadhar
Prodi/Konsentrasi : Manajemen Pendidikan Islam
Resume Makalah: FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MATERI : Manusia, Alam dan Tuhan dan Implikasinya dalam Pendidikan Islam

1.  Hakikat dan Kedudukan Manusia

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Tujuan dan fungsi penciptaan manusia dapat diklasifikasikan kepada dua, yaitu; sebagai khalifah; dan ‘abd (pengabdi Allah). Manusia itu terdiri dari 3 unsur yakni

-   Jasmani; terdiri atas air, kapur, angin, api dan tanah.

-   Ruh; Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.

-  Jiwa (an nafsun/rasa dan perasaan); Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohania.

Jadi, hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsur membentuk keatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang bearada dalam perbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya, sedangkan pada ke tauhid hakekat manusia dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dan kekasatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara actual.

Manusia yang melakukan refleksi menyadari bahwa ia mahluk yang berdimensional dan bersifat unik. Manusia menjadikan ia yang bertanggungjawab pada eksistensinya yang berbagai macam dimensi tersebut. Manusia dalam eksistensinya sebagai al-insan, al-basyar, ‘abdullah, annas, dan khalifah. Manusia dalam eksistensi tersebut dikarenakan potensi yang berada dalam diri manusia seperti intelektual, bilogis, spiritual, sosial dan estetika. Sifat dari manusia tersebut adalah mahluk yang bebas berkreatif dan mahluk bersejarah dengan diliputi oleh nilai-nilai trasendensi yang selalu menuju kesempurnaan. Hal tersebut menjadikan manusia yang memiliki sifat dan karaktersistik profetik. Pembebasan yang dilakukan oleh manusia adalah pembebasan manusia dari korban penindasan sosialnya dan pembebasan dari alienasi antara eksistensi dan esensinya sehingga manusia menjadi diri sendiri, tidak menjadi budak orang lain. Manusia yang bereksistensi dalam kelima tersebut menjadikan ia sebagai mahluk pengganti Tuhan dan menjalankan tugas Tuhan dalam memakmurkan bumi.

2.   Eksistensi Pendidikan dalam Pengembangan Fitrah Kemanusiaan

Secara etimologi berasal dari kosa kata bahasa Arab yakni fa-tha-ra yang berarti “kejadian”, oleh karena kata fitrah itu berasal dari kata kerja yang berarti menjadikan. Dalil yang menerangkan dalam surat ar-Rum ayat 30, artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan (fathara) manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Pandangan Islam tentang manusia, antara lain pertama, konsep Islam tentang manusia, khususnya anak sebagai subjek didik. Kedua, peranan pendidikan atau pengarah perkembangan. Ketiga, profil manusia muslim dan keempat, metodologi pendidikan.

3.   Hubungan Manusia, Alam dan Tuhan

Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan, al-naas, al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk yang sering lupa. naas berarti manusia (jama’). abd berarti manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam.

Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

Hablun minan naas, hablun minal alamin dan hablum min Allah. Suatu keterikatan yang saling berhubungan satu sama lain. Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik kejadian dan menganugerahkan kedudukan terhormat kepada manusia di hadapan ciptaan-Nya yang lain.

Dalam literatur yang lain, ketiga konsep tersebut sering digambarkan dalam hubungan manusia secara vertical dan horizontal. Hubungan vertical yaitu hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakannya. Hal ini dapatdigambarkan dengan kelemahan manusia dan keinginan untuk mengabdi kepada yang lebihagung. Manusia yang lemah memerlukan pelindung dan tempat mengadu segala permasalahan.Terkadang memang permasalahan yang tidak pelik mudah dan dapat diselesaikan oleh manusiasendiri. Namun, tak jarang persoalan himpitan hidup, rasa putus asa, hilangnya harapan dan lainsebagainya tak mungkin diselesaikan sendiri. Maka ia butuh sesuatu yang sempurna, yaituTuhan. Tempat mengadu segala persoalan hidup. Tanpa-Nya, manusia bisa jadi kehilangan arahdan tujuan hidup.

Hubungan horizontal yaitu hubungan antar sesama manusia. Antara seorang dengan yang lainya.Unit terkecil dalam hubungan antar manusia adalah keluarga, kemudia masyarakat baru sesamapenduduk negri serta mendunia. Hubungan sesama perlu dijaga karena manusia adalah makhluk social.

4.  Hubungan Manusia, filsafat dan Pendidikan

-    Hubungan Manusia dengan Filsafat

Antara manusia dan dunia terjalin hubungan yang sangat mesra. Tanpa manusia kita tidak bisa membayangkan kata “dunia” sekalipun bisa lahir, karena “dunia” merupakan penanda yang sifatnya manusiawi terhadap petanda dunia riil yang berada diluar manusia, walaupun begitu penanda ini takkan bisa berhasil mewakili referensi objektifnya dengan transparan, selalu ada distorsi makna. Tanpa dunia manusia tidak akan ada, karena dunia merupakan rahim eksistensi manusia. Dunia membuat manusia menubuh, sekaligus panggung untuk menampakkan daya ruhaninya.

Filsafat ada untuk membantu manusia memaknai dirinya dan dunianya. Filsafat akan terus menerus melahirkan pertanyaan-pertanyaan untuk mendeteksi kemungkinan-kemungkinan pemaknaan yang tiada batasnya. Kemungkinan-kemungkinan pemaknaan ini merupakan cermin bagi kemungkinan-kemungkinan cara mengada dari manusia.

-    Hubungan Manusia dengan Pendidikan

Pada hakekatnya manusia adalah sebagai mahluk pribadi, sosial dan mahluk Tuhan. Proses hidup manusia adalah proses perkembangan berada dan berlangsung di dalam masyarakat, oleh karena itu manusia adalah mahluk yang memiliki masa belajar yang panjang. Anak adalah mahluk unik yaitu berbeda satu dengan yang lain dan berkembang secara fisik, sosial mental maupun emosional, perkembanganya bersifat holistik dan memiliki kesiapan belajar hasil dari pengalaman dan kematangan.

Kebutuhan anak akan pendidikan muncul dari kondisi eksistensi manusia sebagai mahluk pribadi, sosial dan mahluk Tuhan. Kesenjangan yang ada pada anak mereka akan menyesuaikan, mengembangkan dan merealisasikan diri karena kebutuhan. Pendidikan adalah proses membantu anak agar berkembang secara optimal sesuai dengan potensi pada dirinya. Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah tiga lingkungan belajar, ketiga lingkungan tersebut sebagai tritunggal ligkungan pendidikan yang oleh Ki Hajar Dewantoro disebut tripusat pendidikan.

-    Hubungan Filsafat dengan Pendidikan

Filsafat pendidikan adalah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan filsafat yang menjiwai, mendasari, dan memberikan identitas (karakteristik) suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah jiwa, ruh, dan  kepribadian sistem kependidikan nasional, karenanya sistem pendidikan nasional wajarlah dijiwai, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila sebagai ideologi Indonesia, citra, dan karsa bangsa kita, dan tujuan nasional bangsa kita , atau tujuaan nasional dan cita-cita luhur rakyat Indonesia yang tertulis pada UUD 1945 sebagai perwujudan jiwa dan nilai Pancasila.

Intinya, filsafat dan pendidikan merupakan tata pola pikir terhadap permasalahan di bidang pendidikan dan pengajaran yang senantiasa mempunyai hubungan dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain yang diperluakan oleh pendidik atau guru sebagai pengajar dalam bidang studi tertentu.