Home » » Resume: The History of Islam: New Directions

Resume: The History of Islam: New Directions

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun



NAMA: MUNTADHAR
MATA KULIAH : PDPI
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


ARAH BARU SEJARAH ISLAM
Fathi Osman

Sejarah sangat penting bagi suatu ideologi dan pendidikan dan juga sebagai suatu informasi. Sebagaimana Qur’an menyebutkan “dalam setiap kisah umat-umat ini ada pelajaran bagi mereka yang berpikir” (12:111). Tentu saja, dalam dunia pendidikan, sejarah sangat penting bagi para generasi terdidik muslim, dan secara ideologis, bagi mereka yang memegangi Islam sebagai jalan
hidup, maka hal itu sangat penting untuk menangkap pesan-pesan dari sejarah yang dapat mencerahkan manusia sehubungan dengan kehidupan sekarang ini.
Mana yang lebih benar “sejarah Islam” atau “sejarah umat Islam”?. Pengertian ini masih dalam pengertian yang kontroversial, baik yang pro maupun yang kontra. Namun pada dasarnya keduanya memiliki makna yang berbeda. Sejarah Islam lebih berarti pada nilai normatif Islam. Artinya bahwa segala sesuatu peristiwa sejarah sosial yang berhubungan dengan aspek budaya, politik dan ekonomi harus dievaluasi sesuai dengan kriteria Islam.
Dikatakan “sejarah umat Islam” maka berbicara mengenai hubungan antara sikap tingkah laku umat Islam dengan Islam itu sendiri. Sejarah di sini adalah representasi dari segala hal bentuk praktek-praktek yang dihasilkan oleh orang Islam berupa perkembangan pemikiran dan perilaku orang Islam, dampak daripada interaksi umat Islam dengan umat lainnya, dan setiap praktek tersebut dievaluasi menurut Islam. Sejarah muslim adalah produk umat Islam sebagai manusia, yang mana hal itu bisa benar dan bisa juga salah secara ideologis, karena ia merupakan produk manusia.
Dalam terminologi Barat, Islam diartikan sebagai agama, sejarah, atau orang-orang Islam sekarang. Jadi, ketika orang Barat menulis tentang Islam, maka yang mereka maksud adalah orang-orang Islam sekarang, orang Islam masa lalu dan Islam sebagai agama. Konsekuensinya, ketika kita mengatakan sejarah muslim, maka kita akan bingung, sebab ketika kita berbicara tentang orangnya (penganut agama Islam), maka kita akan menyaksikan bahwa banyak orang Islam yang tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri, dan banyak pula praktek-praktek keagamaan umat Islam yang tidak diterima oleh Islam itu sendiri. Istilah sejarah muslim (umat Islam) lebih tepat pada penyajian tentang hal-hal yang alamiah dari apa yang dilakukan oleh umat Islam itu sendiri, baik itu peristiwa-peristiwa umat Islam yang positif dan negatif, baik atau buruk, sesuai atau tidak sesuai dengan Islam. Sejarah muslim merupakan refleksi langsung dari Islam atau dari pengaruh lainnya yang diizinkan oleh Islam. Oleh karena itu, segala bentuk praktek-praktek dari umat Islam bukanlah sesuatu yang dapat dikatakan sebagai “yang diwahyukan” oleh Tuhan, dan kata “Islam” itu sendiri haruslah dimaknai secara ekslusif sebagai suatu “agama” yang mana ia merupakan sumber yaitu Qur’an dan sunnah, sedangkan kata “muslim”berarti manusia yang hidup yang memeluk agama Islam dimana ia bisa mengikut atau menyimpang dari tuntunan dan ajaran Islam itu sendiri.

Sumber
Dalam hal ini tentu diperlukan sumber sebagai data tentang sejarah muslim. Dan di sini, diharapkan bahwa IIIT (International Institute of Islamic Thought) dan institusi-institusi penelitian lainnya dapat menjadi bank data sejarah muslim yang mencakup manuskrip-manuskrip yang saat ini masih tersebar di penjuru dunia dan juga hendaknya ada Computerized master catalogue (Katalog dalam bentuk Komputerisasi).
Sejarah umat Islam (muslim) tidak hanya terbatas pada abad pertengahan tetapi ia merupakan rangkaian peristiwa sejarah yang berkelanjutan. Oleh karenanya, data sejarah muslim ini haruslah mencakup berbagai abad termasuk manuskrip abad modern dan seluruh data yang telah dikumpulkan dari berbagai tempat dan masa yang mana data ini hendaknya diklasifikasikan dan dapat diakses.  

Persfektif dan Metodologi
Salah satu karakter sejarah umat Islam adalah sifatnya yang terbuka dan universal. Sejarah umat Islam bukan suatu fenomena yang terisolasi. Islam adalah kelanjutan dari pesan Tuhan kepada manusia sejak penciptaannya. Para sejarawan muslim klasik selalu menulis sejarah dengan memulainya dari menyajikan sejarah tentang Muhammad dan masyarakat sebelum Muhammad, dan sejarah tentang kekuatan besar dan peradaban sebelum Islam. Tentu saja kita tidak harus mengikuti pendekatan sejarah seperti ini. Ada hal yang harus diperhatikan bahwa faktanya Islam adalah sebagai agama “yang disempurnakan” dan merupakan pesan-pesan suci dari Tuhan, dan adapun umat Islam itu sendiri selalu mengalami perubahan dalam sejarah. Selain itu, kebangkitan Islam di Arab dan penyebarannya sebagai suatu keyakinan, kekuatan politik, kebudayaan dan peradaban adalah merupakan suatu kesatuan yang totalitas dan harmonis. Kajian tentang Islam yang dilakukan oleh para orientalis abad 19 dan 20-an masihlah terbatas, namun satu hal yang positif dari mereka adalah apresiasi mereka tentang “kesatuan” kehidupan umat Islam. Akan tetapi sekarang ini generasi ilmuwan Barat telah melakukan kajian tentang Islam dengan cara yang berbeda. Mereka para sosiologis konsen pada sosiologi Islam atau masyarakat muslim kontemporer, para ekonom konsen pada kajian ekonomi negara-negara muslim, demikian juga yang lainnya seperti para antropolog, sejarawan dan lainnya.  Para ilmuwan barat kontemporer ini lebih dibanding dengan para ilmuwan klasik, akan tetapi mereka lebih sedikit pengetahuannya mengenai latar belakang studi Islam sebagai suatu kesatuan paket yang bisa memungkinkan mereka untuk memahami Islam dan praktek-praktek umat Islam masa lalu dan kini dengan lebih baik lagi.
Karena keterbukaan, keuniversalan, dan keberlanjutan sejarah umat Islam ini, muncul kesulitan terutama dalam menyesuaikan informasi tentang umat Islam mengenai pembagiannya menurut sejarah; masa kuno, masa pertengahan, dan masa modern. Kesulitan ini juga terdapat pada penentuan kapan dimulainya masa awal ini, kapan pula dimulainya masa pertengahan dan kapan akhirnya. Adapun pembagian periode-nisasi umat Islam itu sendiri yakni; - masa khulafaur rasyidin – masa Umayyah – yang mana keduanya dijadikan menjadi satu era dan era Abbasiyah yang dibagi menjadi dua periode, masih jauh dari sempurna baik dari segi kuantitas dan kualitasnya. Dimana perjalanan sejarah yang demikian panjang ini, yaitu masa khulafaur rasyidin dan Umayyah yang memakan waktu sekitar satu abad, masa Abbasiyah lebih dari lima abad, yang meliputi perjalanan sejarah perubahan-perubahan aspek kemasyarakatan seperti politik, kebudayaan dan perbedaan-perbedaan regional belum terekam oleh sejarah sepenuhnya dan masih banyak yang terabaikan. Tentu saja ini semua perlu direview (digambarkan kembali).
Misalnya, sehubungan dengan pembagian yang berhubungan dengan kekuatan politik Islam dan bentuk-bentuknya, maka pengkajiannya dimulai dari tentang negara kota di Madinah, negara di Arab, dan negara universal. Adapun yang berhubungan dengan peradaban umat Islam, maka dimulai dari telaah mengenai kekuatan peradaban seperti masyarakat Arab sebelum Islam dan kebudayaan-kebudayaannya serta kebudayaan-kebudayaan yang bersentuhan dengannya, kemudian kontribusi peradaban terhadap aspek lainnya, serta masa kemunduran  dari peradaban tersebut.
Keterbukaan sejarah umat Islam sehubungan dengan masa dan tempatnya, mengharuskan para sejarawan untuk lebih memperhatikan keseimbangan yang esensial antara keberlanjutan sejarah umat Islam dan perubahan-perubahannya, perbedaan dan kesatuannya.

Kriteria untuk mengevaluasi data sejarah
Kriteria apa yang bisa mengevaluasi informasi yang berbeda yang didapatkan dari sumber sejarah umat Islam?. Sejarah umat Islam mengalami kesulitan bukan karena kurangnya informasi tentang sejarah itu, tetapi karena terlalu banyak dan berbedanya informasi tersebut, sehingga harus dilakukan suatu upaya mengevaluasi informasi-informasi tersebut. Upaya seperti ini pernah dilakukan pada empat belas abad yang lalu dimana para ulama berhasil melakukan evaluasi yang ketat dalam proyek pengumpulan Al-qur’an dan tiga belas abad yang lalu dalam proyek pengumpulan sunnah, dimana hal ini telah dilakukan dengan baik sekali. Dan umat Islam hendaknya dapat melakukan hal yang sama yaitu melakukan evaluasi yang ketat terhadap laporan dan data-data sejarah. Beberapa saran mengenai kriteria yang disyaratkan dalam bidang sejarah ini telah dilakukan, sebut saja seperti apa yang ditawarkan oleh Ibnu Khaldun dalam ‘Taaba’i al-umran wa al-ijtima’ al-insan’ yang menawarkan bahwa hukum alam haruslah diperhitungkan dalam menuliskan peristiwa-peristiwa sejarah yang berkenaan dengan masyarakat manusia dan peradabannya. Jika suatu peristiwa sejarah yang dilaporkan bertentangan dengan hukum alam ini, maka laporan sejarah itu harus ditolak, dan adapun mengenai kredibilitas orang yang melaporkannya tidak perlu didiskusikan lagi. Kemudian persyaratan kredibilitas dan otentitas orang yang melaporkan suatu peristiwa itu, sebagaimana yang diterapkan dalam bidang hadis oleh para ulama, juga menjadi kriteria dalam mengevaluasi laporan sejarah.

Wilayah-wilayah kajian khusus  
Para sejarawan modern memperluas kajian mereka pada beberapa bidang khusus lainnya seperti sejarah sosial ekonomi yang mana mestinya para sejarawan muslim juga memperhitungkan kajian ini. Dalam hal ini sumber-sumber sejarah, biografi, geografi, hukum (fiqih), sastera dan bidang-bidang lainnya demikian banyak. Dan masalah-masalah seperti kehidupan keluarga, status perempuan, pendidikan, dan masalah urban harus menjadi perbincangan di kalangan sejarawan muslim. Sejarah intelektual merupakan indikasi adanya perkembangan intelektual sebagai suatu keseluruhan meliputi hukum, sastera, keilmuan, dan perkembangan seni. Keterkaitan antara semua aktivitas umat Islam ini membuktikan keuniversalan Islam dan praktek-praktek umat Islam yang tidak hanya sebatas teori.

Interpretasi sejarah dan ideologi
Masalah ini merupakan masalah yang luas, konflik dan kontroversial dimana hal ini membutuhkan perhatian khusus. Sebagian sejarawan memandang bahwa sejarah hanyalah informasi tentang masa lalu yang harus informasinya haruslah seakurat mungkin. Mereka memandang bahwa tugas sejarawan adalah meneliti secara cermat informasi sejarah dengan seteliti dan seakurat mungkin dan tidak termasuk menginterpretasikannya. Beberapa sejarawan lainnya berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu sama fenomena alam lainnya yang memilki aturan-aturan dan hukumnya sendiri, konsekuensinya adalah masa lalu bisa diinterpretasi dan masa depan bisa diprediksi sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Sehubungan dengan ini Ibn Khaldun mencoba menemukan teori hukum alam dari masyarakat manusia dan peradabannya yang bisa digunakan untuk meneliti dengan cermat dan menginterpretasi sejarah sebagaimana yang ditulisnya dalam bukunya ”Muqaddimah”.