Home » » Nilai dalam Pendidikan, Etika dalam Pendidikan dan Estetika dalam Pendidikan

Nilai dalam Pendidikan, Etika dalam Pendidikan dan Estetika dalam Pendidikan

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

BAB I
PENDAHULUAN
           
Secara teoritis, filsafat adalah usaha untuk memahami alam semesta, baik makna maupun nilainya.Tujuan ilmu adalah kontrol, sedangkan tujuan seni adalah kreatifitas, kesempurnaan,
keindahan, komunikasi dan ekspresi. Adapun tujuan filsafat itu sendiri adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding dan wisdom). Hal ini karena ilmu memberikan kepada kita pengetahuan dan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan terhadap keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, yaitu kebenaran. Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa filsafat dapat memberikan ketenangan fikiran dan kemantapan keteguhan hati, sekalipun menghadapi maut dalam tujuan yang tunggal (yakni kebenaran).[1]
Ilmuan  mengatakan bahwa filsafat sebagai philosophy of the life, seperti halnya agama, keduanya sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku penganutanya tetapi keduanya tidak dalam kedudukan yang sama sebagai pandangan hidup, karena agama berasal dari Tuhan sebagai kebenaran hakiki yang absolut sedangkan filsafat sebagai buah pikiran manusia yang bersifat relatif dan gamang/labil (mengalami perubahan).
Penemuan oleh filsuf dalam bidang filsafat tidak terhitung jumlahnya, penemuan-penemuan tersebut dewasa ini kemudian sudah disusun secara teratur yang kemudian dikenal dengan istilah struktur filsafat.
Pada dasarnya struktur filsafat berkisar pada tiga cabang filsafat: Teori Pengetahuan,Teori Hakikat dan Teori Nilai. Kemudian ketiga cabang ini berkembang dalam cakupan yang lebih luas lagi.[2]
Lapangan filsafat sendiri meliputi Metafisik, Epistemologi dan Aksiologi. Al-Syaibany berkaitan dengan lapangan filsafat khususnya filsafat pendidikan ini mengemukakan, bahwa terdapat beberapa tugas yang diharapkan dari seorang filsuf pendidikan, diantaranya memberikan pendidikan akhlak/moral, mampu menumbuhkan  perasaan seni dan keindahan dalam mencari nilai-nilai kebenaran dengan sikap dan perilaku yang benar pula.
Teori tentang pengetahuan adalah cabang dari ilmu filsafat yang membahas norma-norma atau teori tentang cara mendapatkan pengetahuan, yakni dengan cara mengamati, berfikir, meneliti kemudian mengambil kesimpulan tentang suatu  kebenaran secara benar pula.
Pendidikan Islam bukan sekedar memberikan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk mengembang potensi intelektual saja tetapi berusaha membentuk kepribadian manusia seutuhnya (insan kamil), agar mereka mampu menyesuaikan diri dan menegakkan nilai-nilai normatif Islam yang tertuang dalam al-Qur'an dan al-Hadist.[3]
Sedang filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir yang bersumber dan berlandaskan ajaran Islam agar setiap pribadi mampu berperilaku dalam nilai-nilai, etika (moral), dan estetika (keindahan/keselarasan) dalam kebenaran yang disepakati dan telah dijunjung tinggi.
           
BAB II
PEMBAHASAN

Pengetahuan Dan Nilai Dalam Filsafat Pendidikan Islam
(Nilai dalam Pendidikan, Etika dalam Pendidikan dan Estetika dalam Pendidikan)
1.PENGETAHUAN
Di dalam filsafat, pembahasan pengetahuan ini disebut epistemologi, sebagai cabang ilmu filsafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti knowledge atau pengetahuan dan logy berarti teori. Oleh sebab itu epistemologi diartikan sebagai teori pengetahuan, atau filsafat ilmu. Di dalamnya terdapat empat persoalan pokok, yaitu; Apa pengetahuan itu? Apa sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimanakah kita mengetahuinya? Dan apakah pengetahuan itu memiliki unsur-unsur kebenaran (valid)[4]
Hakikatnya manusia memiliki sifat ingin tahu terhadap segala sesuatu, sesuatu yang dimaksud tersebut adalah pengetahuan yang perolehannya dapat melalui indera, pengetahuan ilmiah, pengetahuan filsafat dan pengetahuan agama. Istilah pengetahuan (knowledge) tidak sama dengan ilmu pengetahuan (science). Dapat dijelaskan secara ringkas bahwa pengetahuan yang diperoleh seseorang didapatkannya dari pengalamannya ataupun berasal dari informasi yang lain, sedang ilmu pengetahuan memiliki objek, metode dan analistik dan sistematik.
Louis Q.Kattsof mengatakan bahwa sumber pengetahuan manusia itu ada lima macam, yaitu, (1) Empiris, yang melahirkan aliran empirisme; (2) Rasio, yang melahirkan aliran rasionalisme; (3) Fenomena, yang melahirkan; fenomenologi; (4) Intuisi yang melahirkan aliran intusionisme; dan (5) Metode ilmiah yang menggabungkan antara aliran rasionalisme dan empirisme. Metode ilmiah inilah yang mewarnai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di seluruh lembaga pendidikan dan pengetahuan di dunia ini.[5]
Lembaga pendidikan sebagai salah satu tempat untuk memperoleh pendidikan dalam upaya mendapatkan informasi-informasi kebenaran yang bermanfaat.  Pada hakikatnya pendidikan merupakan upaya meningkatkan sumber daya manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih baik demi terwujudnya manusia yang lebih berkualitas.
Menurut Muhammad Quthb,yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah usaha melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia,jasmani dan rohani maupun fisik dan mental seseorang dalam melaksanakan kegiatannya di muka bumi ini.Quthb memandang pendidikan Islam sebagai suatu aktifitas yang berusaha memahami diri manusia sacara totalitas melalui berbagai pendekatan.Sementara Ali Ashraf menulis;Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensitibilitas murid-murid sedemikian rupa,sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan,langkah-langkah dan keputusan,begitu pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan.[6]
Begitu banyak pengertian pendidikan, pendidikan Islam, pengetahuan, ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikemukakan oleh pakar dan ilmuan di bidang pendidikan Islam ataupun filsafat. Semuanya dalam redaksi yang berbeda-beda tergantung sudut pandang yang dipergunakannya yang pada akhirnya  semua pendapat tersebut akan memberikan kontribusi dalam khazanah pembahasan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Ahmd.D.Marimba dalam buku klasiknya berjudul; Pengantar filsafat Islam terdiri dari kata filsafat, pendidikan dan Islam namun kedudukan ketiganya tidaklah berdiri sendiri-sendiri melainkan mempunyai hubungan yang erat yang saling menerangkan. Pokok yang dibicarakan dalam filsafat dalam pendidikan Islam adalah filsafat,filsafat tentang apa?jawabnya filsafat tentang pendidikan,pendidikan yang bagaimana? Yakni pendidikan yang bercorak Islam. Ilmuan lain dalam hal ini Muzayyin Arifin dalam filsafat Islam, menulis "filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan  manusia  untuk  dapat dibina  dan  dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia Muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran-ajaran Islam"[7]
Menurut Munir Mulkan dalam Paradigma Intelektual Muslim:Pengantar filsafat Islam dan Dakwah menyebutkan bahwa secara khusus Filsafat Pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam, Mulkan lebih memfokuskan kepada defenisi filsafat pendidikan karena bagaimanapun juga pendidikan Islam adalah filsafat.[8]8
Kembali kepada pokok persoalan yang akan dibahas adalah nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat Islam, dengan lingkup bahasan Nilai, Etika dan Estetika dalam pendidikan, dalam hal ini pendidikan Islam, karena pada hakikatnya keseluruhanan ilmu filsafat dan cabang-cabangnya mengandung ketiga unsur tersebut.

2.NILAI  DALAM  PENDIDIKAN
a.  Pengertian/pemahaman Nilai
Nilai artinya harga. Sesuatu yang mempunyai nilai berati memiliki harga, sedang harga itu sendiri berarti penilaian terhadap sesuatu dengan standar ukuran yang telah disepakati. Nilai sesuatu bisa saja terhadap pisik atau kondisi lahir dari sesuatu yang dimaksud tetapi bisa saja nilai itu diberikan kepada sesuatu dengan melihat banyak sisi eksternal dari benda atau sesuatu yang dimaksud tersebut.
Nilai, merupakan tema baru dalam filsafat, cabang filsafat yang mempelajarinya muncul pertama kali pada paruh kedua abad ke 19. Menurut Riseri Frondizi, nilai itu merupakan  kualitas yang tidak tergantung pada benda benda adalah sesuatu yang bernilai. Ketidaktergantungan ini mencakup setiap bentuk empiris, jadi nilai adalah kualitas a priori. Nilai merupakan  sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berkembang dengan subjek yang memberi arti, yakni manusia yang meyakininya.
Sedangkan menurut JR.Fraenkel adalah: a value is an idea a concept about what someone thinks is important in life
Dari defenisi ini diisyaratkan adanya hubungan antara subjek dengan objek memiliki arti penting dalam kehidupan si objek, sebagai contoh; segenggam makanan lebih berarti bagi masarakat suku pedalaman yang tinggal di dalam hutan ketimbang segenggam emas, sebab bahan makanan dapat mempertahankan kehidupan. Untuk masyarakat kota tentu segenggam emas lebih berarti daripada segenggam makanan.[9]
Dari Sidi Gazalbi sebagaimana dikutip Chabib Toha, mengartikan nilai sebagai berikut; Nilai adalah sesutu yang bersifat abstrak, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki, disenangi ataupun yang tidak disenangi.[10]
Pengertian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara subjek dan objek,misalnya adanya perbedaan antara garam dengan emas, emas menjadi sangat penting ketika orang membutuhkan perhiasan dan garam menjadi penting ketika orang membutuhkan rasa asin. Namun demikian nilai bukan semata-mata terletak pada subjek pemberi nilai, tetapi mengandung hal yang bersifat esensial yang mengisyaratkan bahwa sesuatu itu memiliki nilai.

b.  Nilai Dalam Filsafat Pendidikan.
Jika melihat dan membicarakan nilai yang terdapat dalam pendidikan umumnya dan dalam pendidikan Islam khususnya,maka kita akan melihat nilai dalam berbagai sudut pandang .
1.        Nilai dilihat dari kemampuan manusia untuk menangkap dan mengembangkannya, nilai dapat dibedakan atas:
-     Nilai statik: seperti kognisi,emosi dan psikomotoris.
-     Nilai yangbersifat dinamis: motivasi prestasi,motivasi berafiliasi dan motivasi berkreasi.
2.        Nilai dilihat dari pendekatan budaya (seperti yang dikemukakan Abdullah Sigit) nilai dalam pendekatan ini dikelompokkan:
-     Nilai ilmu pengetahuan
-     Nilai ekonomi
-     Nilai politik
-     Nilai keindahan
-     Nilai keagamaan
-     Nilai kekeluargaan/social
-     Nilai kejasmaniaan/kesehatan
3.        Pembagian nilai atas sifat-sifatnya adalah:
-     Nilai subjektif
-     Nilai objektif rasional
-     Nilai objektif metafisik.
Sedangkan nilai dilihat dari sumbernya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
-     Nilai-nilai Ilahiyah (ubudiyah dan muamalah)
-     Nilai-nilai insaniyah (muamalah).
Dari sudut keberlakuannya nilai dibagi atas:
-     Nilai universal
-     Nilai lokal (relative).[11]
Pemahaman nilai dalam pendidikan adalah sama persepsinya dengan mempelajari nilai dalam filsafat Islam sebab telah kita sepakati bahwa mempelajari nilai-nilai dalam pendidikan berarti secara bersamaan kita sedang mempelajati nilai-nilai dalam filsafat.
Di dalam filsafat ada istilah yang disebut aksiologi yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos berarti ilmu. Sebagaimana dipahami aksiologi sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem, seperti politik, social dan agama. Sistem tersebut mempunyai rancangan atau aturan sebagai suatu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.

c.  Karakteristik dan Tingkatan Nilai.
Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai, yaitu:
1.    Nilai objektif atau subjektif,
       Nilai itu objektif jika ia tidak bergantung kepada subjek atau kesadaran yang menilai; sebaliknya nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat phsikis atau fisik.
2.    Nilai absolute atau berubah,
       Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai-nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak jaman lampau dan akan berlaku serta abadi sepanjang masa. Di lain sisi nilai ada juga yang bersifat relative (berubah) sesuai dengan keinginan manusia.

Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan tingkatan/hierarki ini:
1.    Pandangan kaum Idealis.
       Mereka berpandangan secara pasti terhadap tingkatan nilai, dimana nilai spritual lebih tinggi daripada nilai non spritual (nilai material).
2.    Pandangan kaum Realis.
       Mereka menempatkan nilai rasional dan empiris pada tingkatan atas, sebab membantu manusia menemukan realitas objektif,hukum-hukum alam dan aturan berfikir logis.
3.    Pandangan kaum Pragmatis
       Menurut mereka sutunktifitas dikatakan baik seperti yang lainnya, apabipa memuaskan kebutuhan yang penting dan memiliki nilai instrumental.Mereka sangat sensitive terhadap nilai-nilai yang menghargai masyarakat.

d. Jenis Nilai
            Aksiologi sebagai cabang filsafat membedakan nilai dalam dua jenis, yaitu;
1 .Etika dan Pendidikan. 2.Estetika dan Pendidikan.[12]

2. ETIKA DALAM PENDIDIKAN
a. Pengertian/pemahaman Etika
Membicarakan pengertian etika tidak akan pernah terlepas dari sejarah kemunculannya,yang dimulai dari periode Islam klasik, akan tetapi berdasarkan manuskrip-manuskrip atau naskah-naskah kuno yang ditemukan dan diterjemahkan ternyata karya-karya pemikiran Yuanani klasik jauh lebih dulu ditulis. Itu diketahui berdasarkan konteks mata rantai sejarah ketika bangsa Arab menaklukan sebuah wilayah,  bahasa asli negara tersebut tidak dihilangkan atau dirobahPerjalanan sejarah tersebut sampai pada suatu kesimpulan bahwa etika berasal dari kata "ethos" (Yunani) yang berarti adat kebiasaan, dalam istilah lain para ahli dalam bidang etika menyebutkan dengan moral. Etika merupakan salah satu teori yang dibicarakan ketika membahas teori tentang nilai dan ilmu kesusilaan yang membahas perbuatan baik dan melakukan kebenaran. Sedangkan moral itu sendiri adalah bentuk pelaksanaannya dalam kehidupan.[13]
Adapun menurut Burhanuddin Salam, istilah etika berasal dari kata latin,yakni "ethic" sedangkan dalam bahasa Greek, ethikos,yaitu  a body of moral principle or values. Ethic, arti sebenarnya adalah kebiasaan, habit. Jadi dalam pengertian aslinya, apa yang disebutkan baik itu adalah yang sesuai dengan kebiaasaan masyarakat (pada saat itu). Lambat laun pengertian etika berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia. Perkembangan etika tidak lepas dari substansinya, bahwa etika merupakan suatu ilmu yang membicarakan masalah perbutan dan tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan buruk. Istilah lain dari etika adalah moral, susila ,budi pekerti atau akhlak. Etika dalam bahasa Arab disebut Akhlaq, merupakan jamak dari kata khuluq yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, watak, adab dan agama.[14]
Menurut etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa Arab bentuk jamak dari mufradnya khuluq yang berarti "budi pekerti". Sinonimnya adalah etika dan moral. Etika berasal dari bahasa latin yaitu: etos yang berarti "kebiasaan" dan moral berarti juga mores yang dalam bahasa latinnya juga berarti "kebiasaannya[15]
Menurut terminologi kata "budi pekerti" terdiri atas kata budi dan pekerti."Budi" adalah yang ada pada manusia, berhubungan dengan kesadaran dan didorong oleh pemikiran,rasio yang disebut karakter Adapun "Pekerti" adalah apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut behavior. Jadi budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.Istilah akhlak atau khuluq menurut ibnu Maskawaih adalah gerak jiwa yng mendorong ke arah perbuatan dengan tidak membutuhkan fikiran. Adapun Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya ulum ad-Din menyebutkan;
"Suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang daripadanya atimbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan kepada pikiran”[16]
Etika didefenisikan pula sebagaimana ilmu akhlak, antara lain sebagai berikut: menurut ensyclopedia britanica,"ethics is the systematic study of tha nature of value concepts,good,bad,ought,right,wrong, etc. And of the general principles which justify us in applying them to anything;also called moral philosphy.(Ilmu akhlak adalah studi yang sistematis tentang tabiat dari pengertian-pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar salah dan sebagainya dan tentang prinsip-prinsip yang umum yang membenarkan kita dalam mempergunakannya terhadap sesuatu; ini disebut juga sebagai filsafat moral)[17]

Tugas Etika
Jadi, etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan perbuatan/perilaku manusia. Cara memandang adalah dari sudut apakah itu baik dan tidak baik. Etika dikatakan pula sebagai penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban dan baik buruknya tingkah laku manusia. Etika juga bertugas memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Atas dasar hak apa orang menuntut kita untuk tunduk terhadap norma-norma yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan dan sebagainya? Bagaimana kita bisa menilai norma-norma tersebut?

Sifat Dasar Etika
Sifat etika sangat mendasar,yaitu bersifat kritis. Etika mempersoalkan norma-norma yang dianggap berlaku; menyelidiki dasar-dasar norma tersebut;mempersoalkan hak dari setiap lembaga seperti orang tua,sekolah, negara dan agama untuk memberi perintah atau larangan yang harus ditaati. Hak dan wewenang untuk menuntut ketaatan dari lembaga tersebut harus dan perlu dibuktikan. Dengan demikian etika menuntut orang agar bersikap rasional terhadap semua norma.

Objek Etika
Objek penyelidikan etika adalah pernyataan -pernyataan moral yang merupakan perwujudan dari  berbagai pandangan dan berbagai persoalan dalam bidang moral, yaitu pernyataan tentang tindakan manusia dan pernyataan unsur-unsur kepribadian manusia, seperti; berbagai motif, maksud dan watak.

Metode Etika
Ada empat macam bentuk pendekatan dalam menilai suatu pendapat moral:          
1.        Pendekatan empiris deskriptif:
Pendekatan dilakukan untuk menyelidiki seperti apa pendapat umum yang berlaku di Indonesia, sejarahnya dan bagaimana perkembangan masyarakatnya. Ada ilmu-ilmu empiris yang bertugas untuk itu, seperti; psikologi, sosiologi dan antropologi
2.        Pendekatan fenomenologis:
Pendekatan yang dilakukan untuk mengetahui kesadaran seseoranguntuk mengetahui kewajibannya.
3.        Pendekatan normative:
Dalam pendekatan ini dipersoalkan apakah suatu norma moral  yang umum atau dalam masyarakat tertentu diterima atau sebetulnya tidak berlaku atau bahkan malah harus ditolak.
4.        Pendekatan mataetika:
Merupakan pendekatan analisis moral yang berusaha mencegah kekeliruan dan kekaburan dalam penyelidikan fenomenologis dan normatif dengan cara mempersoalkan arti tepat dari beberapa istilah moral.

b.  Beberapa Istilah Dalam Etika
Etika Normatif; di dalamnya dibicarakan jawaban-jawaban pokok yang diajukan atas pertanyaan: menurut norma-norma manakah kita seharusnya bertindak? Untuk jawaban dari pertanyaan tersebut maka dikemukakan beberapa teori dan pendapat manakah yang harus kita ikuti?
Teori-teoti tersebut adalah;
Teori deontologis,(berasal dari bahasa Yunani, deon yang diharuskan, yang diwajibkan) mengatakan bahwa betul salahnya suatu tindakan tidak ditentukan dari akibat tindakan tersebut, tetapi ada cara bertindak yang begitu saja terlarang atau wajib untuk tidak dilakukan.
Teori teleologis, (kata telos dalam bahasa Yunani berarti tujuan) mengatakan bahwa betul tidaknya suatu tindakan justru tergantung dari akibat-akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Jika akibat yang ditimbulkan dari perbuatan itu baik maka tindakan tersebut harus dilakukan dan sebaliknya jika akibat dari tindakan tersebut berakibat tidak baik maka wajib ditinggalkan.
Teori egoisme  etis ,merupakan kelanjutan dari teori teleologis. Teori ini banyak menyoroti  tentang akibat dari perbuatan bagi kepentingan pribadi dan bukan kepentingan orang banyak.
Penjelasan teori ini dapat dibicarakan pada beberapa pendapat yang kemudian digolongkan sebagai aliran-aliran dalam etika;
a.         Hedonisme, aliran ini berpendapat bahwa yang dinilai baik itu adalah sesuatu yang dapat memberikan rasa nikmat bagi manusia. Alasannya karena rasa nikmat itu merupakan suatu hal yang pada dirinya baik bagi manusia. Kaidah dasar Hedonisme egois berbunyi: Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau mencapai jumlah nikmat yang paling besar. Dan hindarilah segala macam yang bisa menimbulkan rasa sakit darimu.
b.        Eudemonisme, mengajarkan segala tindakan ada tujuannya, ada tujuan yang lain lagi dari setiap tujuan hingga pada akhir tujuan dari tindakan itu diharapkan dapat memberikan kebahagiaan hidup. Kaidah dasar etika dari eudemonisme: Bertindaklah engkau sedemikian rupa sehingga engkau mencapai kebahagian.
Etika Teonom; terdiri dari dua kata yaitu, theos yang berarti Allah dan nomos yang berarti hukum.  Etika teonom ini disebut juga sebagai:
Etika teonom murni, mengajarkan bahwa suatu tindakan dikatakan benar bila sesuai dengan kehendak Allah dan dikatakan salah bila bertentangan dengan kehandakNya dan suatu pekerjaan itu wajib untuk dikerjakan atau ditinggalkan jika diperintahkan oleh Allah. Teori ini banyak dipegang oleh orang-orang beragama.[18]
Antara ilmu/pendidikan dan etika memiliki hubungan yang sangat erat. Masalah moral tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia melalui perilaku dan tindakannya dalam sosialisasi kehidupan dalam upaya menemukan kebenaran.
Dewasa ini kemerosotan moral menjadi santapan keseharian masyarakat kita, pun dalam konteks  dunia pendidikan kita yang kemudian dengan serta merta berbagai perilaku yang melanggar norma secara terang-terangan ikut pula mencoreng nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi sebagai nilai kebenaran yang di satu sisi tidak dapat ditawar-tawar lagi, (wajib) untuk dipatuhi.
Ilmu akhlak dalam kehidupan dan pendidikan bukan sekedar memberitahukan mana yang baik dan mana yang buruk,tetapi juga mempengaruhi serta mendorong seseorang agar membentuk hidup yang lebih suci untuk melaksnakan kebaikan  yang bermanfaat bagi sesama manusia. Ilmu akhlak ini memberikan penghargaan kepada setiap yang mau menerima ketentuan dan norma dalam rangka membentuk pribadi yang mulia yang dihiasi oleh akhlakul karimah. Di dalam Islam etika dipandang sebagai suatu kewajiban yang absolute untuk menjadi mulia di sisi makhluk ataupun sang pencipta (Allah), nilai kemuliaan tersebut terdapat dalam Al-qur'an dan As-sunnah karena Rasulullah Muhammad SAW teladan yang paling mulia akhlaknya, sebagaimana dalam Al-qur'an dinyatakan:
Artinya; "Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur"[19]

3.  ESTETIKA DALAM PENDIDIKAN.
Soal baik dan buruk telah dibicarakan dalam etika, kini kita membicarakan soal indah dan keindahan. Penilaian baik dan buruk kerap dikaitkan dengan tingkah laku dan moral atau tindakan manusia,sedangkan nilai indah dan tak indah cenderung diarahkan ke dalam segala hal yang berkaitan dengan seni. Estetika berusaha untuk menemukan nilai indah secara umum yang kemudian dalam perkembangannya bermunculan beberapa teori yang berkaitan dengan estetika.          
Estetika berasal dari bahasa Yunani "aisthetika" pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gotlieb Baumgarten pada 1735 yang diartikan sebagai ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.[20]
Estetika adalah salah satu cabang filsafat yang berkaitan dengan seni. Secara sederhana diartikan estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk dan bagaimna seseorang bisa merasakan estetika sebagai sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dinggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa.
Timbul pertanyaan, apakah nilai keindahan itu merupakan sifat yang dimiliki objek atau terletak pada orang yang menilai (subjek). Jika nilai indah itu terletak pada objek  dan dipandang dengan sudut dan cara pandang yang sama maka akan menghasilkan kesimpulan yang sama tentang sesuatu. Jika nilai itu terletak pada subjek, maka hasil penilaian itu akan bergantung pada perasaan masing-masing subjek.
Teori lama tentang keindahan, bersifat metafisik sedang teori modern bersifat psikologis. Menurut Plato, keindahan adalah realitas yang sebenarnya dan tidak pernah berubah-ubah. Sekalipun plato menyatakan bahwaharmonis, proporsi, dan simentris adalah unsur yang membentuk keindahan, namunia tetap memikirkan adanya unsur-unsur metafisik. Bagi Plotinus keindahan itu merupakan pancaran akal Ilahi. Bila yang hakikat (Ilahi) Ia menyatakan dirinya atau memancarkan sinar pada, atau dalam realitas penuh, maka itulah keindahan.[21]
Kant dalam studi ilmiah psikologi tentang estetika menyatakan, akal itu memiliki indera ketiga atas pikir dan kemauan yaitu indera rasa yang memiliki kekhususan, yaitu kesenangan estetika.[22]
Adapun yang mendasari hubungan antara estetika dan pendidikan adalah lebih menitikberatkan kepada "predikat" keindahan yang diberikan kepada hasil seni. Sebagaimana yang diungkapkan  oleh Randall dan Buchler mengemukakan ada tiga interpretasi tentang hakikat seni:
1.        Seni sebagai penembusan terhadap realitas selain pengalaman
2.        Seni sebagai alat kesenangan
3.        Seni sebagai ekspresi yang sebenarnya tentang pengalaman.
Dengan demikian diharapkan di dalam dunia pendidikan, estetika akan mampu menciptakan dan membentuk kepribadian yang mampu bersikap kreatif dan bermoral sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi dengan segala kepatutan keindahan dan seni.18 Dengan demikian tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang berkualitas akan terwujud dengan baik sesuai dengan konsep idealisme.

                                                                                BAB III
                                                                           KESIMPULAN

 Dorongan dari rasa ingin tahu pada manusia adalah sebagai sebuah hasrat yang alamiah dan itu adalah merupakan jalan keluar bagi kelahiran segala macam ilmu pengetahuan.Dengan kata lain kelahiran ilmu pengetahuan selalu diawali oleh rasa keingintahuan manusia akan segala sesuatu, yang disebut pengetahuan. Ilmu yang mengkaji pengetahuan manusia disebut filsafat pengetahuan (Epistemology atau Theory Of Knowledge).
Pengetahuan ilmiah dapat menghasilkan kebenaran Ilmiah yang kemudian dikaji kembali secara lebih mendalam sehingga melahirkan apa yang disebut dengan filsafat ilmu (filsafat pengetahuan). Didalamnya dibahas banyak hal  tentang cabang-cabang ilmu diantaranya ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Epistemologi membahas tentang pengetahuan, aksiologi membahas tentang aksi atau perilaku yang dikatakan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai etika dan estetika dalam pendidikan.
Nilai, etika dan Estetika dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan filsafat Islam senantiasa berorientasi pada sumber yang absolut yaitu norma-norma, ajaran-ajaran, peraturan dan hukum Islam yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah
Pendidikan dalam hal ini pendidikan Islam diharapkan dapat menekankan kepada setiap unsur dari sebuah sistem pendidikan (lembaga pendidikan) agar memiliki sensibilitas yang diatur oleh nilai-nilai etika dan estetika.
Dengan demikian diketahui bahwa dalam ilmu filsafat ada dikenal term aksiologi yang menyelidiki tentang nilai, cabang pengetahuan yang berkaitan dengan nilai dan pengetahuan khusus dibahas seperti di bidang epistemologi, etika dan estetika. Epistemologi sendiri berkaitan dengan kebenaran, etika berkaitan dengan masalah kebaikan dan estetika berkaitan dengan masalah keindahan, kesemuanya penting dalam dunia pendidikan sebagai lembaga formal ataupun informal dan non formal di lembaga masyarakat dan lainnya.
                                                                                                                                                           

Daftar pustaka

Alfan, Muhammad, Filsafat Etika Islam, Cet.1.Bandung: Pustaka, Desember 2011

Estetika-wikipedia bahasa Indonesia, ensklopedia bebas.id.org/wiki/estetika

http://www.perkuliahan. com/pengertian nilai dalam Pendidikan Islam/

http://www.Slideshare.net//11992/axiologi-12695283 internet axiologi

Ilyasin  Mukhammad, Nanik Nurhayati, Manajemen Pendidikan Islam (konstruksi teoritis dan praktik), Cet.1.Jogjakarta: Aditya Media Publishing. Juli 2012

S.Praja. Juhaya, Aliran-aliran Filsafat & Etika, Ed.1.Cet.4. Jakarta: Kencana 2010

Supriyadi Dedi, Pengantar Filsafat Islam ( lanjutan) Teori dan praktik, Cet.1 Bandung: Pustaka Setia, 2010

Suharto, Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011

Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2010





                        


[1] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam (lanjutan) Teori dan Praktik. Abstraksi kulit buku. CV.Pustaka Setia, Bandung. 2010.
[2]  Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika,h 23 Jakarta, Kencana 2011
[3] Mukhammad Ilyasin,Nanik nurhayati, Manajemen Pendidikan Islam,( Aditya Media Publishing Cet.1 Juli 2012) h.123
[4] Juhaya S.Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika,Cet. 4 (Jakarta: Kencana 2010) h. 24
[5] Juhaya S.Praja, Aliran-AliranFilsafat & Etika, Cet.4 (Jakarta: Kencana, 2010) h.23
[6] Toto Suharto,Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2011) h.23
[7] Toto Suharto, filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta, Ar-Ruzz Media, 2010) h.25-26
[8] Ibid
[9] http:/www.perkuliahan.com/Pengertian Nilai dalam Pendidikan Islam/
[10] Ibid
[11] http://www./perkuliahan.com/Pengertian nilai Dalam Pendidikan Islam/
[12] http://www.Slideshare net//11992/axiologi-12695283 internet axiologi
[13] Ibid
[14] Muhammad Alfan, Filsafat Etika Islam, (Bandung: Pustaka Setia, Desember, 2010) h.17
[15] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam,(lanjutan) Teori dan Praktik, (Bandung: CV. Pustaka setia,2010) h.93
[16] Ibid
[17] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (lanjutan) Teori dan Praktik, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010) h. 93
[18] Juhaya,S.Praja, Aliran-aliran Filsafat &Etika,Ed.1,Cet.4 (Jakarta: Kencana, 2010) h.67
[19] Q.s. Al-qolam a.14
[20] Estethika-wikipedia bahasa Indonesia, Ensklopediabebas.id.wikipedia.org/wiki/ estethika
[21] Ibid
[22] Ibid