Home » » Aliran Murji'ah

Aliran Murji'ah

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Murji’ah
Oleh: Muntadhar

A.  Pendahuluan
              Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang ajaran-ajaran dasar dari suatu agama yaitu setiap orang yang mendalami agamanya secara mendalam. Mempelajari ilmu kalam akan memberikan keyakinan yang kuat terhadap seseorang dengan berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits yang tidak mudah diombang-amibng oleh kemajuan zaman.
           Islam tidaklah sesempit yang dipahami pada umumnya, dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dapat berhubungan dengan masyarakat luas. Akidah pada saat Rasulullah wafat telah melekat dengan kokoh dalam hati setiap muslim, mereka hidup dalam ikatan persatuan yang sangat kuat, penuh dengan kesucian dan kemuliaan. Namun, setelah itu mulai bermunculan berbagai perseolan-persoalan seperti lahirnya sekte aliran-aliran dalam Islam yang akhirnya berefek pada teologi.
Persoalan politik setelah wafatnya khalifah ketiga yaitu Khalifah Utsman ibn Affan membawa perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Persoalan tersebut memberikan dampak timbulnya beberapa golongan, yaitu golongan Khawarij dan golongan Syiah. Persoalan-persoalan politik yang terjadi dalam lapangan politik ini membawa timbulnya persoalan kafir mengkafirkan antara golongan Khawarij di pihak Muawiyah dengan golongan Syiah di pihak Ali ibn Abi Thalib. Dalam persoalan pertentangan ini, muncul suatu golongan baru yang bersifat netral, yaitu golongan Murji’ah. Golongan Murji’ah ini tidak mau mengkafirkan satu sama lain, melainkan menangguhkan atau mengembalikannya kepada Allah. Dalam perjalanan sejarahnya, kaum Murji’ah ini mulai menanggapi persoalan-persoalan teologis yang mencakup iman, kufur, dosa besar dan ringan, hukuman atas dosa. Sehingga mengakibatkan perbedaan pendapat di dalam kubu Murji’ah sendiri.  
            Sudah kita ketahui bahwa dalam Islam banyak sekali aliran - aliran di antaranya adalah Murji’ah. Aliran ini adalah satu di antara aliran - aliran yang muncul ketika terjadi konflik antara Ali dan Muawiyah.  Supaya kita lebih tahu tentang aliran Murji’ah, maka dirasa perlu bagi kita membahas tentang aliran Murji’ah. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah, ajaran pokok , sekte-sekte dan ajaran masing-masing.
B.   Pengertian Al-Murji’ah
      Nama Murji'ah diambil dari kata irja atau arja'a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan Pengharapan. Kata arja'a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja'a berarti pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dan iman. Oleh karena itu Murji’ah, artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.[1]  
      Bagi kaum Murji'ah, orang yang melakukan dosa besar adalah tetap mukmin, soal dosa besar yang dilakukannya merupakan hak Tuhan untuk menentukannya di hari kemudian. Alasan mereka adalah bahwa orang yang melakukan dosa besar itu masih tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan (Rasul) Allah, atau dengan kata lain masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar iman. Selanjutnya, kaum Murji’ah memberikan harapan bagi orang Islam yang melakukan dosa besar, dengan mengatakan bahwa mereka tidak kekal di dalam neraka dan aliran Murji’ah menganggap iman lebih utama dari amal perbuatan
Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a. Ada beberapa pendapat tentang arti arja’a, diantaranya ialah:[2]
1.      Menurut Ibn ‘Asakir, dalam uraiannya tentang asal-usul kaum Murji’ah mengatakan bahwa arja’a berarti menunda. Dinamakan demikian karena mereka itu berpendapat bahwa masalah dosa besar itu ditunda penyelesaiannya sampai hari perhitungan nanti, kita tidak dapat menghukumnya sebagai orang kafir.
2.      Ahmad Amin dalam kitabnya Fajr al-Islam mengatakan bahwa arja’a juga mengandung arti membuat sesuatu, mengambil tempat-tempat dibelakang, dalam arti memandang sesuatu kurang penting. Dinamakan sesuatu kurang penting, sebab yang penting adalah imannya. Amal adalah nomor dua setelah iman.
3.      Selanjutnya, Ahmad Amin juga mengatakan bahwa arja’a juga mengandung arti memberi pengharapan. Dinamakan demikian, karena di antara kaum Murji’ah ada yang berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar itu tidak berubah menjadi kafir, ia tetap sebagai mukmin, dan kalau ia dimasukkan ke dalam neraka, maka ia tidak kekal didalamnya. Dengan demikian orang yang berbuat dosa besar masih mempunyai pengharapan akan dapat masuk surga.
            Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemikiran kalam Murji’ah merupakan suatu aliran yang berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir, akan tetapi tetap mukmin. Dan urusan dosa besar yang telah dilakukan ditunda penyelesaiannya sampai hari kiamat.

C.  Tokoh- tokoh Murji’ah
            Beberapa tokoh-tokoh faham Murji’ah  adalah sebagai berikut:
    1.      Jahm bin Shufwan
    2.      Abu Musa Ash-Shalahi
    3.      Yunus As-Samary
    4.      Abu Smar dan Yunus
    5.      Abu Syauban
    6.      Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimasqy
   7.      Al-Husain bin Muhammad An-Najr
   8.      Abu Haifah An-Nu’man
   9.      Muhammad bin Syabib
  10.  Mu’adz Ath-Thaumi
  11.  Basr Al-Murisy
  12.  Muhammad bin Karam As-Sijistany

D.  Sejarah awal mula pemikiran kalam Murji’ah
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murji’ah, diantaranya ialah:
1.      Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja’a berarti pula meletakan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu, Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.[3]
2.      Bahwa gagasan irja atau arja’a, yang merupakan basis doktin, muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali ibn Abi Thalib, Al-Hasan ibn Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun 695. Penggagas teori ini adalah Watt. Watt menegaskan teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah meninggal Muawiyah pada tahun 680 H, dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al-Mukhtar membawa faham syi’ah ke Kufah dari tahun 685-687 H. Ibnu Zubair mengklaim kekhalifahan yang ada di Mekah hingga yang berada di bawah kekuasaan Islam. Sebagai respon dari keadaan ini, muncul gagasan irja atau penangguhan. Gagasan ini pertama kali digunakan sekitar tahun 695 H oleh cucu Ali ibn Abi Thalib, Al-Hasan ibn Muhammad Al-Hanafiyah, dalam sebuah surat pendeknya, dalam surat itu, Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan,” kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Usman, ‘Ali dan Zubair (seorang tokoh pembelot ke Mekah).” Dengan sikap politik ini Al-Hasan mencoba menanggulangi perpecahan umat Islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok Syi’ah revolusioner yang terlampau mengagungkan ‘Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan Mu’awiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan si pendosa Usman.
3.      Mengatakan bahwa munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman ibn Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Mu’awiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok Mu’awiyah lalu membentuk Dinasti Umayyah. Syi’ah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syi’ah menentang Mu’awiyah karena menuduh Mu’awiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Mu’awiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Di tengah-tengah suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murji’ah. Bagi mereka sahabat-sahabat yang terlibat dalam pertentangan karena peristiwa tahkim itu tetap mereka anggap sebagai sahabat-sahabat Nabi yang dapat dipercaya keimanannya. Oleh karena itu mereka tidak menyatakan siapa yang sebenarnya salah, tetapi mereka lebih baik menunda persoalan tersebut, dan menyerahkannya kepada tuhan pada hari perhitungan di hari kiamat nanti, apakah mereka menjadi kafir atau tidak.[4] 

Dari beberapa poin yang disebutkan di atas, bahwa muncul pemikiran murji’ah atas dua persoalan.
            1. Permasalahan Politik
            Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah, dilakukanlah tahkim (arbitrase) atas usulan Amr ibn Ash, seorang kaki tangan Mu’awiyah. Kelompok Ali terpecah menjadi 2 kubu, yang pro dan kontra. Mereka memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Qur’an, dengan pengertian, tidak bertahkim dengan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim adalah dosa besar, dan pelakunya dapat dihukumi kafir, sama seperti perbuatan dosa besar yang lain.
            Seperti yang telah disebutkan di atas Kaum khawarij, pada mulanya adalah penyokong Ali ibn Abi Thalib tetapi kemudian berbalik menjadi musuhnya. Karena ada perlawanan ini, pendukung-pendukung yang tetap setia pada Ali ibn Abi Thalib bertambah keras dan kuat membelanya dan akhirnya mereka merupakan golongan lain dalam islam yang dikenal dengan nama Syi’ah.
Dalam suasana pertentangan inilah, timbul suatu golongan baru yang ingin bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan ini. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangan ini merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa sebenarnya yang salah, dan lebih baik menunda (arja’a) yang berarti penyelesaian persoalan ini di hari perhitungan di depan Tuhan.

            2. Permasalahan KeTuhanan
            Dari permasalahan politik, mereka kaum Mur’jiah pindah kepada permasalahan ketuhanan (teologi) yaitu persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum khawarij, mau tidak mau menjadi perhatian dan pembahasan pula bagi mereka. Kalau kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir bagi orang yang membuat dosa besar, kaum Murji’ah menjatuhkan hukum mukmin.
            Pendapat penjatuhan hukum kafir pada orang yang melakukan dosa besar oleh kaum Khawarij ditentang sekelompok sahabat yang kemudian disebut Mur’jiah yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah dia akan mengampuninya atau tidak.
            Aliran Murji’ah menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan Tuhan, karena hanya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar masih di anggap mukmin di hadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosar besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu, orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir.
            Pandangan golongan ini dapat dilihat terlihat dari kata Murji’ah itu sendiri yang merupakan berasal dari kata arja’a yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan dan memberikan pengaharapan. Menangguhkan berarti bahwa mereka menunda soal siksaan seseorang di tangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan ia akan langsung masuk surga, sedangkan jika tidak, maka ia akan disiksa sesuai dengan dosanya, setelah ia akan dimasukkan ke dalam surga. Dan mengakhirkan dimaksudkan karena mereka memandang bahan perbuatan atau amal sebagai hal yang nomor dua bukan yang pertama. Selanjutnya kata menangguhkan, dimaksudkan karena mereka menangguhkan keputusan hukum bagi orang-orang yang melakukan dosa di hadapan Tuhan.
     
E. Ajaran Pokok Murji’ah
            Ajaran-ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja atau arja’a yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis. Berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah, Abu ‘A’la Al-Maududi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran Murji’ah, yaitu:
1.      Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardukan dan melakukan dosa besar.
2.      Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk mendapat pengampunan manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari Syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.[5]
            Akan tetapi sebagian dari golongan murji’ah berpendapat bahwa iman itu terdiri dari dua unsur, yaitu membenarkan dengan hati, dan mengikrarkan dengan lisan. Membenarkan dengan hati saja tidaklah cukup, dan mengikrarkan dengan lisan saja pun tidak cukup, tetapi harus dengan bersama keduanya-duanya, supaya seseorang menjadi Mukmin. Karena orang yang membenarkan  dengan hati dan menyatakan kebohongannya dengan lisan, tidak dinamakan Mukmin. Iman adalah pengakuan tentang ke-Maha Esaan Allah, dan kerasulan Muhammad Saw, yaitu pengakuan hati. Barang siapa mengakui hal itu berdasarkan kepercayaan, maka dia adalah Mukmin, apakah dia menunaikan kewajiban-kewajibannya atau tidak, dan apakah dia menjauhi dosa-dosa besar atau dia justru melakukannya. Salah seorang penyair mereka berkata: Aku tidak berpendapat bahwa  sesuatu dosa dapat mengantarkan seseorang kepada syirik , selama dia tetap bertauhid kepada Tuhan.[6]
Berkaitan dengan doktrin teologi Murji’ah menurut Harun Nasution menyebutkan ajaran pokoknya yaitu:
a.    Menunda hukuman atas Ali, Muawwiyah, Amr ibn Ash, dan Musa al Asy ‘ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari akhir kelak.
b.    Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
c.    Meletakkan pentingnya iman daripada amal.
d.   Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan di sisi Allah.[7]


F.  Dalil-dalil Pemikiran Kalam Murji’ah
Dalil yang di ambil dalam mendukung pemikirannya adalah Firman Allah dalam Alquran, surat az-Zumar:
* ö@è% yÏŠ$t7Ïè»tƒ tûïÏ%©!$# (#qèùuŽó r& #n?tã öNÎgÅ¡àÿRr& Ÿw (#qäÜuZø)s? `ÏB ÏpuH÷q§ «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ãÏÿøótƒ z>qçR%!$# $·èÏHsd 4 ¼çm¯RÎ) uqèd âqàÿtóø9$# ãLìÏm§9$#

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az-Zumar, ayat: 53)
Nash yang dijadikan keimanan dan kekufuran seluruhnya terletak pada hati adalah:

y7Í´¯»s9'ré& |=tFŸ2 Îû ãNÍkÍ5qè=è% z`»yJƒM}$#
Artinya: …Meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka… (Q.S. Al-Mujaadilah, ayat: 22)

žwÎ) ô`tB on̍ò2é& ¼çmç6ù=s%ur BûÈõyJôÜãB Ç`»yJƒM}$$Î/
Artinya: …Kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)… (Q.S. An-Nahl, ayat 106)

Dalil dari Sunnah mereka berhujjah dengan sebagian hadits dan atsar, yang secara dhahir menunjukkan atas perintah untuk menjauhi syirik dan keberadaan iman  dalam  hati  seseorang untuk menggapai kejayaan dan  keridhaan Allah:

مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِالله ِشَيْئا دَخَلَ النَّارَ.   قَالَ إِبْنُ مَسْعُوْدٍ:  وَقُلْتُ أَنَّا مَنْ مَات  لَا يُشْرِكُ بِالله ِشَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya:  Barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka ia akan masuk neraka”, Ibnu Mas’ud berkata: “Saya katakan: “Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah maka ia masuk Jannah.”[8]
Inilah beberapa dalil yang digunakan oleh kolompok murjiah dalam menguatkan mazhabnya.

G.   Sekte-sekte  dan Ajaran Masing-Masing.

            Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) dikalangan para pendukung Murji’ah sendiri. Ibnul Jauzi mengatakan  bahwa Murji’ah terbagi menjadi  11 bagian: 
1.  At Tarikah
            Mereka mengatakan: “Tidak ada  kewajiban bagi seorang hamba kepada Allah selain hanya  beriman saja. Barang siapa yang telah beriman kepada-Nya dan telah mengenal-Nya maka dia boleh berbuat sesukanya.”
2. As Saibiah
            Mereka mengatakan: “Sesungguhnya Allah membiarkan hamba-Nya untuk berbuat sesukanya.”
3.    Ar Raji’ah
Mereka mengatakan: “Kami  tidak mengatakan taat bagi orang yang taat, dan juga tidak menyebut maksiat bagi orang yang melakukan perbuatan maksiat karena kami tidak mengetahui   kedudukan  mereka di sisi Allah.”
4.    Asy- Syakiah
Mereka mengatakan: “Sesungguhnya ketaatan itu bukanlah dari iman.”
5.    Baihasyiah  (nisbah pada  Baihasy ibn Haisham)
Mereka mengatakan: “Iman itu adalah ilmu, barang siapa yang tidak mengetahui yang hak dan yang batil, juga tidak mengetahui halal dan haram maka dia telah kafir.”
6. Manqushiah                                     
            Mereka mengatakan: “Iman itu bertambah tapi tidak berkurang.”
            7. Mustatsniah
Mereka adalah orang-orang yang menafikan, atau “istitsna” (pengecualian) dalam hal keimanan.
            8. Musyabbihah
Mereka mengatakan: “Allah mempunyai penglihatan sebagaimana penglihatanku dan juga mempunyai tangan sebagaimana tanganku.”
9. Hasyawiah
Mereka menjadikan hukum hadits semuanya adalah satu, dan menurut mereka orang-orang yang meninggalkan amalan sunnah sama halnya dengan orang yang meninggalkan amalan fardhu.
            10.  Dzahiriyah
            Mereka adalah orang-orang yang menafikan (tidak menggunakan) qiyas.
            11.  Bid’iyyah
            Mereka adalah orang pertama yang memulai bid’ah pada ummat ini.[9]
            Kaum Murji’ah pecah menjadi beberapa golongan kecil. Namun, pada umumnya Aliran Murji’ah menurut Harun Nasutuion, terbagi kepada dua golongan besar, yakni golongan moderat dan golongan ekstrim.
Golongan Murji’ah Moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan di hukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang dilakukan. Mereka akan disiksa sebesar dosanya dan bisa juga diampuni oleh Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali. Iman adalah pengetahuan tentang Tuhan dan Rasul-RasulNya serta apa saja yang datang darinya secara keseluruhan namun dalam garis besar. Iman dalam hal ini tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Tak ada perbedaan manusia dalam hal ini. Penggagas pendirian ini adalah Al Hasan Ibn Muhammad Ibn Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan beberapa ahli hadits.[10]
Sedangkan Murji’ah ekstrim, yaitu pengikut Jaham Ibnu Sofwan, berpendapat bahwa orang Islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya dalam hati. Bahkan, orang yang menyembah berhala, menjalankan agama Yahudi dan Kristen sehingga ia mati, tidaklah menjadi kafir. Orang yang demikian, menurut pandangan Allah, tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna imannya.    
            Kelompok ekstrim dalam Murji’ah terbagi menjadi empat kelompok besar, yaitu:
1.      Al-Jahmiyah, kelompok Jahm ibn Syahwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.
2.      Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui tuhan, sedangkan kufur tidak tahu tuhan. Sholat bukan merupakan ibadah kepada Allah, yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahui tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
3.      Yumusiah dan Ubaidiyah, melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini Muqatil ibn Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik.[11]
Dapat disimpulkan bahwa, apabila yang menjadi asas golongan Mu’tazilah adalah “Ushulul Khamsah” dan golongan Syi’ah yang berasas tentang  “Imamah”, maka asas golongan Murji’ah tentang batasan pengertian “Iman”.
Menurut Ahlus Sunnah bahwa iman itu terdiri dari tiga unsur, yaitu membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan menyertainya dengan  amal perbuatan seperti shlat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Masing-masing adalah termasuk bagian dari iman. Kebanyakan golongan murji’ah  berpendapat bahwa iman ialah hanya membenarkan dengan hati saja. Atau dengan kata lain iman adalah makrifat kepada Allah Swt. dengan hati, bukan pengertian lahir. Apabila seseorang beriman dengan hatinya, maka dia adalah Mukmin dan Muslim, sekalipun lahirnya dia menyerupai orang yahudi atau Nasrani dan meskipun lisannya tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Mengikrarkan dengan lisan dan amal perbuatan seperti shalat , puasa dan sebagainya, itu bukan bagian dari iman.

H. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan.
1.    Murji’ah artinya orang yang menunuda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawwiyah serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.
2.    Golongan Murji’ah, pada umumnya terbagi menjadi dua. Yaitu, golongan Murji’ah ekstrim dan Murji’ah moderat.
3.    Yang terpenting dalam golongan murji’ah adalah aspek keimanan dan kemudian amal. Aspek tersebut yang kemudian dijadikan inti dari doktrin ajaran Murji’ah ekstrim dan moderat.
4.    Golongan Murji’ah ekstrim menyatakan bahwa, iman adalah pengakuan dalam hati (tasdiq bil qalb). Seseorang tidak menjadi kafir karena melakukan dosa besar sekalipun menyatakan kekufurannya secara lisan.
5.    Sedangkan golongan Murji’ah moderat menyatakan bahwa, iman itu merupakan pengakuan dalam hati (tasdiq bil qalb) dan pengakuan dengan lisan (iqraq bil al-lisan). Pelaku dosa besar menurut mereka tidak kafir dan tidak kekal dalam neraka. Kalau Tuhan mengampuninya ia bebas dari neraka, kalau tidak mendapat ampunan maka ia masuk neraka.








DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Syalabi, Sejarah Peradaban Islam, Jilid. I, terj. Mukhtar Yahya, Jakarta:   Pustaka al-Husna Baru, 2003
Anwar, Rohisan dan Abdul Razak, Ilmu Kalam Untuk IAIN, STAIN, PTAIS,          Bandung: Pustaka Setia, 2001
Basri, Hasan dkk, Ilmu Kalam Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-Aliran,    Bandung: Azkia Pustaka Utama, 2007
Cyril Glasse, The concise Encyclopedia of Islam, London: Staceny international,    1989
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,         Jakarta: UI Press, 2009
Nasution, Arun, Teologi Islam, Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2002
HR Bukhari dan Muslim, Shahih Muslim, hadits no. 268-269



                [1]Anwar, Rohisan dan Abdul Razak, Ilmu Kalam Untuk IAIN, STAIN, PTAIS (Bandung: Pustaka Setia, 2001), h. 56.
               [2]Basri, Hasan dkk, Ilmu Kalam Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-Aliran (Bandung: Azkia Pustaka Utama, 2007), h. 25.
                [3]Cyril Glasse, The concise Encyclopedia of Islam (London: Staceny international, 1989), h. 288. Lihat juga Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, 1990, h. 633.
                [4]Rosihan dan Razak, Ilmu kalam…, h. 56-57.
                [5]Ibid., h. 59.
                [6]A. Syalabi, Sejarah Peradaban Islam, Jld. I, terj. Mukhtar Yahya  (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003), h. 297.
                [7]Nasution, Harun, Teologi Islam (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2002), h. 22.
                [8]HR Bukhari dan Muslim, Shahih Muslim, hadits no. 268-269
                [9] Harun Nasution, Theology Islam, cet.II,  (Jakarta: UI Press, 1972), h. 11.
                [10]Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. (Jakarta: UI Press, 2009), h. 22-23
                [11]Ibid., h. 26-27.