Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Pocut Baren

Biografi

Pocut Baren adalah seorang tokoh pejuang wanita yang pada masa Perang Aceh sangat terkenal keberaniannya melawan kolonilalisme Belanda. la adalah sosok wanita pejuang yang heroik. Di samping itu ia juga dikenal sebagai seorang uleebalang wanita yang mampu membangun daerahnya di Tungkop, Aceh Barat yang porak poranda sebagai akibat terjadinya perang yang berkepanjangan.
Semenjak menderita cacat fisik akibat pertempuran melawan pasukan belanda (kedua kaki beliau terpaksa diamputasi akibat infeksi luka tembak), ia bekerja keras untuk mensejahterakan rakyat disekitarnya. Melalui perbaikan agronomi, kehidupan masyarakat menjadi lebih makmur dan sejahtera. Untuk lebih mengetahui kehidupan Pocut Baren, di bawah ini akan dipaparkan serba sedikit mengenai riwayat hidup dan perjuangannya melawan Belanda. Di samping itu juga akan dibahas mengenai kepemimpinannya sebagai seorang uleebalang wanita yang mampu menghidupkan kembali perekonomian rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin yang handal, ia juga seorang sastrawan yang produktif menuliskan syair-syairnya dalam bahasa Aceh. 


Riwayat Masa Kecil

Pocut Baren seorang wanita bangsawan yang lahir di Tungkop. la adalah putri Teuku Cut Amat, seorang Uleebalang Tungkop yang sangat berpengaruh, terpandang berwatak keras dan pantang menyerah. Daerah keulebalangan Tungkop merupakan bagian dari daerah federasi Kaway XII yang letaknya berada di Pantai Barat Aceh, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Aceh barat.
Sebagaimana lazimnya setiap anak perempuan Aceh, Pocut Baren dididik dengan pelajaran agama Islam. Pendidikan agama ini di bawah asuhan ulama-ulama yang didatangkan ke tempatnya seperti yang banyak dilakukan oleh keluarga uleebalang lainnya. Dan hasil pendidikan agama yang diperolehnya selama bertahun-tahun di meunasah, rangkang dan dayah itulah tertanam dalam jiwanya satu kepribadian tertentu yang berakar dalam dan teguh. Sesuai dengan ajaran yang diyakininya, Pocut Baren sanggup berkorban apa saja, baik harta benda, kedudukan maupun nyawanya, demi tegaknya kepentingan agama dan bangsa keyakinan serupa itu ia buktikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari. la dengan rela meninggalkan kesenangan dan kemewahan.
Selain pendidikan agama yang kental, situasi politik dan peperangan yang berkepanjangan di Aceh Barat telah membentuk sikap dan watak Pocut Baren semakin dewasa. Pada saat wanita itu menginjak usia dewasa, sebagian Aceh Barat telah dikuasai oleh Belanda. Maka tidak mengherankan jika ia tumbuh menjadi seorang wanita yang taat beribadah dan patuh menjalankan syariah Islam, serta menjadi pejuang yang tangguh melawan Belanda. Setelah dewasa, Pocut Baren dinikahkan dengan seorang Keujruen yang menjadi Uleebalang Gume. Suaminya itu juga seorang pejuang yang memimpin perlawanan di Kawasan Woyla. (Zentgraaff, 1982/1983 : 237; Doup, 1940 : 204). Daerah yang menjadi federasi Kaway XII ini, di samping daerah Tungkop, juga darah-daerah lain, seperti daerah Pameue, Geumpang, Tangse, Anoe dan Gume.
Adapun wilayah Tungkop terletak di kawasan Hulu Sungai Woyla. (Zentgraaff; 1982/1983 : 137). Oleh Pemerintah Belanda, pada tahun 1922 Keuleebalangan Tungkop dimasukkan ke dalam Onderafdelling Meulaboh, bersama-sama daerah lainnya, seperti Bubon, Lhokbubon, Kaway XVI (Meulaboh), Seuneuam, Betong dan Pameue. Daerah-daerah ini menjadi daerah swapraja yang dalam istilah Belandanya disebut Zelfbesturen. Daerah ini oleh pemerintah Belanda diakui sebagai daerah zelfbesturen menurut peraturan organisasi pemerintah sebagaimana diatur dalam Stablad 1922 Nomor 451. (Hassan, 1980: 194).
Walaupun kedudukannya masih berada di bawah payung Kerajaan Aceh Darussalam, Federasi Kaway XII ini telah mempunyai hak mengatur dirinya sendiri (hak otonom). Kaway XII dan daerah sepanjang Krueng Woyla merupakan daerah yang banyak menghasilkan emas. Dengan kekayaan emasnya yang melimpah tersebut, telah mendorong orang-orang dari Minangkabau berdatangan untuk menambang daerah penghasil emas tersebut. Orang-orang Minangkabau yang bermukim di daerah Kaway XII dan sepanjang Krueng Woyla, setelah bercampur baur dengan masyarakat Aceh, keturunannya dikenal dengan nama masyarakat Aneuk Jamee. Kaway XII merupakan daerah tambang emas di dalam wilayah Kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang Keujruen yang disebut Keujreun Meuih. Keujreun Meuih mempunyai tugas mengambil hasil emas dan pajak-pajak lainnya dari pertambangan emas di dalam wilayah federasi tersebut. (Djajadiningrat, 1934:693).
Dengan hasil penambangan emas yang melimpah tersebut, Aceh Barat mampu membiayai perangnya melawan Belanda hingga bertahun-tahun lamanya. Tidak terkecuali di daerah Tungkop dan sekitarnya, juga ikut memanfaatkan penambangan emas ini untuk biaya perang melawan Belanda. Sebagaimana pada umumnya gadis-gadis Aceh lainnya, Pocut Baren dilahirkan dan dibesarkan dalam suasana perang. Suasana peperangan ini telah membentuk jiwa dan pribadinya sebagai seorang manusia yang harus mampu menghadapi berbagai tantangan yang menghadangnya. Sejak kecil ia telah dilatih dengan berbagai ujian berat yang mampu membentak dirinya sebagai seorang yang kuat, tangguh, ulet, berani dan semangat yang membaja untuk memusuhi Belanda yang dianggapnya kaphe. Dengan didikan seperti itu, setelah dewasa ia mampu mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Sebagai seorang bangsawan, ia rela meninggalkan kehidupan duniawi yang bergelimang kemewahan. Dengan menggabungkan dri ke dalam barisan pejuang yang hidup di rimba raya untuk ikut bergerilya memimpin perang melawan Belanda.

Berjuang Melawan Belanda

Pocut Baren merupakan seorang wanita yang tahan menderita, sanggup hidup dalam waktu lama dalam pengembaraannya di gunung-gunung dan hutan belantara. Pengalaman dan penderitaan hidup seperti itu mulai ia jalani semasa berjuang bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien. Wataknya yang pemberani, tabah dan ulet menjadi modal yang berharga dalam perjuangan. la sangat dihormati dan disegani oleh teman-teman seperjuangannya dan ditaati oleh pengikut pengikutnya serta ditakuti oleh musuh-musuhnya. Hal ini diakui sendiri oleh Doup, salah seorang mantan Komandan marsose di Aceh yang ditulisnya dalam buku yang berjudul Gedenk book van het Korps Marechaussee. Berkat kepemimpinannya dalam peperangan dengan taktik perang gerilya, Belanda dipaksa menelan kerugian besar.
Pocut Baren telah berjuang dalam waktu yang cukup lama. Sejak masa muda, ia telah terjun ke kancah pertempuran. Pocut Baren meunjukkan kesetiaannya yang tinggi pada Cut Nyak Dhien, baik dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda maupun dalam pengembaraan bersama dari satu tempat ke tempat lain, dari satu hutan ke hutan lain dengan menahan lapar dan penderitaan. Pengalaman bertempur yang diperoleh dari perjuangan bersama Cut Nyak Dhien itu, semakin memperteguh pendiriannya dalam perlawanan terhadap Belanda, terutama ketika ia memimpin sendiri pasukannya. Begitu suaminya gugur dalam pertempuran, ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan suaminya membebaskan Aceh dari cengkraman Belanda.
Perjuangan dan perlawanan Pocut Baren yang gagah berani dilukiskan sendiri oleh penulis Belanda yang bernama Doup (1940: 204) yang mengatakan bahwa Pocut Baren telah melakukan perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1903 hingga tahun 1910. Pada hal Cut Nyak Dhien tertangkap pada tanggal 4 Nopember 1905. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pocut Baren telah memimpin sendiri pasukannya ketika Cut Nyak Dhien masih aktif dalam pertempuran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, ketika itu di wilayah Aceh barat terdapat dua orang wanita yang memimpin pasukan melawan Belanda, yaitu Cut Nyak Dhien dan Pocut Baren. Keduannya sama-sama dilahirkan sebagai Putri bangsawan dan sama-sama sebagai anak Uleebalang. Keduanya juga mempunyai kesamaan tekad dan cita-cita mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Aceh. Pada saat suaminya masih hidup ia bersama suaminya memimpin perlawanan mengusir penjajahan Belanda. Sebenarnya ia tahu dan sadar bahwa setiap saat diri dan suaminya dapat terancam maut oleh peluru musuh. Tetapi ia tetap berjuang demi tanah air yang tidak rela diinjak-injak oleh kaphee Belanda. Bagi dirinya, kematian bukanlah hal yang menakutkan, sehingga ia tetap bersemangat dalam menghadapi peperangan yang sering kali tidak seimbang dalam jumlah maupun kekuatan tempurnya.
Belanda dilengkapi persenjataan yang lebih baik dan lebih modern, sedangkan dipihak pejuang Aceh yang dipimpinnya lebih kecil personilnya dan persenjataannyapun kalah bagus, tetapi dengan semangat juangnya yang membaja, membuat Belanda sering kedodoran. Berkat semangat perang sabil yang tertanam dalam jiwanya, Pocut Baren bersama suaminya sadar bahwa sewaktu-waktu akan tewas ditembus peluru musuh. la rela mati sahid demi kedaulatan tanah rencong. la juga tahu bahwa suaminya akan mendahului dirinya atau sebaliknya. Situasi serupa ini pernah dialami oleh banyak wanita pejuang Aceh, seperti telah disebutkan di atas. la rela ditinggal mati suaminya dan sudah siap pula untuk melanjutkan perjuangan sebagai warisan yang harus diterima dan mereka yang telah mendahului sahid.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih bagi Pocut Baren ketika bersama suaminya ia bertempur antara hidup dan mati, melawan Belanda. Pertempuran tersebut terjadi di wilayah Keujren Game, Aceh Barat. Mengingat kekuatan personil militer Belanda lebih besar dan persenjataannyapun juga tidak seimbang serta posisi pasukan Aceh kurang menguntungkan, maka gugurlah suami Pocut Baren dalam pertempuran tersebut. Pocut Baren berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda. Walaupun sedih atas kematian suaminya, ia tetap tidak akan menyerah. Bahkan ia bertekad akan meneruskan perjuangan suaminya.
Dengan sahidnya suaminya, semua tugas memimpin pasukan jatuh ke pundaknya. Walaupun sendirian memimpin pasukan, ia tidak kehilangan semangat seperti yang diperkirakan Belanda. la menghimpun kembali pasukannya dengan cara memobilisasi penduduk di daerah Kaway XII dan mengumpulkan sisa-sisa pasukannya untuk meneruskan perjuangan yang lebih intensif. Sebaliknya, Belanda yang dibuat pusing tujuh keliling, terpaksa harus mendatangkan bala bantuan lagi dari Batavia untuk mengejar pejuang-pejuang Aceh yang dipimpin Pocut Baren itu. Setelah situasi dapat dikuasai kembali, konsulidasi pasukan dapat berjalan dengan baik, Pocut Baren kembali mengatur strategi dalam upaya melakukan penyerangan terhadap Belanda.
Di samping melakukan mobilisasi umum, Pocut Baren juga membangun benteng di Gunong Mancang yang akan dijadikan sebagai pusat pertahanannya. Dari benteng inilah direncanakan segala penyerangan terhadap tangsi militer Belanda dan penyergapan terhadap patroli-patroli musuh yang sedang lewat. Untuk mengimbangi kehebatan benteng Pocut Baren di Gunong Mancang, pasukan Belanda kemudian membangun tangsi secara besar-besaran di Kuala Bhee dan Tanoh Mirah. Dan kedua tempat pertahanan inilah pasukan Belanda bergerak untuk memburu pasukan pocut Baren. (Zentgraaff, 1982/1983 : 138). Dari pusat pertahanannya di Gunong Mancang tersebut, pasukan Pocut Baren lebih sering melakukan penyergapan terhadap tangsi-tangsi Belanda, baik yang berada di Tanoh Mirah maupun di Kuala Bhee.
Seusai melakukan penyerangan, mereka kembali ke pusat pertahanannya di Gunong Mancang. Pasukan Belanda tampaknya tidak berani langsung menyerang Pocut Baren di Gunong Mancang, karena pertahanannya sangat kuat dan posisinya sangat strategis, sehingga mampu dipertahankan sampai bertahun-tahun lamanya. Hal itu dikisahkan sendiri oleh Zentgraaff yang menuliskan dalam bukunya sebagai berikut :
"...begitulah selama bertahun-tahun ia hidup dalam pertempuran yang diselingi jeda sejenak ke tempat-tempat yang jauh terpencil yang belum lagi didatangi Kompeni, masih merupakan masa yang menyenangkan baginya. Cara bertempur seperti ini, di mana anda berhenti dulu kalau merasa bosan bertempur. Masa-masa yang menyenangkan akan segera berakhir setelah marsose mulai mengadakan pembersihan di daerah pesisir Barat tersebut. Penghidupan berubah menjadi suatu yang menyulitkan dengan segala perburuan dan penyergapan yang dilakukan. Namun, ia menerima segala resiko itu dan ia senantiasa melawan dengan layaknya. la selalu bergerak sangat mobil dan berkuasa setaraf dengan lelaki yang paling kuat" (Zantgraaft 1982/1983 : 137).
Bagaimanapun cepatnya penyerangannya, betapapun kuatnya pertahanannya, Pocut Baren tidak dapat membuat pasukan. Pasukan Belanda menyerah kalah dan menghentikan usaha perburuan mereka terhadap dirinya. Kelemahan di bidang persenjataan jika dibandingkan dengan persenjataan serdadu Belanda, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasukan Pocut Baren berangsur-berangsur melemah karena banyak pasukannya yang gugur dalam pertempuran.

Pocut Baren Tertangkap

Setelah serdadu Belanda diperkuat dan didatangkan bala bantuan dari Batavia (Jakarta), maka penyerbuan terhadap benteng pertahanan Pocut Baren di Gunong Mancangpun dimulai secara besar-besaran. Pasukan Belanda dipimpin sendiri oleh Letnan Hoogers berusaha menggempur benteng pertahanan Pocut Baren dengan dahsyatnya. Sebaliknya, pasukan Pocut Baren berusaha mempertahankan benteng Mancang itu dengan gigihnya. Namun demikian, seperti kata pepatah "malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih", Pocut Baren tertembak oleh pasukan musuh dengan luka yang cukup parah. Dengan luka dikakinya itulah maka Pocut Baren berhasil ditangkap serdadu Belanda. Kemudian ia dibawa ke Meulaboh sebagai tawanan perang. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1910 yang menandai berakhimya perlawanan seorang pejuang wanita asal Tungkop, Aceh Barat. (Zentgraaff, 1982/1983 : 138; Doup, 1940 : 204).
Luka dikakinya semakin parah, sehingga sulit untuk dapat disembuhkan. Upaya untuk menyembuhkan harus dilakukan oleh tim dokter Belanda yang berada di Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Untuk proses pengobatan itu, maka Pocut Baren diboyong ke Kutaraja. Mengingat lukanya yang sudah parah, maka tim dokter yang merawatnya terpaksa melakukan amputasi, kaki Pocut Baren dipotong. Wanita itu dengan tegar menerima kenyataan pahit yang harus dihadapinya. Selama berada di Kutaraja, Pocut Baren diperlakukan sebagaimana layaknya seorang tawanan perang dan seorang uleebalang. Masa-masa berada di tahanan Belanda, merupakan masa penantian yang dirasakan amat panjang dan menyiksa batinnya. Van Daalen yang menjabat Gubernur Militer Aceh dan daerah takluknya, menjatuhkan hukuman buang ke Pulau Jawa. Mengetahui hukuman itu, seorang perwira penghubung bangsa Belanda, T.J. Veltman menyampaikan saran kepada Gubernur Militer yang bersangkutan agar Pocut Baren jangan dibuang ke Pulau Jawa, tetapi dikembalikan saja ke daerah asalnya sebagai uleebalang di daerah Tungkop.
Dengan diangkatnya Pocut Baren sebagai uleebalang di Tungkop, diharapkan perlawanan rakyat di daerah tersebut dapat dihentikan. Saran tersebut akhirnya diterima oleh Van Daalen. Dengan kembalinya Pocut Baren ke daerah asalnya sebagai uleebalang Tungkop, maka berakhirlah perlawanan total wanita itu. Pahlawan yang sangat menyulitkan Pemerintah Kolonial Belanda seperti yang terbukti dari sejumlah nama pemimpin pasukan patroli Belanda yang mendapat tugas untuk memburunya. Hal tersebut diakuii sendiri oleh Doup: "Para pemimpin patroli pemburu Pocut Baren adalah tokoh-tokoh Belanda yang terkemuka dan terkenal amat berpengalaman dalam pertempuran. Hal ini menunjukkan bahwa wanita itu memang dianggap sebagai lawan tangguh bagi Belanda. Mereka itu antara lain adalah Letnan J.H.C. Vastenon, Letnan O.O. Brewer, Letnan W. Hogers, Kapten T.J. Veltman, Kapten A. Geersema Beckerrigh, Kapten F. Daarlang, Letnan A.H. Beanewitz, Letnan H.J. Kniper, Sersan Teutelink, Sersan van Daalen, Sersan Bron, Letnan C.A. Reumpol, Letnan W.v.d. Vlerk, Letnan W.L. Kramers, Letnan H. Scheurleer, Letnan Romswinkel, Sersan Duyts, Sersan de Jong, Sersan Gackenstaetter dan lain-lain, Gubemur Sipil dan Militer Van Daalen telah merubah status hukuman Pocut Baren sesuai dengan saran T.J. Veltman. Dengan pengubahan itu maka wanita itu dapat kembali ke daerahnya menjadi Uleebalang Tungkop.
Setelah dinyatakan sembuh dari lukanya dan diyakini tidak akan melakukan perlawanan lagi, Pocut Baren dikirim ke Tungkop. Veltman telah memberikan jasa baiknya kepada wanita pejuang itu. la pula yang mengusulkan agar Pocut Baren diangkat menjadi uleebalang Tungkop dan dipercaya untuk membangun daerahnya yang porak poranda sebagai akibat adanya peperangan yang berlarut-larut. Veltman yang fasih berbahasa Aceh berusaha melakukan kontak yang terus-menerus dengan wanita itu, sehingga ia dapat membuat laporan keadaan mengenai perubahan yang terjadi mengenai diri wanita itu. Apalagi ia adalah seorang wanita yang jujur dan suka berterus terang, suatu sikap yang amat dihargai oleh Veltman.

Membangun Perekonomian Rakyat

Kejujuran dan keterbukaannya mengingatkan kita pada Pocut Baren sebagai seorang wanita pejuang yang dapat menghormati musuhnya ia mengambil manfaat itu untuk menyelamatkan rakyatnya. Selain pemberani, ulet dan suka berterus terang, Pocut Baren juga seorang wanita yang sangat cerdas. Kecerdasannya ia buktikan dalam pelaksanaan pekerjaannya sebagai seorang uleebalang. Perjuangan secara fisik dalam menentang Belanda telah diakhirinya. Walaupun demikian, ia tetap berjuang untuk kesejahteraan rakyatnya dengan cara membangun kembaii negerinya menjadi sebuah negeri yang makmur. Untuk itu ia mengajak seluruh rakyatnya agar mau bekerja keras.
Selama masa perjuangan melawan Belanda, perekonomian masyarakat mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena sawah ladang para petani dibiarkan terbengkalai menjadi lahan tidur. Sebagian besar penduduk terlibat dalam perang melawan Belanda, sehingga waktu untuk bekerja di sawah dan berternak maupun menangkap ikan menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan munculnya banyak kemiskinan dan bencana kekurangan pangan. Untuk memperbaiki kehancuran ekonomi rakyat di daerah Tungkop tersebut, Pocut Baren berjuang keras agar masalah ekonomi rakyat yang hancur tersebut dapat segera diatasi. Sebagai seorang uleebalang, Pocut Baren ternyata juga cakap dalam bidang pertanian dan pemerintahan desa. Dengan ketrampilannya di ladang pertanian dan pemerintahan tersebut, ia memimpin rakyatnya agar secara bersama-sama membangun desanya.
Sawah-ladang para petani yang semula ditinggalkan diusahakan kembali agar tidak ada satupun di antaranya yang terbengkalai. Kebun-kebun penduduk harus ditanami dengan pepohonan yang dapat memberikan hasil pada pemiliknya. Untuk itu muncul gerakan penghijauan dengan menanam tanaman pangan, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman keras lainnya. Dengan mendapatkan pembinaan dari seorang uleebalang wanita, masyarakat menanami kebunnya dengan tanaman kelapa, pala, kakau, cengkih, nilam, mangga, pisang, jagung dan lain-lain tanaman yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Dalam bidang pengairan untuk mengairi sawah-sawah milik para petani, Pocut Baren menggerakkan rakyatnya untuk membangun saluran irigasi yang airnya dialirkan dari sungai-sungai besar ke sawah-sawah penduduk, sehingga pada musim kemarau sawah-ladang milik petani tidak akan kekeringan. Untuk menghindarkan perselishan di antara para petani, maka perlu diadakan pembagian air secara bergilir. Untuk menghindarkan serangan hama dan penyakit tanaman, Pocut Baren menyarankan agar para Petam menanam padi secara serempak, sehingga siklus kehidupan hama dapat diputus. Agar hasil panen lebih memuaskan, maka perlu adanya perbaikan cara bercocok tanam yang benar. Pocut Baren juga memperkenalkan sistem Panca Usaha Tani kepada masyarakat.
Panca usaha tani tersebut yaitu : (1) Melakukan pengolahann tanah secara baik dan benar, dengan memanfaatkan tenaga kerbau dan sapi untuk membajak sawah. (2) Cara menyemaikan bibit padi yang benar, dengan memilih padi lokal jenis unggul; (3) Melakukan pemberantasan hama secara bersama-sama, dengan memanfaatkan predator. Yang dimaksud predator di sini yaitu hewan yang memangsa hewan lain yang menjadi hama tanaman; (4) Memberikan pupuk dengan dosis yang tepat pada tanaman padi. Adapun pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan kompos atau pupuk organik; dan (5) Mengairi sawah sesuai dengan kebutuhan tanaman padi. Setelah masa panen para petani juga disarankan agar memanen padinya dengan baik dan benar. Untuk menyimpan hasil panen, perlu dibuatkan tempat penyimpanan padi (lumbung).
Jika ada anggota masyarakat yang malas bekerja, ia tidak segan-segan untuk menegurnya. Untuk itu ia bekerja keras untuk mengabdi pada rakyatnya. Buah usahanya yang keras, ulet dan tak mengenal lelah itu, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Beberapa tahun setelah Pocut Baren
membina desanya, hasilnya mulai kelihatan. Secara berangsur-angsur kehidupan rakyatnya yang tadinya sangat menderita, mulai membaik. Perekonomian rakyat mulai bergairah kembali. Berkat kepemimpinannya sebagai seorang uleebalang wanita, Tungkop menjadi daerah yang aman, tentram dan makmur. Ketika musim panen tiba, daerah Tungkop mengalami surplus produksi pertanian sehingga hasilnya dapat dikirim ke daerah lain yang membutuhkan.
Perubahan yang menyolok dari daerah miskin yang rawan pemberontakan menjadi daerah yang aman dan makmur membuat pemerintah Belanda yang membawahi daerah tersebut menjadi gembira. Hal ini ditunjukkan dengan adanya laporan Letnan H. Scheurleer, Komandan Bivak Tanoh Mirah yang juga merangkap penguasa sipil. la melaporkan kepada atasannya di Kutaraja bahwa Pocut Baren telah berusaha dengan sungguh-sungguh menciptakan ketertiban, keamanan dan kemakmuran. (Zentgraaf, 1982/1983 : 139). Sebagai tanda terima kasihnya, Veltman sekali lagi memperlihatkan kebaikan hatinya kepada Pocut Baren. Ia menghadiahkan sebuah kaki palsu yang di buat dari kayu untuk wanita itu. Kaki palsu tersebut didatangkan langsung dari negeri Belanda.
Setelah memakai kaki palsu pemberian dari Veltman, Pocut Baren mendapat julukan sebagai "De Vrouwelijke Oeleebalang methet houten been" (Doup, 1940 : 204; Zentgraaff; 1982/1983 : 138-139). Keberhasilannya dalam membangun perekonomian rakyat dan memantapkan keamanan dan ketertiban di daerahnya menunjukkan bahwa Pocut Baren bukan hanya seorang pejuang dan pemimpin rakyat, tetapi juga seorang yang ahli dalam bidang agronomi.

Sebagai Penyair

Pocut Baren yang lahir sebagai anak bangsawan ternyata mempunyai banyak bakat alam. Di samping ia sebagai seorang pejuang yang tangguh, ahli dalam bidang pemerintahan agronomi, ternyata ia juga ahli dalam bidang kesenian dan kesusastraan Aceh. Pada saat-saat tertentu syair-syaimya sering dibacakan atau dilantunkan di depan publik. Keahliannya dalam bidang kesusastraan dan kesenian Aceh tidak mengherankan karena di dalam tubuhnya mengalir darah seni yang kental. Pada saat-saat istirahat dari kesibukannya sebagai pemimpin pemerintahan, ia merenungkan kembali peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Di saat-saat demikian darah pujangganya mengalir dengan deras. Kenangan-kenangan masa lalunya ia tuangkan dalam bentuk pantun dan syair. Telah banyak pantun dan syairnya yang ditulisnya dalam bahasa Aceh dan huruf Melayu Arab. Oleh para penulis Belanda, karya sastranya banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan disimpan di perpustakaan Universitas Leiden di Nederland. Oleh masyarakat Aceh sendiri, karya sastranya juga telah banyak dilantunkan pada waktu-waktu tertentu dan acara-acara yang memungkinkan untuk dibacakan. Bahkan telah banyak orang yang mampu menghafal buah karyanya dan ia dendangkan pada saat-sat senggang atau pada acara keluarga. Hasil karya sastranya sampai saat ini masih banyak orang yang melantunkamya. Adapun salah satu contoh penggalan syairya yang tertuang dalam bahasa Aceh sebagai berikut :
Ie Krueng Woyla ceukoe likat
Engkot jilumpat jisangka ie tuba
Seungap di yub seungap di rambat
Meurubok Barat buka suara
Bukon sayang itek di kapai
Jitimoh bulee ka si on sapeue
Bukon sayang bilek ku tinggai
Teumpat ku tido siang dan malam (Zentgraaff, 1982/1983 : 140-141).

Syair tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira sebagai berikut :
Sungai Woyla keruh pekat
Ikan melompat dikira racun tuba
Sunyi di kolong, senyap di rambat (sebutan untuk ruang antara dapur dan rumah utama)
Meureubok (sejenis burung berkicau) barat buka suara
Aduhai sayang itik di kapal
Bulunya tumbuh aneka wama
Tinggallah engkau bilikku sayang
Tempat peraduanku siang dan malam. 

Keberhasilannya dalam membangun perekonomian rakyat dan kepiawaiannya dalam memimpin serta bakatnya di bidang kesusastraan Aceh membuat rakyatnya mencintai Pocut Baren. Apalagi syair-syair yang diciptakannya sangat digemari oleh masyarakat luas. Betapapun besarnya cinta yang dimiliki rakyatnya, tak akan mampu melawan takdir. Pada suatu saat orang pasti akan mati, meninggalkan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Setelah saatnya tiba, Pocut Baren akhirnya meninggal pada tahun 1933, meninggalkan rakyatnya untuk selama-lamanya. (Zentgraaff, 1982/1983 : 142). 

Sumber/Diundah dari : Aceh Pedia