Home » » Pendidikan Kita yang Keliru

Pendidikan Kita yang Keliru

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Opini Harian Serambi Indonesia

Oleh Tgk T. Zulkhairi

PENDIDIKAN alat pembebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan, baik bersifat kebodohan sampai ketertinggalan dalam berbagai aspek lainnya (Paulo Freire). Pada dasarnya, pendidikan adalah gerbang bagi manusia yang ingin berpikir mencari kebenaran. Gerbang yang menjadi stimulus bagi manusia. Dari sinilah seorang pelajar yang bercita-cita pada ilmu dan bukan pada ijazah/gelar perlu mengetahui makna pendidikan.

Selama ini banyak yang salah paham, keliru, bahkan salah kaprah mengenai orientasi dari peoses pendidikan. Banyak pelajar berangapan bahwa pendidikan menjadi tempat sekedar meraih gelar atau ijazah, sebagai syarat untuk bekerja mendapatkan materi. Pemahaman yang keliru telah menjadi kebiasaan dan membentuk karakter serta paradigma berpikir sebagian pelajar kita. Gelar ataupun ijazah seolah-olah menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan mereka. Banyak orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya hanya demi memperoleh gelar atau sebagai prestise saja. Hasil akhir dari pendidikan yang demikian akan berdampak pada penyelewengan ilmu. Nilai kuantitaif dijadikan lebih tinggi dari ilmunya.

Kekeliruan paradigma berpikir atas pendidikan, maka lahirlah berbagai bentuk tatanan penyimpangan bahkan jauh dari nilai agama. Muncul sikap kapitalistik, perilaku politik oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistik. Semua itu telah menghasilkan kenestapaan berkepanjangan yang terus saja mendera bangsa ini. Bahwa tatanan ekonomi yang terbentuk melalui sebuah proses pendidikan yang berorientasi materi(gelar/ijazah) jelas-jelas tidak akan pernah bisa menghasilakan satu perubahan yang memihak rakyat kecuali hanya menguntungkan pihak-pihak bermodal. Begitu juga politisi yang lahir dari proses pendidikan seperti itu, cenderung hanya menggunakan jabatannya sebagai sarana untuk memperkaya diri. Dan sekarang sedang kita rasakan. Ketika rakyat berteriak dan merintih agar mereka diperhatikan dengan layak, namun balasan yang diterima cenderung menyakitkan, aneka lelucon memuakkan diperagakan para elit kita sebagai jawaban dari tuntutan rakyat, berdebat soal kenaikan gaji ditengah-tengah kondisi masyarakat yang melarat, melancong ke luar negeri dengan uang rakyat, dan anehnya semua itu diperagakan tanpa ada rasa malu sedikitpun, seolah jabatan itu diperoleh tanpa memerlukan dukungan dari rakyat banyak.

Produk pendidikan yang keliru juga telah menghadirkan budaya hedonistic dan nilai social individualistic. Orientasi pendidikan yang keliru telah pula menciptakan guru-guru yang materialistis, hanya menganggap proses mengajar sebagai ajang untuk mencari materi, sehingga terjadinya berbagai bentuk pelanggaran etika pengajaran yang hanya bertumpu pada proses mentransfer ilmu pengetahuan(transfer of knowladge) saja tanpa menghiraukan urgennya transfer of personality (kepribadian), karena memang ia tidak memiliki hal tersebut.

Titel balon
Saya teringat nasihat seorang dosen yang sekilas agak lucu. Katanya, “jangan jadi doktor balon”. Maksud ungkapan beliau itu adalah pelajar yang merasa puas dikala hanya mendapatkan gelar doktor tanpa memikirkan kualitas dari gelar yang telah diraihnya, puas dengan hanya satu bidang ilmu yang digeluti, serta dengan perasaan tidak butuh pada ilmu-ilmu lain bahkan setelah dapat gelar doktor atau magister dia berhenti menelaah serta mengkaji ilmu-ilmu yang telah Allah swt berikan kepada manusia. Alquran pun sudah jarang atau bahkan tidak pernah ada waktu untuk membacanya lagi, apalagi mentadabburi esensinya.

Jika kita kaitkan dengan realita saat ini yang telah banyak menghasilkan para doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, dan begitu banyak beasiswa diberikan, mereka hanya magister atau doktor balon. Kita amati saja, banyak doktor/magister hukum yang mempermainkan hukum, menjadi pembela bagi pelaku kejahatan.Atau doktor/magister di bidang kesehatan yang menjadikan rumah sakit sebagai tempat pameran orang sakit, doktor teknik yang menjadikan keahliaannya hanya untuk membagun rumah dan perusahaan milik pribadi dan terdekatnya saja; doktor di bidang agama yang menjadikan kitab hanya sebagai hiasan rumah dan latar belakang saat difoto oleh wartawan yang mewawancarainya, magister atau doktor yang menjadi fasilitator orang-orang fasiq di sekitarnya, doktor di bidang budaya yang sudah malu menjaga budaya Islamnya bahkan ikut membudidayakan perternakan budaya lain yang menyimpang dari ajaran Islam, doktor di bidang pemikiran yang meragukan ayat-ayat Alquran, atau banyak doktor atau magister dari berbagai bidang disiplin ilmu lainnya apaila kita melihat perilaku mereka maka sungguh memilukan dan mengecewakan hati kita.

Kenapa itu terjadi? Karena paradigm yang menjadi pendidikan dengan tujuan yang keliru. Saatnya perlu mengoptimalisasi dengan mengembalikan ruh pendidikan dalam proses pembentukan kepribadian yang Islami (syakhsiyyah Islamiyyah). Bagaimana menumbuhkan sikap para penuntut ilmu agar perilakunya benar-benar tercermin sebagai seorang yang memiliki ilmu yang diwujudkan dalam pengamalan. Sepatutnya bagi semua pegiat dan pelaksana pendidikan di Aceh khusunya, mengubah paradigma berpikir bahwa pendidikan benar-benar menjadi wahana memanusiakan manusia. Wallahu a’lam bishshawab.

* Penulis adalah pemerhati pendidikan, alumnus MAN 1 Matangkuli Aceh Utara.

Sumber
dari http://www.serambinews.com/news/pendidikan-kita-yang-keliru


0 comments:

Post a Comment