Home » » Konsep Pendidikan Dayah

Konsep Pendidikan Dayah

Publish Oleh: Muntadhar Aneuk Lueng Daneun

Tulisan:  Mukhlisuddin Ilyas*

Istilah “dayah” pernah diucapkan oleh masyarakat Aceh Besar dengan sebutan deyah yang diperoleh dari Bahasa Arab, zawiyah yang berarti sudut yang diyakini oleh masyarakat Aceh pertama sekali digunakan untuk sudut mesjid Madinah di mana Nabi Muhammad pernah mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para sahabat (Amiruddin, 1994: 41).

Dalam kontek Indonesia, dayah disebut pondok pesantren, untuk memberi makna pondok pesantren kita harus melihat makna perkataannya. Kata pondok berarti tempat yang dipakai untuk makan dan istirahat. Istilah pondok dalam konteks dunia pesantren berasal dari pengertian asrama-asrama bagi para santri. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri (Dhofier 1985:18). Maka pondok pesantren adalah asrama tempat tinggal para santri. Menurut Wahid (2001:171) “Pondok pesantren mirip dengan akademi militer atau biara (monestory, convent) dalam arti bahwa mereka yang berada di sana mengalami suatu kondisi totalitas”.

Sekarang di Indonesia ada ribuan lembaga pendidikan Islam terletak diseluruh nusantara dan di Aceh dikenal sebagai dayah dan rangkang, surau di Sumatra Barat, dan pondok pesantren di Jawa (Azra, 2001:70). Pondok pesantren di Jawa itu membentuk banyak macam-macam jenis. Perbedaan jenis-jenis pondok pesantren di Jawa dapat dilihat dari segi ilmu yang diajarkan, jumlah santri, pola kepemimpinan atau perkembangan ilmu teknologi. Namun demikian, ada unsur-unsur pokok pesantren yang harus dimiliki setiap pondok pesantren. Menurut Hasyim, (1998:39) Unsur-unsur pokok pesantren, yaitu kyai, masjid, santri, pondok dan kitab Islam klasik (kitab kuning), adalah elemen unik yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.



Tujuan Pendidikan Dayah
Tujuan pendidikan Dayah adalah untuk menjaga kebutuhan masyarakat dalam bidang studi keagamaan, dan dalam upaya untuk mengendalikan gejala-gejala negatif yang tidak diinginkan. Peran lembaga Dayah juga dapat dijadikan rujukan masyarakat dan elit sosial dalam memberikan masukan dalama kehidupan sosial kemasyarakat.

Secara antropologis, lembaga pendidikan Dayah lahir dari proses kebiasaan-kebiasaan yang sering terjadi di lingkungan sosial kemasyarakat, kebiasan-kebiasan yang baik menurut agama Islam di praktikkan oleh individu dan kelompok masyarakat serta akhirnya menjadi norma yang ditaati dan dipatuhi oleh anggota masyarakat (Gidens dan Held, 1987:46).

Lembaga pendidikan Dayah dalam masyarakat merupakan sebuah cita-cita, sikap dan perlengkapan kebudayaan, bersifat kekal serta bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar lebih teratur dan tertib. Keberadaan lembaga pendidikan dalam masyarakat merupakan suatu komunitas untuk menjaga kestabilan suatu sistem masyarakat yang sedang didiaminya.

Pada sisi lain, lembaga pendidikan Dayah dapat di monitoring oleh elit sosial atau yang sering disebut dengan ulama Dayah. Tujuan pendidikan Dayah dapat berfungsi untuk memenuhi kebutuhan primer dari setiap individu suatu masyarakat. Jadi tujuan pendidikan Dayah dalam masyarakat di samping berperan sebagai media kontrol dalam lingkungan masyarakat, juga sebagai tuntutan dan penjelmaan dari tingkah laku, serta sikap masyarakat sebagai salah satu sub sistem dari kelompok masyarakat guna menjaga kemandirian, kebiasaan yang berfungsi untuk menjadikan agama Islam sebagai pegangan kehidupannya.

Konsep Pendidikan DayahDayah adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang terdapat di Provinsi Aceh. Nama ini berbeda jauh dangan sebutan pesantren, walau karakternya hampir sama. Lembaga pendidikan ini sama halnya dengan Pesantren yang ada di pulau Jawa baik dari aspek fungsi maupun tujuannya, kendatipun di sana terdapat beberapa perbedaan yang subtansial. Di antara perbedaan itu, seperti dilihat di Jawa Timur ialah bahwa pesantren itu merupakan satu tempat yang dipersiapkan untuk memberikan pendidikan agama, sejak dari tingkat rendah sampai ke tingkat belajar lebih lanjut (Saleh, 1964: 11). Sedangkan di Aceh, Dayah adalah tempat belajar agama bagi orang-orang yang telah dewasa saja. Pendidikan agama untuk anak-anak diberikan di meunasah atau di rumah-rumah guru (Hasjmy, 1990:192). Namun pada masa saat ini, proses pendidikan Dayah di Aceh sudah dikatagorikan kedalam dua bentuk, yaitu bentuk Dayah Modern dan Dayah Tradisional (salafi).

Dalam Perda No. 6 tahun 2000 tentang penyelenggaraan Pendidikan pasal 1 ayat 17 disebutkan bahwa Dayah adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan Islam dengan sistem pondok/rangkang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah, Yayasan/perorangan yang dipimpin oleh Ulama Dayah. Pasal 15 ayat 3 disebutkan pula bahwa Pemerintah berkewajiban membina dan mengawasi kegiatan pendidikan Dayah.

Qanun No 23 tahun 2002 penyelenggaraan pendidikan di NAD pada pasal 16, ayat 1 disebutkan bahwa Dayah/pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dengan sistem Pondok/rangkang yang dipimpin oleh ulama, diselenggarakan oleh yayasan, badan sosial, perorangan, dan atau pemerintah. Dan ayat 2 juga menyebutkan bahwa pendidikan Dayah/pesantren terdiri atas Dayah Salafiyah yang tidak menyelenggarakan sistem program pendidikan madrasah, dan Dayah Terpadu yang menyelenggarakan sistem program pendidikan madrasah dalam berbagai jenjang.Dayah Modern dan Dayah Tradisional berada dalam sebuah komplek yang memiliki gedung-gedung selain dari asrama santri dan rumah Teungku, gedung madrasah, lapangan olah raga, kantin, koperasi, lahan pertanian dan/atau lahan pertenakan. Kadang-kadang bangunan pondok didirikan sendiri oleh Teungku dan kadang-kadang oleh penduduk desa yang bekerja sama untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan.

Kemudian secara normatif ada beberapa unsur komponen pendidikan Dayah di Aceh, yaitu adanya Teungku, Mesjid, Murid, Metode, Kurikulum. Secara umum, orientasi pendidikan Islam meliputi; orientasi pada pelestarian nilai, orientasi pada kebutuhan sosial, orientasi pada tenaga kerja, orientasi pada peserta didik, orientasi pada masa depan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dayah Hilang Identitas
Akhirnya dalam rentan waktu 10 tahun belakangan ini. Tepatnya sejak Pemda Aceh mengeluarkan regulasinya tentang dayah sejak tahun 1999. Mengakibatkan pertumbuhan dayah di Aceh bukan berdasarkan kebutuhan masyarakat (people need), melainkan kebutuhan individu (individual need).

Pendidikan Dayah yang secara historis dibangun dan dikembangkan oleh masyarakat melalui pendekatan community based, kini terkesan menjadi lembaga pendidikan elit sejak Pemprov NAD mengeluarkan regulasi terhadap pendidikan di dayah. Pendidikan Dayah sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan agama di Aceh, kini sudah hilang identitas.

Dampak yang paling tragis dari intervensi Pemprov NAD terhadap proses pendidikan dayah adalah hilangnya sikap sosial dari masyarakat sekitar untuk membantu eksistensi proses belajar mengajar sebuah Dayah. Masyarakat tidak peduli dengan sistem yang diimplimentasi pendidikan di dayah, karena dayah sudah menjadi wilayah birokrasi Pemda NAD. Serta pudarnya rasa memiliki bahwa dayah itu milik masyarakat, karena Pemerintah sudah mengeluarkan regulasi bahwa semua dayah itu harus memiliki landasan hukum (akte notaris). Hilangnya rasa kepemilikan (sense of belonging) masyarakat sekitar terhadap proses pendidikan di Dayah, karena sepertinya ada sebuah pembatas antara Dayah yang wajib bersikap birokratis dan formalitas dengan sikap masyarakat yang cenderung apa adanya

Dengan adanya intervensi Pemda terhadap dayah, maka aksesibilitas masyarakat secara otomatis berkurang. Pasalnya, di satu sisi Pemda NAD telah membuka peluang untuk meningkatkan SDM di Dayah dan menambah sarana prasarana melalui dana APBD, namun di sisi lain Pemda tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat sekitar Dayah dalam membangun Dayah. Karena tidak melibatkan masyarakat dalam membangun Dayah dewasa ini.

Satu hal yang sangat penting yang menjadi rekomendasi saya kepada Pemerintah Irwandi-Nazar adalah diperlukan pemahaman yang sama tentang institusi pendidikan di Aceh. Sebab, menurut pengalaman empiris saya selama ini, pendidikan Islam pada tataran kecamatan dan desa di Aceh dilangsungkan dalam dalam 4 model lembaga pendidikan, yaitu pendidikan dayah salafi (tradisional), pendidikan dayah modern, pendidikan Panti Asuhan dan pendidikan dayah berbasis panti asuhan.

Untuk mengembalikan Dayah kepada “jalan yang benar”, langkah yang diperlukan oleh pemerintah daerah adalah melakukan intervensi yang komprehensif sesama SKPD. Supaya bantuan yang disalurkan harus tepat sasaran. Bukan malah membangun dayah untuk mendapatkan keuntungan. Semoga tidak.

* Penulis adalah Alumnus S2 Manajemen Pendidikan UKS, dengan judul Tesis Kebijakan PEMDA NAD Dalam Implimentasi Pendidikan Dayah di Aceh. Dan juga Owner BANDAR Publihing, Banda Aceh


0 comments:

Post a Comment